Headline.co.id, Jakarta ~ Waktu dhuha disebut sebagai waktu yang sangat istimewa dalam Islam karena Allah SWT bersumpah atas nama waktu tersebut dalam Al-Qur’an. Dzikir setelah sholat dhuha memohon kelapangan rezeki diyakini menjadi wasilah terbukanya jalan penghidupan bagi umat Islam yang konsisten mengamalkannya. Kajian fiqih dan hisab ilmu falak menegaskan bahwa sholat dhuha tidak hanya bernilai ibadah sunnah, tetapi juga berkaitan erat dengan pemenuhan kebutuhan hidup dan konsep sedekah. Amalan ini dilakukan setelah matahari terbit hingga menjelang waktu zuhur sesuai ketentuan ulama.
Kajian Jurnal tentang Keutamaan Sholat Dhuha
Dalam jurnal Studi Waktu Dhuha dalam Perspektif Fiqih dan Hisab Ilmu Falak karya Abd. Karim Faiz dkk., disebutkan beberapa dalil kuat yang menunjukkan keutamaan sholat dhuha dalam kaitannya dengan kecukupan rezeki. Hadits dari Abu Darda’ dan Abu Dzar r.a. menyampaikan firman Allah SWT dalam hadits qudsi bahwa Allah menjamin rezeki anak Adam.
Bunyi hadits tersebut menyatakan bahwa Allah SWT mencukupi kebutuhan hamba-Nya yang melaksanakan sholat dhuha empat rakaat di awal siang. Para ulama memaknai kecukupan ini sebagai perlindungan, kemudahan, dan pemenuhan kebutuhan hidup.
Pandangan Ulama tentang Keberkahan Rezeki
Sayyid Bakri bin Sayyid Muhammad Syatha Ad-Dimyathi dalam kitab I’anatut Thalibin menjelaskan bahwa keberkahan rezeki tidak hanya diukur dari jumlah material yang diperoleh, tetapi juga dari ketenangan jiwa serta kemudahan dalam menjalankan ketaatan. Menurutnya, doa, dzikir, dan konsistensi sholat dhuha menjadi wasilah hadirnya keberkahan hidup yang menyeluruh.
Pandangan ini memperkuat pemahaman bahwa dzikir setelah sholat dhuha tidak hanya berorientasi pada aspek ekonomi, tetapi juga pada kualitas spiritual dan kestabilan batin.
Dalil Sedekah dalam Sholat Dhuha
Dalam buku Berkah Shalat Dhuha disebutkan sabda Rasulullah SAW yang diriwayatkan Muslim dari Abu Dzar r.a.:
“Setiap ruas dari anggota tubuh di antara kalian pada pagi hari, harus dikeluarkan sedekahnya. Setiap tasbih adalah sedekah, setiap tahmid adalah sedekah, setiap tahlil adalah sedekah, setiap takbir adalah sedekah, menyuruh kebaikan adalah sedekah, dan mencegah kemungkaran adalah sedekah. Dan semua itu dapat disepadankan dengan mengerjakan shalat Dhuha dua rakaat.”
Hadits ini menunjukkan bahwa sholat dhuha memiliki nilai sedekah yang mencakup seluruh anggota tubuh manusia.
Bacaan Dzikir Setelah Sholat Dhuha
Sebelum membaca doa, umat Islam dianjurkan memperbanyak dzikir setelah sholat dhuha untuk menyempurnakan ibadah sunnah tersebut. Bacaan dzikir yang dianjurkan antara lain:
Istighfar sebanyak 33 kali
Astaghfirullaahal ‘adziim
Artinya: Ampunilah aku Ya Allah, Dzat Yang Maha Agung.
Membaca surat Al-Ikhlas sebanyak tiga kali.
Membaca surat Al-Falaq sebanyak tiga kali.
Membaca surat An-Naas sebanyak tiga kali.
Tasbih sebanyak 33 kali
Subhanallah
Artinya: Maha Suci Allah.
Tahmid sebanyak 33 kali
Alhamdulillah
Artinya: Segala puji hanya bagi Allah.
Takbir sebanyak 33 kali
Allaahu akbar
Artinya: Allah Dzat Yang Maha Besar.
Tahlil
Laa ilaaha illallaahu
Artinya: Tidak ada Tuhan selain Allah.
Doa Setelah Sholat Dhuha Menurut Kitab Fiqih
Dalam kitab-kitab fiqih disebutkan bahwa tidak ada doa khusus yang secara langsung diajarkan Rasulullah SAW setelah sholat dhuha. Namun, mengutip Buku Kumpulan Doa Sehari-Hari Kementerian Agama RI tahun 2013, terdapat satu doa yang populer diamalkan oleh kaum Muslimin. Doa ini dicantumkan oleh Asy-Syarwani dalam Syarh Al Minhaj dan disebutkan pula oleh Ad-Dimyathi dalam I’anatuth Thalibiin.
اللّٰهُمَّ اِ نَّ الضُّحَآ ءَ ضُحَاءُكَ وَالْبَهَاء َ بَهَاءُكَ وَالْجَمَالَ جَمَالُكَ وَ َالْقُوَّةَ قُوَّتُكَ وَ الْقُدْرَةَ قُدْرَتُكَ وَ َالْعِصْمَةَ عِصْمَتُكَ
اَللّٰهُمَّ اِنْ كَانَ رِزْقِى فِى السَّمَآءِ فَأَنْزِلْهُ وَاِنْ كَانَ فِى اْلاَرْضِ فَأَخْرِجْهُ وَاِنْ كَانَ مُعَسَّرًا فَيَسِّرْهُ وَاِنْ كَانَ حَرَامًا فَطَهِّرْهُ وَاِنْ كَانَ بَعِيْدًا فَقَرِّبْهُ
Latin: Allahumma innadhdhuha-a dhuha-uka, walbahaa-a bahaa-uka, wal jamaala jamaaluka, wal quwwata quwwatuka, wal qudrata qudratuka…
Artinya: “Ya Allah, sesungguhnya waktu dhuha adalah waktu dhuha-Mu, keagungan adalah keagungan-Mu, keindahan adalah keindahan-Mu, kekuatan adalah kekuatan-Mu. Apabila rezekiku berada di langit maka turunkanlah, apabila berada di bumi maka keluarkanlah, apabila sukar mudahkanlah, apabila haram sucikanlah, dan apabila jauh dekatkanlah.”
Keutamaan Sholat Dhuha dan Kecukupan Rezeki
Berdasarkan jurnal Abd. Karim Faiz dkk., terdapat tiga keutamaan utama sholat dhuha. Pertama, adanya jaminan kecukupan dari Allah SWT sebagaimana hadits qudsi. Kedua, sholat dhuha menjadi pengganti sedekah seluruh anggota tubuh. Ketiga, seseorang yang berdzikir setelah sholat Subuh berjamaah hingga matahari terbit lalu melaksanakan sholat dhuha dua rakaat memperoleh pahala seperti haji dan umrah.
Waktu Pelaksanaan Dhuha Menurut Fiqih
Para ulama madzhab memiliki pandangan berbeda dalam menentukan awal waktu dhuha. Madzhab Hanafi menetapkan dimulai ketika matahari naik hingga sebelum istiwa. Madzhab Maliki memulai ketika warna kemerah-merahan matahari menghilang. Madzhab Syafi’i memulai sejak matahari naik, sementara Madzhab Hambali menekankan waktu ketika panas mulai terasa.
Penentuan Waktu Dhuha Berdasarkan Hisab Ilmu Falak
Secara astronomis, awal waktu dhuha ditetapkan ketika matahari berada sekitar 3,5 derajat di atas ufuk atau sekitar 18 menit setelah matahari terbit. Perhitungan ini diperoleh dari tinggi matahari ditambah nilai pengaman waktu. Adapun akhir waktu dhuha dianjurkan sekitar empat menit sebelum masuk waktu zuhur untuk menghindari waktu yang dilarang.
Dengan berlandaskan dalil fiqih, kajian ilmiah, serta keterangan para ulama yang tercantum dalam bahan, dzikir setelah sholat dhuha dipahami sebagai amalan sunnah yang memiliki nilai spiritual tinggi serta diyakini berkaitan dengan kecukupan rezeki dan ketenangan hidup.






















