Headline.co.id ~ Presiden Prabowo Subianto menegaskan kebijakan pemerintah dan pembangunan nasional harus berpijak pada fakta, realitas, serta pendekatan ilmiah. Penegasan itu disampaikan saat menerima para periset Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) di Istana Kepresidenan Jakarta, Kamis (6/8/2026). Menurut Prabowo, pengambilan kebijakan berbasis bukti diperlukan agar pemerintah dapat menemukan solusi yang tepat atas berbagai persoalan bangsa. Ia juga mendorong penguatan riset, inovasi, sains, dan teknologi untuk mendukung terwujudnya Indonesia yang maju, mandiri, dan berdaya saing.
Dalam arahannya, Prabowo mengajak jajaran pemerintah membangun budaya kepemimpinan yang menjadikan fakta sebagai dasar dalam mengambil keputusan. Ia mengingatkan bahwa realitas tidak selalu menyenangkan untuk dihadapi, tetapi keberanian melihat keadaan sebenarnya merupakan langkah awal untuk menyelesaikan masalah.
“Saya terutama mengajak tim saya dan saudara-saudara sekalian kalau saya memimpin, saya sukanya itu memimpin dengan fakta, facts, realita dengan keadaan yang sebenarnya. Kadang-kadang fakta itu ya tidak enak, kadang-kadang melihat realita itu tidak enak, terus terang saja,” ujar Presiden.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
Kebijakan pemerintah perlu berbasis bukti
Presiden menilai pembangunan tidak akan maju apabila pemerintah hanya berfokus pada keluhan atau mencari pihak yang harus dipersalahkan. Karena itu, ia meminta seluruh pihak menghadapi persoalan berdasarkan kondisi yang ada dan mengarahkan perhatian pada penyusunan solusi.
“Satu yang saya bilang, jangan mengeluh, jangan mencari kambing hitam, karena itu tidak akan membantu,” tegasnya.
Penegasan tersebut berkaitan dengan pentingnya penguatan budaya pengambilan kebijakan berbasis bukti atau evidence-based policy. Dengan pendekatan itu, keputusan pemerintah didorong untuk disusun berdasarkan fakta dan realitas, bukan semata-mata melalui asumsi.
Prabowo menyebut pendekatan rasional dan ilmiah sebagai landasan penting dalam mewujudkan cita-cita Indonesia menjadi negara maju, adil, dan makmur. Ia mengajak seluruh pihak menggunakan fakta, sains, dan matematika dalam menyelesaikan berbagai persoalan nasional.
Penguasaan sains dan teknologi diperkuat
Selain menyoroti proses pengambilan kebijakan, Presiden juga menekankan penguasaan sains dan teknologi sebagai fondasi daya saing bangsa. Menurut dia, Indonesia memiliki sumber daya manusia yang besar dan perlu dikembangkan secara berkelanjutan agar mampu menghasilkan inovasi yang bermanfaat.
Para saintis, lanjut Prabowo, perlu dicari, dibina, diberi kesempatan, didukung, dan dikembangkan melalui suatu proses. Ia menyampaikan hal itu saat menjelaskan bahwa sumber daya manusia merupakan salah satu modal yang dimiliki Indonesia.
“Jadi kita sebetulnya bahan bakunya banyak sekali, tapi ya apapun yang kita punya harus, saudara-saudara saintis kan, harus dicari, dibina, diberi kesempatan, dibesarkan, didukung melalui suatu proses,” lanjut Presiden.
Penguatan kapasitas para periset dan dukungan terhadap inovasi dinilai penting agar potensi yang dimiliki Indonesia dapat berkontribusi terhadap pembangunan. Dalam arahannya, Prabowo menghubungkan penguasaan ilmu pengetahuan dengan kemampuan bangsa untuk menjadi lebih mandiri dan berdaya saing.
Fakta, sains, dan matematika sebagai landasan
Prabowo kembali menekankan bahwa penyelesaian masalah nasional harus dilakukan dengan cara yang rasional. Ia mengingatkan, pendekatan yang tidak didasarkan pada rasionalitas dapat membuat pemerintah keliru dalam memahami persoalan maupun menentukan kebijakan.
“Kalau kita mendekati dengan cara saintifik, cara rasional, jangan dengan cara lain daripada rasional ya. Nanti kita akan keliru, rasional, science, mathematics, reality. Reality is science, reality is mathematics. Nah jadi kadang-kadang fakta menyakitkan,” katanya.
Presiden optimistis dukungan terhadap riset, inovasi, serta penguasaan sains dan teknologi dapat mempercepat terwujudnya Indonesia yang maju, mandiri, dan berdaya saing menuju Indonesia Emas 2045.
Sumber: BPMI Setpres.
Dukung jurnalis Headline.co.id secara gratis Atau Berkontribusi Traktir KopiUntuk pengembangan Headline Media
Gambar tidak dapat dimuat.


















