Headline.co.id, Belu ~ Pemerintah Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur (NTT), memperkuat koordinasi lintas sektor untuk mencegah dan mengendalikan penyakit zoonosis serta penyakit infeksi baru melalui pendekatan One Health. Langkah tersebut dibahas dalam Rapat Koordinasi Teknis (Rakortek) One Health dan Tim Koordinasi Daerah (TIKORDA) Zoonosis dan Penyakit Infeksi Baru di Aula Hotel Setia Atambua, Kabupaten Belu, pada 19–20 Oktober 2026. Kegiatan itu digelar bersama Program KITA SEHAT untuk menghimpun data, masukan, dan pengalaman dari sektor kesehatan manusia, kesehatan hewan, serta lingkungan. Koordinasi diperlukan karena ancaman penyakit dapat bersumber dari manusia, hewan, maupun lingkungan dan membutuhkan penanganan terpadu.
Penjabat (Pj) Sekretaris Daerah Kabupaten Belu Elly Ch. Rambitan mengatakan, kesehatan merupakan fondasi utama pembangunan daerah. Menurut dia, masyarakat yang sehat menjadi modal penting untuk meningkatkan produktivitas, kesejahteraan, dan kemajuan Kabupaten Belu.
“Kita perlu memperkuat koordinasi lintas sektor melalui pendekatan One Health. Saya mengingatkan seluruh perangkat daerah dan instansi terkait tidak bekerja sendiri-sendiri, melainkan membangun kerja sama dalam menghadapi persoalan kesehatan, terlebih di tengah keterbatasan sumber daya dan anggaran daerah,” kata Elly saat membuka kegiatan tersebut, Senin (19/10/2026).
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
Ancaman penyakit tidak hanya berasal dari manusia
Elly menyampaikan, tantangan kesehatan semakin kompleks karena penularan penyakit tidak hanya terjadi antarmanusia. Penyakit juga dapat bersumber dari hewan dan lingkungan sehingga memerlukan keterlibatan berbagai sektor dalam pencegahan maupun pengendaliannya.
Ia menyebut rabies, leptospirosis, flu burung, dan berbagai penyakit infeksi baru sebagai penyakit yang membutuhkan perhatian serius serta penanganan terpadu. Karena itu, koordinasi lintas sektor dinilai penting agar setiap perangkat daerah dan instansi terkait tidak bekerja secara terpisah.
Elly berharap Rakortek menghasilkan rekomendasi dan rencana tindak lanjut yang terukur, terpadu, serta dapat segera dilaksanakan. Menurutnya, keberhasilan koordinasi tidak cukup hanya dilihat dari kesepakatan tertulis, tetapi juga dari pelaksanaan nyata yang memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Saya juga meminta agar TIKORDA bekerja secara berkelanjutan, bukan hanya aktif ketika terjadi kasus. Hal ini dapat dilakukan melalui pemetaan risiko, penguatan sumber daya, edukasi masyarakat, peningkatan kapasitas petugas, dan evaluasi secara berkala,” ujarnya.
TIKORDA didorong menjadi wadah koordinasi berkelanjutan
Health Security Specialist Program KITA SEHAT Andri Jati Kusumah menjelaskan, Program KITA SEHAT merupakan kemitraan Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Australia untuk mendukung transformasi kesehatan.
Program tersebut berfokus pada empat hasil utama, yaitu penguatan pelayanan kesehatan primer, peningkatan kualitas gizi, penguatan sistem kesehatan, serta penguatan ketahanan kesehatan.
“Melalui pertemuan ini, kami ingin membangun pemahaman bersama mengenai risiko dan kebutuhan prioritas di Kabupaten Belu. Selain itu, kami berharap dapat memperoleh masukan dari berbagai sektor, baik kesehatan manusia maupun kesehatan hewan,” jelas Andri.
Andri berharap koordinasi melalui TIKORDA semakin kuat. Menurut dia, TIKORDA tidak hanya perlu berfungsi sebagai wadah pembahasan kebijakan, tetapi juga sebagai sarana berbagi informasi dan pengalaman teknis untuk mendukung pencegahan serta pengendalian penyakit di daerah.
Rakortek One Health dan TIKORDA tersebut juga diarahkan untuk menghimpun data lintas sektor, masukan, serta pengalaman petugas di tingkat dinas maupun lapangan. Informasi itu diharapkan menjadi dasar dalam menyusun perencanaan kegiatan dan menentukan kebutuhan prioritas kesehatan di Kabupaten Belu.
Kolaborasi kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan
Zoonosis merupakan penyakit yang dapat menular secara alami hewan dan manusia. Penularannya dapat terjadi melalui gigitan atau cakaran hewan, makanan yang terkontaminasi, kontak langsung dengan hewan atau lingkungan yang terinfeksi, maupun melalui perantara seperti nyamuk dan kutu.
Pendekatan One Health menempatkan kesehatan manusia, kesehatan hewan, dan lingkungan dalam satu kerangka koordinasi. Dalam konteks Kabupaten Belu, pendekatan tersebut menjadi dasar untuk memperkuat pencegahan dan pengendalian penyakit secara berkelanjutan sesuai kewenangan serta prioritas pembangunan daerah.
Pemkab Belu berkomitmen mendorong kolaborasi lintas sektor untuk menghadapi risiko zoonosis dan penyakit infeksi baru. Upaya itu mencakup pemetaan risiko, penguatan sumber daya, edukasi masyarakat, peningkatan kapasitas petugas, serta evaluasi secara berkala.
Melalui penguatan koordinasi tersebut, hasil pembahasan dalam Rakortek diharapkan tidak berhenti pada rekomendasi, tetapi berlanjut menjadi rencana tindak lanjut yang terukur dan dapat dilaksanakan oleh perangkat daerah serta instansi terkait.
Dukung jurnalis Headline.co.id secara gratis Atau Berkontribusi Traktir KopiUntuk pengembangan Headline Media
Gambar tidak dapat dimuat.

















