Headline.co.id, Batang ~ Sebanyak dua puluh mahasiswa dari Keluarga Mahasiswa Pembangunan Sosial dan Kesejahteraan (KAPSTRA) melaksanakan program aksi sosial bertajuk KAPSTRA Eco-Learning pada Sabtu dan Minggu, 8–9 November. Kegiatan ini meliputi workshop pembuatan jamu, penanaman tanaman obat keluarga (TOGA), dan pembuatan eco-enzyme. Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk mengurangi konsumsi bahan kimia dan melestarikan keanekaragaman hayati lokal dengan mengenalkan cara sederhana mengolah limbah organik menjadi produk bermanfaat bagi lingkungan dan kesehatan.
Pada hari pertama, kegiatan berlangsung di Omah Sinau Masyarakat (OMSIMAS), Kelurahan Karangwaru, Yogyakarta. Acara ini menghadirkan Siti Rupingah, Ketua Kelompok Wanita Tani (KWT) Lestari dari Gunung Gondang, Margosari, Pengasih, sebagai narasumber. Ia menyampaikan materi tentang Penguatan Ekonomi Berbasis Pemanfaatan Potensi TOGA dan Pelestarian Keanekaragaman TOGA. Siti Rupingah menjelaskan bahwa tanaman obat keluarga yang tumbuh di sekitar rumah dapat diolah menjadi produk jamu yang bermanfaat untuk meningkatkan perekonomian ibu-ibu PKK dan melestarikan tanaman lokal.
Salah satu peserta, Ibu Yusia, menyatakan bahwa kegiatan ini memberikan manfaat bagi ibu-ibu anggota PKK dan lainnya. “Semoga apa yang telah diterangkan bisa terus kami praktikkan,” ujarnya. Kegiatan dilanjutkan dengan praktek pembuatan jamu bubuk menggunakan resep asli dari Siti Rupingah, yang pernah memenangkan Lomba Ramuan Jamu Herbal pada tahun 2017. Bahan-bahan yang digunakan lain jahe emprit, gula, kayu manis, cengkeh, bunga lawang, dan rempah-rempah lainnya.
Pada hari kedua, pelatihan eco enzyme diadakan dengan menggandeng komunitas Relawan Eco Enzyme Sleman di Rumpang QQ, Sinduharjo, Sleman. Pelatihan ini mengusung topik Jejak Hijau: Tanam dan Olah Demi Bumi yang Lebih Ramah. Nafi Khoirulnisa dan Farhan Zaki, didampingi Kiki dan Fimel dari Relawan Eco Enzyme Sleman, memberikan materi tentang pengertian, manfaat, dan cara pembuatan eco enzyme. Peserta diajak mempraktikkan pembuatan eco enzyme menggunakan kulit buah dengan perbandingan 1:3:10 untuk gula, kulit buah, dan air.
Kiki menjelaskan bahwa praktik ini memberikan kesempatan kepada peserta untuk belajar mengolah limbah dapur menjadi cairan serbaguna yang bermanfaat bagi lingkungan. “Jika kita memberi kepada alam maka alam akan memberi lebih kepada kita,” tuturnya. Peserta juga diperkenalkan dengan produk turunan eco enzyme seperti sabun mandi batang, bantal eco enzyme, dan kamper dari sisa kulit fermentasi.
Fimel menyatakan bahwa eco enzyme memiliki berbagai manfaat, termasuk menyuburkan tanaman dan memperbaiki kondisi tanah dan air. “Saya tidak dapat hidup tanpa eco enzyme,” ungkapnya. Nafi Khoirulnisa berharap kegiatan ini dapat mendorong kepedulian ekologis dan menumbuhkan kebiasaan hidup ramah lingkungan berkelanjutan bagi mahasiswa dan masyarakat luas.






















