Headline.co.id, Jakarta ~ Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) terus berupaya meningkatkan akses pendidikan dengan memperkuat pembelajaran di satuan pendidikan nonformal. Di Kabupaten Cianjur, penggunaan Papan Interaktif Digital (PID) di PAUD Kunang-Kunang dan PKBM Bhayangkara menjadi contoh nyata pemanfaatan teknologi untuk menciptakan pengalaman belajar yang lebih menarik dan inklusif bagi anak usia dini.
PAUD Kunang-Kunang dan PKBM Bhayangkara melayani anak-anak serta remaja dari keluarga petani penggarap di lingkungan Batulawang. Anak-anak berusia lima hingga tujuh tahun mengikuti pendidikan dasar di PAUD, sementara peserta didik PKBM yang berusia 17 hingga 20 tahun tetap dapat mengakses pendidikan di sela-sela aktivitas membantu orang tua. Kondisi ini menuntut pendekatan pembelajaran yang adaptif dan relevan dengan kebutuhan peserta didik.
Sri Ningsih, pengelola PKBM Bhayangkara dan PAUD Kunang-Kunang, menyatakan bahwa keberlanjutan proses belajar menjadi prioritas utama meskipun ada keterbatasan sarana. Dukungan digitalisasi pembelajaran melalui PID diharapkan dapat memperkaya metode belajar dan meningkatkan motivasi anak-anak. “Dengan Papan Interaktif Digital, suasana belajar menjadi lebih variatif. Anak-anak lebih antusias, materi bisa disampaikan dengan cara yang lebih menarik. Kami berharap ini berdampak pada kualitas pembelajaran dan masa depan mereka,” ujar Sri Ningsih dalam keterangan tertulis yang diterima , Kamis (5/2/2026).
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti, yang meninjau langsung pemanfaatan PID di PAUD Kunang-Kunang, menegaskan bahwa penguatan pendidikan tidak hanya bertumpu pada sekolah formal. Pemerintah, kata dia, mendorong sistem belajar yang lebih luas agar pendidikan dapat diakses oleh seluruh lapisan masyarakat. “Kami memperkuat pendidikan tidak hanya melalui sistem sekolah (schooling), tetapi juga sistem belajar (learning). Pendidikan harus hadir di lembaga nonformal dan informal agar aksesnya semakin merata,” ujar Abdul Mu’ti.
Dalam kunjungan tersebut, Mendikdasmen berinteraksi langsung dengan murid dan guru, mencoba PID bersama anak-anak melalui kegiatan menulis, menggambar, dan mewarnai. Pendekatan ini mencerminkan upaya menghadirkan pembelajaran yang menyenangkan sekaligus relevan dengan perkembangan anak usia dini. Abdul Mu’ti menekankan bahwa usia dini merupakan fase emas perkembangan anak. Oleh karena itu, lingkungan belajar di rumah, sekolah, dan masyarakat harus dibangun secara aman, nyaman, serta bebas dari kekerasan dan perundungan. “Kalau sejak kecil cara belajarnya tidak tepat, akan sulit membentuk perkembangan berikutnya. Pendidikan di semua lingkungan harus saling menguatkan,” tegasnya.
Melalui penguatan pendidikan formal, nonformal, dan informal secara beriringan, Kemendikdasmen menargetkan pemerataan akses pendidikan yang tidak hanya menjangkau sekolah konvensional, tetapi juga komunitas belajar di daerah. Digitalisasi pembelajaran, seperti pemanfaatan Papan Interaktif Digital, diharapkan menjadi pengungkit kualitas pendidikan sejak usia dini sekaligus memastikan setiap anak Indonesia memperoleh pengalaman belajar yang setara dan bermakna.




















