Headline.co.id, Sleman ~ Bupati Sleman, Harda Kiswaya, mengajak masyarakat untuk menghidupkan kembali semangat Lumbung Pangan Mataram sebagai dasar kemandirian dan ketahanan pangan daerah. Ajakan ini disampaikan saat menghadiri panen perdana bawang merah di Sugih Waras Farm, Padukuhan Tiyasan, Kalurahan Condongcatur, Kapanewon Depok, Kamis (22/1/2026).
Acara panen perdana ini dihadiri oleh jajaran Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Kabupaten Sleman, termasuk Dinas Pertanian, BKAD Sleman, Dinas PMK Sleman, Panewu Depok beserta Forkompimcam, Lurah Condongcatur, pamong kalurahan, BPKal, KDMP, lembaga kalurahan, Kelompok Wanita Tani (KWT), serta perwakilan masyarakat setempat.
Sugih Waras Farm merupakan bagian dari inisiatif “Menghidupkan Kembali Lumbung Pangan Mataram” dengan memanfaatkan tanah anggaduh yang dikelola secara mandiri. Lahan seluas sekitar 1,1 hektare ini adalah Tanah Anggaduh atau Tanah Lungguh Carik Condongcatur yang kini dioptimalkan menjadi lahan pertanian produktif dan berkelanjutan.
Carik Condongcatur, Riska Dian Nur Lestari, menjelaskan bahwa sebelumnya lahan tersebut tidak produktif dan sering disalahgunakan sebagai tempat pembuangan sampah, yang menyebabkan pencemaran lingkungan dan penurunan kesuburan tanah. “Melalui proses panjang, kami melakukan pembersihan total dan penyuburan kembali tanah dengan memaksimalkan pupuk organik serta perbaikan struktur tanah. Ini adalah investasi untuk lingkungan yang lebih sehat,” ujarnya.
Riska menambahkan bahwa pengelolaan lahan Sugih Waras Farm kini mulai memberikan manfaat nyata. Selain mengoptimalkan aset kalurahan, lahan pertanian ini mampu menyerap tenaga kerja lokal dan membantu menjaga ketersediaan pangan segar bagi masyarakat sekitar dengan rantai distribusi yang lebih pendek. Bawang merah yang dipanen memiliki kualitas baik dengan ukuran umbi kategori super dan minim serangan hama.
“Kami berharap dukungan pembinaan, teknologi pertanian modern, dan akses pasar yang lebih luas dari Pemerintah Kabupaten Sleman agar lahan Tiyasan ini dapat menjadi percontohan urban farming berkelanjutan,” tambahnya.
Lurah Condongcatur, Reno Candra Sangaji, mengapresiasi pengelolaan Sugih Waras Farm sebagai upaya menghidupkan kembali lahan tidur menjadi ruang produktif. Ia menilai pemanfaatan tanah pelungguh ini selaras dengan penguatan ketahanan pangan dan nilai-nilai agraris berbasis kearifan lokal. “Panen bawang merah ini menjadi simbol keberhasilan transformasi lahan marginal. Ini juga merefleksikan filosofi Sri Sultan Agung Hanyokrokusumo, nandur opo sing dipangan, mangan opo sing ditandur, sebagai wujud kemandirian dan keseimbangan kehidupan agraris,” ungkapnya.
Ia menjelaskan bahwa lahan tersebut dikembangkan dengan sistem tumpangsari yang memadukan tanaman tahunan dan semusim, seperti klengkeng, alpukat, tomat, kacang lokal, jagung, semangka, serta berbagai komoditas lainnya.
Bupati Sleman, Harda Kiswaya, menyampaikan apresiasinya atas inisiatif masyarakat Tiyasan Condongcatur dalam mengelola lahan pelungguh menjadi pertanian produktif. Ia menegaskan komitmen Pemerintah Kabupaten Sleman untuk terus mendampingi petani dan masyarakat dalam memajukan sektor pertanian strategis. “Lumbung Pangan Mataram bukan sekadar tempat menyimpan hasil panen, tetapi simbol keberdayaan, kebersamaan, dan ketahanan wilayah. Melalui panen bawang merah ini, saya optimistis Sleman mampu berdaya sebagai sentra pangan dan memenuhi kebutuhannya sendiri,” ujarnya.
Ia juga mengajak seluruh elemen masyarakat, termasuk generasi muda, untuk terlibat aktif dalam penguatan produksi pangan lokal yang adaptif terhadap teknologi dan tetap berakar pada kearifan lokal.
Kegiatan diakhiri dengan prosesi panen bawang merah secara simbolis oleh Bupati Sleman bersama jajaran OPD dan tamu undangan, dilanjutkan peninjauan area Sugih Waras Farm yang dikelola secara terpadu dengan sistem tumpangsari. (Wasana/KIM Depok)





















