Headline.co.id, Pelalawan ~ PT Bumi Siak Pusako (BSP) menyelesaikan rehabilitasi Daerah Aliran Sungai (DAS) seluas 772 hektare di kawasan Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN), Desa Bagan Limau, Kabupaten Pelalawan, Riau. Program rehabilitasi DAS tersebut rampung pada 2026 sebagai kewajiban perusahaan pemegang Izin Pinjam Pakai Kawasan Hutan (IPPKH). Penyelesaian program ditandai dengan penandatanganan Berita Acara Serah Terima (BAST) oleh Direktur Jenderal Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Rehabilitasi Hutan (PDASRH), Dyah Murtiningsih. Rehabilitasi dilakukan melalui penanaman, pemeliharaan, dan pemantauan tanaman sesuai ketentuan pemerintah untuk mendukung pemulihan ekosistem kawasan konservasi.
Direktur PT BSP Robi Junipa mengatakan rehabilitasi DAS 772 hektare tersebut tidak semata-mata dilakukan untuk memenuhi kewajiban perusahaan. Menurut dia, program itu juga diarahkan untuk membantu memulihkan fungsi ekosistem di kawasan Taman Nasional Tesso Nilo.
“Kegiatan rehabilitasi DAS seluas 772 hektare telah dapat diselesaikan dengan baik sesuai dengan ketentuan yang berlaku,” kata Robi, Selasa (29/9/2026).
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
Rehabilitasi DAS Tesso Nilo Diharapkan Pulihkan Habitat
Robi berharap rehabilitasi DAS di Tesso Nilo dapat memberikan dampak terhadap pemulihan tutupan hutan, perbaikan fungsi DAS, dan peningkatan kualitas habitat satwa liar. Ia menyebut upaya tersebut menjadi bagian dari dukungan terhadap keberlanjutan kawasan konservasi.
“Harapan kami, upaya rehabilitasi ini dapat memberikan dampak nyata terhadap pemulihan tutupan hutan, perbaikan fungsi DAS, serta peningkatan kualitas habitat satwa liar di kawasan Taman Nasional Tesso Nilo,” ujar dia.
Taman Nasional Tesso Nilo memiliki luas 81.793 hektare yang berada di Kabupaten Pelalawan dan Indragiri Hulu. Kawasan tersebut merupakan salah satu habitat penting bagi gajah Sumatra serta memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi.
Namun, TNTN masih menghadapi tekanan berupa perambahan hutan dan perubahan fungsi lahan. Kondisi tersebut menjadi konteks penting dalam pelaksanaan rehabilitasi DAS yang ditujukan untuk mendukung pemulihan ekosistem kawasan.
Tantangan Pelaksanaan Rehabilitasi
Pelaksanaan rehabilitasi DAS di kawasan Tesso Nilo menghadapi sejumlah tantangan. Tantangan tersebut meliputi kondisi lahan yang terdegradasi, dinamika pemanfaatan kawasan, cuaca, serta karakteristik tanah.
Dalam pelaksanaan dan pengawasan program, PT BSP melibatkan pemangku kepentingan lokal. Pelibatan tersebut dilakukan dalam rangka mendukung rangkaian penanaman, pemeliharaan, dan pemantauan tanaman hingga program mencapai tahap serah terima.
TM Legal & Land Matters PT BSP Indra Saputra mengatakan penyelesaian program hingga tahap serah terima merupakan bagian penting dari rangkaian rehabilitasi DAS.
“Kami berharap apa yang telah dilakukan dapat memberikan manfaat nyata bagi pemulihan ekosistem dan lingkungan di kawasan Taman Nasional Tesso Nilo,” kata Indra.
Bagian dari Pemulihan Ekosistem Tesso Nilo
PT BSP merupakan pengelola wilayah kerja migas Coastal Plain Pekanbaru (CPP) di bawah pengawasan SKK Migas. Rehabilitasi DAS seluas 772 hektare tersebut menjadi bagian dari upaya pemulihan ekosistem Tesso Nilo.
Program itu juga berlangsung dalam konteks kebijakan pemulihan kawasan hutan. Pada Maret 2026, Kementerian Kehutanan meluncurkan program reforestasi dengan target pemulihan 66.704 hektare hingga 2028.
Dengan selesainya rehabilitasi dan penandatanganan BAST, PT BSP menyatakan rangkaian kewajibannya dalam program tersebut telah dilaksanakan sesuai ketentuan pemerintah. Perusahaan berharap hasil rehabilitasi dapat mendukung pemulihan tutupan hutan, fungsi DAS, serta habitat satwa liar di TNTN.
Dukung jurnalis Headline.co.id secara gratis Atau Berkontribusi Traktir KopiUntuk pengembangan Headline Media
Gambar tidak dapat dimuat.



















