Headline.co.id ~ Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mendorong penguatan pelabelan gizi pada bagian depan kemasan pangan untuk membantu masyarakat memilih makanan yang lebih sehat. Dorongan tersebut disampaikan dalam konteks upaya meningkatkan pemahaman konsumen terhadap kandungan gizi produk yang dikonsumsi sehari-hari. Informasi mengenai gula, garam, lemak, dan zat gizi lainnya diharapkan dapat dibaca lebih mudah sebelum konsumen membeli produk pangan.
Pelabelan gizi pada kemasan pangan atau front-of-pack nutrition labelling dinilai penting karena memungkinkan masyarakat membandingkan kandungan sejumlah produk secara lebih praktis. Dengan informasi yang jelas, konsumen dapat mengambil keputusan secara lebih sadar dan mengurangi konsumsi makanan yang mengandung zat gizi tertentu secara berlebihan.
Pelabelan gizi bantu konsumen membandingkan produk
Menurut WHO, pelabelan pada bagian depan kemasan dapat menjadi salah satu sarana untuk memperjelas informasi pangan. Konsumen dapat melihat kandungan gula, garam, lemak, serta zat gizi lainnya dengan lebih mudah tanpa harus hanya mengandalkan pemahaman terhadap informasi yang tercantum pada bagian lain kemasan.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
Ketersediaan informasi tersebut juga diharapkan membantu masyarakat membandingkan produk sebelum melakukan pembelian. Pemahaman yang lebih baik mengenai kandungan pangan dapat mendukung pilihan konsumsi yang lebih bijak, terutama ketika masyarakat mempertimbangkan jumlah zat gizi tertentu dalam makanan dan minuman yang dikonsumsi sehari-hari.
WHO menilai penerapan pelabelan gizi perlu berjalan bersama kebijakan yang konsisten, edukasi masyarakat, dan keterlibatan produsen pangan. Informasi yang mudah dipahami bukan hanya membantu konsumen, tetapi juga diharapkan mendorong industri pangan meningkatkan kualitas komposisi produknya.
Penguatan pelabelan gizi berkaitan dengan upaya mencegah penyakit tidak menular, lain penyakit jantung, diabetes tipe 2, dan hipertensi. Pola makan yang tinggi gula, garam, dan lemak tidak sehat disebut sebagai salah satu faktor risiko yang dapat meningkatkan kemungkinan seseorang mengalami berbagai gangguan kesehatan tersebut.
Karena itu, informasi pada kemasan dipandang sebagai bagian dari langkah untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pilihan makanan. Konsumen diharapkan tidak hanya memperhatikan merek atau jenis produk, tetapi juga membaca kandungan gizi serta komposisinya sebelum membeli.
Informasi pangan yang transparan dan edukasi yang berkelanjutan dinilai dapat mendukung terbentuknya masyarakat yang lebih sadar kesehatan. Namun, pemahaman terhadap label gizi tetap perlu diiringi penerapan pola makan seimbang dan kebiasaan hidup sehat.
Edukasi gizi perlu diperkuat di Indonesia
Di Indonesia, edukasi mengenai gizi seimbang penting dilakukan melalui berbagai saluran komunikasi. Fasilitas pelayanan kesehatan, sekolah, media massa, dan media sosial disebut dapat menjadi sarana untuk meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai informasi nilai gizi dan komposisi produk pangan.
Masyarakat diimbau membiasakan diri membaca informasi nilai gizi dan komposisi sebelum melakukan pembelian. Kebiasaan tersebut dapat membantu konsumen mengenali kandungan gula, garam, lemak, serta zat gizi lainnya yang terdapat dalam produk.
Selain membaca label kemasan, masyarakat tetap perlu mengonsumsi makanan dengan pola seimbang, memperbanyak buah dan sayuran, serta membatasi makanan yang tinggi gula, garam, dan lemak. Aktivitas fisik secara teratur juga menjadi bagian penting dalam mendukung kesehatan.
WHO mendorong agar penguatan pelabelan gizi tidak berdiri sendiri, melainkan didukung kebijakan yang konsisten, edukasi publik, dan peran produsen pangan. Melalui langkah tersebut, masyarakat diharapkan dapat membuat pilihan konsumsi yang lebih sadar guna mendukung pencegahan penyakit tidak menular.
Dukung jurnalis Headline.co.id secara gratis Atau Berkontribusi Traktir KopiUntuk pengembangan Headline Media
Gambar tidak dapat dimuat.

















