Headline.co.id, Baubau ~ Menteri Agama Nasaruddin Umar meluncurkan program Penguatan Ekoteologi Laut di Kota Baubau, Sulawesi Tenggara, pada Kamis (8/1/2026). Program ini bertujuan untuk memperkuat peran agama dalam menjaga keberlanjutan ekosistem maritim nasional. Dalam sambutannya, Menag menekankan pentingnya memandang alam sebagai subjek kehidupan yang memiliki hak, setara dengan manusia. Ia menegaskan bahwa paradigma eksploitatif terhadap alam harus diakhiri dan digantikan dengan hubungan yang etis dan spiritual.
“Manusia punya hak, alam pun punya hak. Laut punya hak, pasir punya hak, pohon kelapa punya hak, binatang dan ikan pun punya hak,” ujar Menag sebagaimana dilansir Kemenag.go.id. Menurutnya, tantangan besar umat manusia saat ini adalah mengembalikan kesakralan alam sebagai ciptaan Tuhan atau re-sacralization of nature. Tanpa perubahan cara pandang tersebut, krisis lingkungan akan terus berulang dan berdampak langsung pada keberlanjutan hidup manusia.
Menag juga mendorong perluasan makna persaudaraan dalam ajaran Islam. Tidak hanya terbatas pada ukhuwah islamiyah dan ukhuwah wathaniyah, tetapi juga ukhuwah makhlukiyah atau persaudaraan sesama ciptaan Tuhan. “Jika kita bersahabat dengan alam, alam pun akan bersahabat dengan kita. Merusak alam berarti melukai diri kita sendiri,” tegasnya.
Sebagai bagian dari implementasi program, Menag mengukuhkan Satuan Tugas (Satgas) Ekoteologi Laut Kota Baubau. Satgas ini dipimpin oleh Daeng Lala, seorang kreator konten yang dikenal aktif mengangkat kehidupan pesisir, pelestarian ekosistem laut, serta tradisi memancing lokal yang kini dikenal hingga mancanegara. Pengukuhan Satgas tersebut menandai pendekatan baru Kementerian Agama yang melibatkan aktor komunitas dan tokoh lokal dalam penguatan pesan keagamaan berbasis lingkungan, khususnya di wilayah kepulauan.
Rangkaian kegiatan juga diisi dengan pelepasan sekitar 100 tukik (anak penyu) di Pantai Lakeba, Kota Baubau. Aksi ini menjadi simbol konkret sinergi nilai agama, budaya pesisir, dan pelestarian lingkungan laut. Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Tenggara, Mansur, menyampaikan bahwa penguatan ekoteologi laut lahir dari kesadaran kolektif untuk menjaga laut sebagai sumber kehidupan, iman, dan masa depan daerah.
Ia menekankan bahwa Sulawesi Tenggara memiliki karakter wilayah kepulauan dengan 671 pulau, yang menyimpan potensi besar sekaligus tanggung jawab ekologis yang tinggi. “Melalui pendekatan ekoteologi, Kementerian Agama memandang bahwa menjaga laut bukan hanya kewajiban ekologis, tetapi juga tanggung jawab moral dan spiritual umat beragama,” ujar Mansur.
Program Penguatan Ekoteologi Laut diharapkan menjadi model nasional dalam mengintegrasikan nilai keagamaan dengan agenda pelestarian lingkungan, khususnya di wilayah pesisir dan kepulauan. Kegiatan ini turut dihadiri oleh Gubernur Sulawesi Tenggara Andi Sumangerukka, Wali Kota Baubau Yusran Fahim, Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Basnang Said, Kepala Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an Sidik Sisdiyanto, Plt Kepala Kantor Kemenag Kota Baubau Khairiyati Rahmah, Ketua DPRD Sulawesi Tenggara La Ode Tariala, Tenaga Ahli Menag Andi Salman Maggalatung, serta jajaran Balai Taman Nasional Wakatobi.


















