Headline.co.id, Ketapang ~ Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, belum sepenuhnya padam hingga Rabu, 30 September 2026. Polres Ketapang memproses 30 laporan terkait dugaan karhutla, sementara 56 titik api kategori medium masih terpantau menyala. Penanganan dilakukan polisi bersama TNI, Pemerintah Kabupaten Ketapang, Manggala Agni, dan instansi terkait melalui pemadaman darat serta water bombing. Langkah tersebut ditempuh karena hujan yang turun pada Minggu, 27 September 2026, belum merata di sejumlah wilayah.
Kapolres Ketapang AKBP Putra Pratama mengatakan, dari total 30 laporan yang ditangani, 19 di antaranya telah berbentuk laporan polisi. Rinciannya, tiga laporan berkaitan dengan korporasi dan 16 laporan terkait perorangan. Sementara itu, laporan lainnya masih berada dalam bentuk laporan informasi.
“Jadi sampai saat ini totalnya ada 30 laporan yang sedang diproses kaitannya dengan karhutla,” kata Putra seusai bersilaturahmi dengan Koalisi Wartawan (KAWAN) Ketapang, Selasa (29/9/2026).
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
56 titik api masih terpantau
Penegakan hukum terhadap dugaan karhutla berjalan bersamaan dengan upaya pemadaman di sejumlah wilayah Ketapang. Hujan yang mengguyur sebagian wilayah pada Minggu berhasil memadamkan banyak titik api. Namun, curah hujan yang belum merata menyebabkan titik api masih ditemukan di lapangan.
Berdasarkan pemantauan, masih terdapat 56 titik api kategori medium yang terpantau menyala. Sejumlah wilayah di Kecamatan Kendawangan dan Air Upas disebut belum mendapatkan hujan. Kondisi serupa juga terjadi di beberapa desa di Kecamatan Matan Hilir Utara.
Situasi tersebut membuat personel gabungan tetap dikerahkan untuk menangani titik api yang masih aktif. Polres Ketapang berkoordinasi dengan TNI, Pemerintah Kabupaten Ketapang, Manggala Agni, serta instansi terkait dalam proses pemadaman.
Water bombing untuk titik api sulit dijangkau
Untuk lokasi yang sulit dijangkau melalui jalur darat, pemadaman dilakukan menggunakan metode water bombing. Operasi ini didukung helikopter yang disiagakan di Ketapang. Polisi juga terus berkoordinasi dalam hal modifikasi cuaca untuk mendukung penanganan karhutla.
“Water bombing juga kita galakkan untuk memadamkan 56 titik api, dengan memanfaatkan helikopter yang standby di Ketapang, kita juga terus berkoordinasi dalam hal modifikasi cuaca,” ujar Putra.
Sementara itu, titik api yang masih dapat dijangkau melalui jalur darat ditangani oleh personel gabungan. Proses pemadaman didukung pasokan air menggunakan mobil tangki.
Penanganan karhutla Ketapang juga diperkuat personel bantuan kendali operasi atau BKO Brimob dari Polda Bali, Polda Kalimantan Timur, dan Polda Kalimantan Barat. Personel tersebut turut diterjunkan untuk membantu pemadaman di wilayah yang masih terdampak.
Polisi ingatkan larangan membakar lahan
Selain melakukan pemadaman dan memproses laporan dugaan karhutla, polisi mengingatkan masyarakat agar tidak membuka atau membersihkan lahan dengan cara membakar. Imbauan itu disampaikan karena asap akibat karhutla dapat mengganggu berbagai aktivitas masyarakat.
Putra meminta masyarakat Ketapang tidak melakukan pembakaran untuk keperluan apa pun. Menurut dia, dampak asap karhutla dirasakan pada berbagai sendi kehidupan masyarakat.
“Kami mengimbau kepada seluruh masyarakat Ketapang untuk tidak melakukan pembakaran untuk alasan apa pun. Karena asap ini dampaknya pada seluruh sendi kehidupan masyarakat,” tegasnya.
Dengan masih adanya 56 titik api, upaya pemadaman melalui jalur darat dan udara terus dilakukan. Di sisi lain, proses penanganan 30 laporan dugaan karhutla tetap berjalan, termasuk laporan yang berkaitan dengan korporasi dan perorangan.
Dukung jurnalis Headline.co.id secara gratis Atau Berkontribusi Traktir KopiUntuk pengembangan Headline Media
Gambar tidak dapat dimuat.

















