Headline.co.id, Pulang Pisau ~ Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Pulang Pisau, Kalimantan Tengah, berdampak langsung terhadap kesehatan masyarakat. Pada Kamis (24/9/2026), konsentrasi partikulat PM2.5 di wilayah tersebut sempat mencapai 1.717 µg/m³ atau masuk kategori berbahaya. Kondisi itu mendorong sedikitnya 99 warga menjalani penanganan akibat Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di sejumlah fasilitas kesehatan. Pemerintah daerah memperkuat operasi pemadaman untuk menekan sebaran api dan mengurangi paparan asap, terutama bagi kelompok rentan.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pulang Pisau, Osa Maliki, menyampaikan kondisi kualitas udara tersebut saat memantau Posko Induk BPBD. Berdasarkan instrumen pemantauan, angka PM2.5 di Pulang Pisau jauh melampaui ambang batas aman atau baku mutu yang diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 2021, yakni 55 µg/m³.
Kabut asap pekat yang menyelimuti wilayah pesisir Kalimantan Tengah itu juga kerap terbawa angin hingga membayangi kualitas udara di wilayah tetangga, termasuk Kota Palangkaraya. Situasi tersebut membutuhkan langkah mitigasi lintas sektor untuk menangani dampak kesehatan sekaligus mengendalikan karhutla yang masih meluas.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
99 Warga Ditangani akibat ISPA
Data harian Dinas Kesehatan Pulang Pisau mencatat sedikitnya 99 warga terjangkit ISPA. Para pasien ditangani di sejumlah puskesmas, rumah sakit, serta posko medis yang disiagakan dalam penanganan karhutla.
Puskesmas Pulang Pisau menangani jumlah pasien terbanyak, yakni 16 orang. Berikutnya, Puskesmas Maliku menangani 14 pasien, Puskesmas Pangkoh 12 pasien, dan Puskesmas Bereng 11 pasien.
Kasus lainnya ditangani Puskesmas Bukit Rawi, Puskesmas Bawan, RSUD Pulang Pisau, serta tim medis yang berjaga di Posko Karhutla. Puskesmas Sebangau, Tangkahen, Tahai, dan Jabiren juga mencatat penanganan pasien dalam jumlah lebih kecil. Sementara itu, Puskesmas Bahaur Tengah dan Hilir belum mencatat laporan kasus.
Osa meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan dan mengurangi paparan asap di luar ruangan. Imbauan itu terutama ditujukan kepada anak-anak, warga lanjut usia, serta masyarakat yang memiliki riwayat gangguan sistem pernapasan.
Karhutla Pulang Pisau Menyebar di Delapan Kecamatan
Di tengah memburuknya kualitas udara, karhutla tercatat menyebar secara sporadis di delapan kecamatan dan menghanguskan ribuan hektare lahan. Berdasarkan rekapitulasi pemetaan Posko Induk Siaga Karhutla, Sebangau Kuala menjadi wilayah dengan jumlah titik panas terbanyak, yakni 10.200 hotspot. Kebakaran di wilayah itu tercatat dalam 27 kejadian dengan luas lahan terdampak 316,7 hektare.
Kerusakan lahan terluas dilaporkan terjadi di Jabiren Raya. Sebanyak 5.392 hotspot di kawasan itu membakar lahan seluas 2.838,9 hektare.
Wilayah lain yang terdampak ialah Pandih Batu dengan 5.887 hotspot, Kahayan Kuala 4.691 hotspot, Kahayan Hilir 2.472 hotspot, Kahayan Tengah 1.998 hotspot, Banama Tingang 1.520 hotspot, dan Maliku 21 hotspot.
Rincian rekapitulasi Posko Induk Siaga Karhutla mencatat Banama Tingang mengalami 21 kejadian dengan luas lahan terbakar 121,2 hektare. Maliku mencatat tiga kejadian dengan luas 19,5 hektare, Kahayan Tengah 33 kejadian dengan luas 399,9 hektare, Pandih Batu 16 kejadian dengan luas 149,2 hektare, Kahayan Kuala 25 kejadian dengan luas 532 hektare, dan Kahayan Hilir 47 kejadian dengan luas 371,28 hektare.
Operasi Pemadaman Diperkuat
BPBD Pulang Pisau memperkuat operasi penanggulangan melalui posko-posko taktis di garis depan. Upaya tersebut dilakukan dengan pemadaman darat, pembasahan gambut, pembuatan sekat bakar, serta pengendalian titik api.
Osa menegaskan, sinergi dan kepedulian aktif masyarakat setempat diperlukan agar pemadaman serta pencegahan rambatan api baru dapat dilakukan secara maksimal. Langkah tersebut dijalankan bersamaan dengan upaya mengurangi dampak kabut asap terhadap kesehatan warga.
Dukung jurnalis Headline.co.id secara gratis Atau Berkontribusi Traktir KopiUntuk pengembangan Headline Media
Gambar tidak dapat dimuat.




















