Headline.co.id, Jakarta ~ Pesawat ATR 42-500 milik PT Indonesia Air Transport (IAT) dilaporkan hilang kontak saat menjalani penerbangan dari Yogyakarta menuju Makassar pada Sabtu (17/1). Pesawat kehilangan komunikasi ketika berada di wilayah Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, dengan titik koordinat terakhir tercatat di 04°57’08” Lintang Selatan dan 119°42’54” Bujur Timur. Insiden ini melibatkan pesawat yang membawa 11 orang, terdiri dari 8 kru dan 3 penumpang, termasuk sang pilot. Upaya pencarian langsung dilakukan oleh Basarnas bersama unsur terkait untuk memastikan keberadaan pesawat dan seluruh awaknya.
Kepala tim SAR menyatakan bahwa laporan hilang kontak diterima setelah pesawat tidak merespons komunikasi pada jalur penerbangan menuju Makassar. Pesawat diduga berada di wilayah udara Maros sebelum sinyal terputus. Basarnas kemudian menurunkan 60 personel gabungan yang terdiri dari tim Basarnas dan potensi SAR untuk melakukan penyisiran darat dan udara di sekitar titik koordinat terakhir.
“Kami mengerahkan sekitar 60 personel Basarnas dan potensi SAR untuk mempercepat proses pencarian dan memastikan kondisi seluruh kru dan penumpang,” ujar salah satu petugas Basarnas dalam keterangan tertulis.
Di dalam pesawat, terdapat tiga penumpang yang merupakan pegawai Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). Informasi ini dikonfirmasi oleh Staf Khusus Menteri KP Bidang Humas dan Komunikasi Media, Doni Ismanto.
“Pax-nya orang KKP,” kata Doni Ismanto kepada kumparan.
Pesawat ATR 42-500 tersebut dipiloti oleh Capt Andy Dahananto yang juga menjabat sebagai Direktur Operasi PT Indonesia Air Transport sejak 19 Juni 2019. Andy lahir pada 1967 dan merupakan lulusan Juanda Flying School tahun 1987. Karier penerbangannya dimulai pada 1988 sebagai pilot pesawat sayap tetap hingga saat ini.
Berdasarkan profil perusahaan, PT Indonesia Air Transport merupakan perusahaan jasa penerbangan charter yang telah beroperasi sejak 1968. IAT melayani penerbangan pesawat sayap tetap dan helikopter untuk kebutuhan industri minyak dan gas, pertambangan, korporasi, serta penerbangan VIP. Dalam perkembangannya, PT IAT bergabung ke dalam grup MNC milik Hary Tanoesoedibjo melalui PT MNC Energy Investment (IATA). Sejak saat itu, arah bisnis perusahaan tidak hanya fokus pada jasa penerbangan charter, tetapi juga investasi energi, khususnya di sektor pertambangan batu bara, minyak, dan gas.
PT MNC Energy Investment tercatat melantai di Bursa Efek Indonesia pada 2006 dan mengantongi Air Operator Certificate (AOC) 121 sebagai operator penerbangan komersial. Armada PT IAT tidak hanya terdiri dari ATR 42-500, tetapi juga Embraer Legacy 600 serta Airbus Helicopter EC 155 B1.
Pesawat ATR 42-500 sendiri merupakan pesawat turboprop regional yang banyak digunakan untuk penerbangan jarak pendek hingga menengah. Pesawat ini dikenal efisien dalam konsumsi bahan bakar dan mampu beroperasi di bandara dengan landasan terbatas, sehingga kerap digunakan untuk penerbangan charter maupun rute perintis di Indonesia.
Untuk mempercepat penanganan informasi, Kementerian Kelautan dan Perikanan bersama PT Indonesia Air Transport dijadwalkan menggelar konferensi pers pada malam hari pukul 19.30 WIB di Gedung KKP. Konferensi pers tersebut akan menyampaikan perkembangan terbaru terkait pencarian pesawat serta kondisi kru dan penumpang.





















