Headline.co.id, Bandung ~ Pertumbuhan olahraga lari trail di Indonesia yang semakin pesat dinilai berisiko tidak berkelanjutan jika tidak didukung oleh konsolidasi organisasi dan standar keselamatan yang kuat. Hal ini disampaikan oleh Pengurus Pusat Asosiasi Lari Trail Indonesia (PP ALTI) dalam Rapat Kerja Nasional yang membahas legitimasi organisasi, keselamatan atlet, serta arah pembinaan prestasi ke depan.
Ketua Umum PP ALTI periode 2025–2029, Bima Arya Sugiarto, menekankan pentingnya menjaga momentum peningkatan lari trail dengan memperkuat peran organisasi. Ia mengingatkan bahwa tanpa konsolidasi yang solid, keberadaan ALTI bisa kehilangan makna strategisnya. “Kalau kita tidak konsolidasi, kita akan kehilangan momentum, bahkan bisa kehilangan legitimasi. Artinya ada atau tidak adanya ALTI sama saja,” tegas Bima Arya dalam siaran pers yang diterima , Minggu (25/1/2026).
Bima Arya, yang juga menjabat sebagai Wakil Menteri Dalam Negeri, menegaskan bahwa PP ALTI harus memberikan manfaat nyata bagi ekosistem lari trail nasional, mulai dari regulasi, pembinaan, hingga keselamatan. Ia meminta seluruh jajaran pengurus untuk mengesampingkan kepentingan pribadi, politik, maupun bisnis. “Di sini kita berdiri di atas semuanya. Tidak ada kepentingan pribadi, politik, atau bisnis. Semuanya untuk ALTI,” ujarnya.
Isu keselamatan menjadi salah satu fokus utama dalam Raker tersebut. Ketua Harian PP ALTI, Muhammad Farhan, menilai tingginya animo masyarakat terhadap lari trail harus diimbangi dengan standar keamanan yang ketat, mengingat karakter olahraga ini memiliki risiko tinggi. “Antusiasme ini melebihi akal sehat. Tantangan kita adalah bagaimana euforia lari trail dihadapkan dengan aspek keselamatannya,” kata Farhan.
Ia menegaskan bahwa keselamatan harus menjadi standar baku dalam setiap penyelenggaraan lomba, baik di tingkat nasional maupun daerah, agar pertumbuhan lari trail tidak menimbulkan persoalan baru.
Sementara itu, Sekretaris Umum PP ALTI, Dr. Donny Gahral Adian, memaparkan rencana kerja tahun 2026 yang difokuskan pada pembinaan prestasi dan penguatan posisi Indonesia di level regional dan internasional. Tiga agenda utama yang disiapkan adalah South East Asia Trail Running Championship (SEATRC) pada 24–26 Juli 2026 di Gede Pangrango, Kejuaraan Nasional Lari Trail 2026 yang diusulkan digelar di Jambi, serta partisipasi Indonesia pada Asia Pacific Trail Running Championship (APTRC) di Cina pada November 2026.
Donny juga mencatat adanya migrasi besar pelari dari lari aspal ke lari trail sebagai indikasi meningkatnya minat olahraga berbasis alam. Kondisi tersebut, menurutnya, perlu direspons dengan pembinaan yang terstruktur dan berkelanjutan.
Selain agenda kejuaraan, PP ALTI membahas penyusunan Standar Nasional Perlombaan (SNP), percepatan digitalisasi organisasi, sertifikasi pelatih dan juri, serta perumusan kode etik atlet dan pengurus di tingkat nasional hingga kabupaten/kota. PP ALTI juga mendorong agar lari trail dapat dipertandingkan pada PON Pantai 2026.



















