Headline.co.id, Jakarta ~ PT. Pertamina (Persero) mengumumkan bahwa program Pertapreneur Aggregator (PAG) 2025 bertujuan untuk memperkuat Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di sektor pangan agar dapat berkembang menjadi pelaku usaha yang berstandar dan kompetitif. Vice President Corporate Communication Pertamina, Muhammad Baron, dalam pernyataannya di Jakarta pada Kamis (15/1/2026), menyatakan bahwa program PAG mendorong UMKM untuk tidak hanya memproduksi produk alami, tetapi juga menyediakan pangan fungsional yang aman, teruji, dan berkontribusi nyata terhadap ketahanan pangan nasional. “Kami berkomitmen untuk mendukung UMKM dalam menghasilkan produk pangan yang berkualitas dan aman,” ujarnya.
Baron menambahkan bahwa Pertamina terus berupaya memperkuat tata kelola produksi, konsistensi mutu, serta kesiapan operasional UMKM pangan lokal. Hal ini dilakukan agar mereka dapat berkontribusi pada ketahanan pangan nasional dan meningkatkan kepercayaan konsumen. Penguatan UMKM pangan ini juga sejalan dengan Astacita Pemerintah, khususnya dalam mendukung ketahanan pangan nasional dan peningkatan kualitas kesehatan masyarakat. “Kami ingin UMKM pangan dapat berperan lebih dalam mendukung ketahanan pangan nasional,” tambahnya.
Salah satu peserta program Pertapreneur Aggregator 2025 adalah Imago Raw Honey dari Bogor, yang menjadi salah satu dari 10 champion PAG 2025 dan saat ini sedang memasuki tahap akselerasi bisnis dan peningkatan skala. Melalui pendampingan program tersebut, Imago memperkuat strategi bisnis dan kesiapan ekspansi dengan mengembangkan madu fungsional berbasis riset, guna menjaga kualitas produk sekaligus memastikan keamanan pangan secara konsisten.
Program PAG yang dimulai sejak akhir 2025 mencakup beberapa tahapan, mulai dari akselerasi bisnis secara online, dilanjutkan dengan kelas Business Acceleration & Scaling Up dengan mentor dari Universitas Gadjah Mada (UGM). Sebanyak 10 champion PAG 2025 mengikuti pembekalan intensif yang mencakup penguatan strategi bisnis serta penyusunan awal rencana perbaikan bisnis (BIP), termasuk aspek finansial sebagai dasar perencanaan pengembangan usaha. “Pembekalan ini penting untuk memastikan kesiapan UMKM dalam menghadapi tantangan bisnis,” katanya.
Visitasi yang dilakukan difokuskan pada validasi lapangan melalui pencocokan dokumen BIP dengan kondisi riil usaha, meliputi aset, kapasitas produksi, stok, dan operasional sebagai penetapan data baseline. Selain itu, visitasi juga diarahkan untuk melakukan finalisasi objective and key results (OKR) dengan menurunkan strategi BIP ke dalam target bulanan yang terukur sebagai dasar pemantauan kinerja dan kesiapan pencairan hibah. Tahap ini juga mencakup verifikasi kesiapan agregasi, termasuk keberadaan dan kesiapan calon UMKM untuk dikembangkan melalui skema kolaborasi dan agregasi usaha. “Kami memastikan bahwa UMKM siap untuk berkembang melalui kolaborasi dan agregasi,” kata Baron.



















