Headline.co.id, Jakarta ~ Badan Gizi Nasional (BGN) meminta guru dan tenaga kependidikan terlibat aktif dalam pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di sekolah. Keterlibatan itu diarahkan untuk mengedukasi siswa mengenai pola makan sehat sekaligus memastikan makanan yang diterima peserta didik memenuhi standar keamanan pangan. Kepala BGN Sudaryono menyampaikan hal tersebut dalam rapat koordinasi tata kelola dan penyelenggaraan MBG di sekolah secara daring pada Sabtu (8/8/2026). Menurutnya, pengawasan dilakukan melalui pemeriksaan makanan sebelum dibagikan kepada siswa, sementara guru didorong ikut mengonsumsi menu MBG sebagai contoh kebiasaan hidup sehat.
Guru Didorong Berperan dalam Edukasi MBG
Sudaryono mengatakan, MBG tidak hanya ditujukan untuk memenuhi kebutuhan gizi peserta didik. Program tersebut juga diharapkan menjadi sarana pendidikan dan pembentukan karakter siswa di lingkungan sekolah.
“Tujuannya tadi disampaikan oleh Pak Menteri (Dikdasmen) adalah supaya sebagai ajang edukasi, menjadi tempat untuk mengedukasi siswa. Selain itu, bapak, ibu guru kami mohon perannya sebagai organoleptik yang terakhir,” kata Sudaryono.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
Ia menjelaskan, guru dapat memperkuat fungsi MBG sebagai bagian dari proses pembelajaran dengan turut mengonsumsi makanan bersama peserta didik. Kehadiran guru di tengah pelaksanaan makan bersama juga dinilai dapat menjadi contoh bagi siswa dalam membangun kebiasaan mengonsumsi makanan sehat dan bergizi.
Dengan pendekatan tersebut, pelaksanaan MBG tidak berhenti pada pemberian makanan. Program ini diharapkan membantu membangun kesadaran siswa mengenai pentingnya pola hidup sehat melalui kebiasaan yang diterapkan secara langsung di sekolah.
Pemeriksaan Makanan Dilakukan Sebelum Dibagikan
Untuk memperkuat pengawasan keamanan pangan, BGN menyiapkan petugas penanggung jawab atau person in charge (PIC) di tingkat sekolah. PIC berasal dari tenaga kependidikan, seperti tenaga administrasi atau tata usaha.
Sebanyak dua orang PIC bertugas menerima makanan yang dikirim dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Sebelum makanan dibagikan kepada peserta didik, mereka melakukan pemeriksaan secara organoleptik.
Pemeriksaan itu dilakukan dengan melihat kondisi makanan, mencium aroma, dan mencicipi sampel makanan. Tahapan tersebut menjadi salah satu lapisan pemeriksaan untuk memastikan makanan berada dalam kondisi aman sebelum dikonsumsi siswa.
“PIC juga melakukan satu mekanisme organoleptik, yaitu dibuka, diambil sampelnya, kemudian dibau, dicium, dirasa, dilihat. Manakala tidak memenuhi standar, maka wajib hukumnya tidak diberikan kepada siswa,” ujar Sudaryono.
Ia menegaskan, makanan yang tidak memenuhi standar berdasarkan pemeriksaan tersebut tidak boleh diberikan kepada peserta didik. PIC disebut menjadi salah satu lapisan terakhir dalam mekanisme pengawasan keamanan pangan MBG di sekolah.
“Jadi PIC itu adalah layer terakhir kedua, yang memastikan bahwa menu makanan itu aman dan tidaknya,” katanya.
MBG Dikaitkan dengan Pendidikan Karakter
Dalam rapat koordinasi yang sama, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti menyampaikan bahwa pelaksanaan MBG di satuan pendidikan merupakan bagian integral dari kebijakan penguatan pendidikan karakter.
Mu’ti mengaitkan program tersebut dengan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat, yakni bangun pagi, beribadah, berolahraga, makan sehat dan bergizi, gemar belajar, bermasyarakat, serta tidur cepat.
Menurutnya, guru dan tenaga kependidikan memiliki posisi strategis dalam memastikan MBG berjalan dengan baik di sekolah. Namun, keterlibatan itu tidak dimaksudkan untuk menambah beban pekerjaan guru.
“MBG yang diselenggarakan di sekolah tidaklah dimaksudkan untuk membebani dan menambah tugas bapak, ibu guru sekalian,” ujar Abdul Mu’ti.
Ia menjelaskan, pendidikan tidak hanya berhubungan dengan transfer pengetahuan dan keterampilan, tetapi juga proses penanaman nilai serta karakter. Kebiasaan mengonsumsi makanan sehat dan bergizi dapat menjadi bagian dari proses tersebut.
Karena itu, sinergi BGN, sekolah, guru, tenaga kependidikan, dan peserta didik dinilai penting agar MBG memberikan manfaat yang lebih luas. Selain mendukung pemenuhan kebutuhan gizi anak, program tersebut diharapkan membentuk kebiasaan hidup sehat dan karakter generasi muda.
Upaya ini sejalan dengan agenda pembangunan sumber daya manusia dalam Asta Cita, khususnya penguatan kualitas pendidikan dan kesehatan masyarakat untuk mewujudkan generasi Indonesia yang sehat, kuat, berkarakter, dan berdaya saing.
Dukung jurnalis Headline.co.id secara gratis Atau Berkontribusi Traktir KopiUntuk pengembangan Headline Media
Gambar tidak dapat dimuat.



















