Headline.co.id, Bandung ~ Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Barat menyiapkan pengembangan delapan madrasah unggulan melalui kolaborasi dengan Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati Bandung. Rencana tersebut dibahas dalam Focus Group Discussion (FGD) tindak lanjut hasil visitasi Program Madrasah Unggulan di Aula Kanwil Kemenag Jawa Barat, Bandung, Rabu (7/10/2026). Kolaborasi ini diarahkan untuk memperkuat kurikulum, integrasi keilmuan agama dan sains, riset, serta kompetensi peserta didik. Langkah itu ditempuh agar hasil pemetaan dan visitasi dapat segera diterjemahkan menjadi program pengembangan yang sesuai dengan kebutuhan setiap madrasah.
Delapan Madrasah Masuk Fokus Pengembangan
Delapan madrasah yang menjadi fokus pengembangan Kemenag Jabar tersebut adalah Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Subang, MAN 2 Kabupaten Cirebon, MAN 1 Bogor, MAN 2 Kota Bogor, MAN 2 Kota Sukabumi, MAN 1 Kota Bandung, MAN 2 Kota Bandung, dan MAN 2 Tasikmalaya.
Ketua Tim pada Fungsi Kelembagaan dan Sistem Informasi Bidang Pendidikan Madrasah Kanwil Kemenag Jawa Barat, Ade Ruhiat, mengatakan penetapan delapan madrasah dilakukan melalui tahapan pengajuan proposal, telaah, dan seleksi.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
“Semua tahapan sudah kami lalui. Mulai dari pengajuan proposal, telaah, sampai seleksi. Dari 29 proposal yang masuk, kemudian menjadi 13 calon madrasah unggulan, dan akhirnya ditetapkan delapan madrasah yang akan menjadi bagian dari program ini,” jelas Ade di Bandung, Rabu (7/10/2026).
Menurut Ade, pemetaan dilakukan secara komprehensif untuk memastikan bentuk intervensi pengembangan sesuai dengan kondisi nyata di lapangan. Pemetaan tidak hanya mengacu pada informasi dari kepala madrasah, tetapi juga melibatkan guru dan unsur lainnya.
“Proses pemetaan tidak hanya mengandalkan informasi dari kepala madrasah, tetapi juga melibatkan guru dan unsur lainnya agar hasil yang diperoleh benar-benar menggambarkan kondisi lapangan,” ungkapnya.
Pengembangan Mencakup Tata Kelola hingga Digitalisasi
Kepala Bidang Pendidikan Madrasah Kanwil Kemenag Jawa Barat, Badruzaman, menyebut hasil visitasi menjadi momentum untuk memastikan pengembangan madrasah unggulan berjalan secara optimal dan terpadu.
“Kami ingin madrasah unggulan di Jawa Barat ini menjadi yang terbaik dan mampu memberikan dampak luar biasa. Investasi pendidikan ini sangat luar biasa, karena lulusan madrasah unggulan Jawa Barat diharapkan dapat menjadi pemimpin pada masa yang akan datang,” ujarnya.
Badruzaman menjelaskan, pengembangan tidak hanya berfokus pada capaian akademik. Program tersebut mencakup tata kelola dan kepemimpinan, kurikulum dan pembelajaran, pembinaan prestasi akademik serta nonakademik, penguatan keagamaan dan karakter, kualitas pendidik dan tenaga kependidikan, sarana prasarana, digitalisasi, serta kemitraan dan jejaring.
Staf Khusus Menteri Agama Bidang Pendidikan, Reformasi, dan Tata Kelola Kemenag RI, Nona Gayatri Nasution, meminta seluruh pihak bergerak cepat setelah proses visitasi dan pemetaan selesai dilakukan.
“Sekarang harus gerak cepat. Kepala madrasah harus visioner, kemudian kerja sama dengan komite harus kuat, dan guru BK juga harus masuk dalam tim,” ujarnya.
Kemenag juga berkomitmen mengawal kebutuhan sarana dan prasarana melalui akses bantuan pemerintah sesuai mekanisme yang berlaku. Selain itu, madrasah unggulan didorong untuk menerapkan prinsip satuan pendidikan ramah anak.
UIN Bandung Dorong Integrasi Agama dan Sains
Kepala Kanwil Kemenag Jawa Barat, Dudu Rohman, menegaskan bahwa ukuran keunggulan madrasah tidak cukup dilihat dari prestasi akademik. Menurut dia, madrasah juga harus membentuk lulusan yang memiliki karakter dan kepedulian terhadap bangsa.
“Madrasah tidak cukup hanya menghasilkan lulusan yang cerdas secara akademik, tetapi juga harus membentuk pribadi yang berakhlak, beradab, serta mampu memberi kontribusi bagi bangsa dan negara,” ujarnya.
Dudu juga mendorong penguatan budaya literasi dan tradisi intelektual di lingkungan madrasah.
“Literasi harus menjadi budaya. Guru tidak hanya mengajar, tetapi juga berkarya, menulis, dan membangun tradisi intelektual yang berkelanjutan,” katanya.
Dekan Fakultas Sains dan Teknologi UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Hasniah Aliah, menyatakan kesiapan UIN Bandung untuk terlibat dalam ekosistem pengembangan delapan madrasah unggulan tersebut. Keterlibatan perguruan tinggi itu diarahkan pada pengintegrasian keilmuan agama dan sains dalam proses pendidikan.
“Integrasi harus hadir dalam perangkat pembelajaran, cara guru mengajar, pengembangan riset, serta pengalaman belajar peserta didik. Oleh karena itu, madrasah unggulan memiliki ruang besar untuk membangun kolaborasi dengan perguruan tinggi dalam mengembangkan model pembelajaran yang menghubungkan keilmuan keagamaan dengan sains dan teknologi,” tegasnya.
Hasniah mengatakan kerja sama itu perlu dibangun secara substantif dan berkelanjutan. UIN Bandung dapat berkontribusi melalui kepakaran dosen, penelitian, pendampingan guru, pengembangan modul, serta program penguatan kompetensi siswa dan madrasah.
“Model semacam ini membuka peluang bagi UIN Bandung untuk berperan melalui kepakaran dosen, penelitian, pendampingan guru, pengembangan modul, serta program penguatan kompetensi siswa dan madrasah,” jelas Hasniah.
Ia menegaskan, UIN Bandung diharapkan tidak hanya menjadi mitra kegiatan, tetapi bagian dari ekosistem pengembangan madrasah.
“UIN Bandung tidak hanya ditempatkan sebagai mitra kegiatan, tetapi sebagai bagian dari ekosistem pengembangan madrasah melalui penguatan kurikulum, integrasi keilmuan, riset, inovasi pembelajaran, pengembangan sumber daya manusia, hingga pembinaan peserta didik,” tuturnya.
Sinergi Kanwil Kemenag Jawa Barat, UIN Bandung, dan delapan madrasah tersebut diharapkan menghasilkan program konkret untuk membentuk lulusan yang berkarakter, adaptif, serta menguasai ilmu agama dan sains secara terpadu.
Dukung jurnalis Headline.co.id secara gratis Atau Berkontribusi Traktir KopiUntuk pengembangan Headline Media
Gambar tidak dapat dimuat.



















