Headline.co.id, Jakarta ~ Rusia kembali melontarkan peringatan keras kepada Inggris setelah muncul laporan bahwa Ukraina menggunakan drone buatan Inggris untuk menyerang sasaran jauh di wilayah Rusia. Moskow menilai dukungan London terhadap kemampuan serangan jarak jauh Kyiv telah memperdalam keterlibatan Inggris dalam perang yang berlangsung sejak Februari 2022. Ketegangan terbaru dipicu laporan mengenai dua jenis drone Inggris, termasuk satu tipe yang disebut mampu menjangkau sasaran hingga sekitar 960 kilometer.
Rusia melalui Kedutaan Besarnya di London menuding Inggris secara sengaja mendorong eskalasi krisis Ukraina. Moskow menyatakan semakin besar keterlibatan London dalam konflik, semakin besar pula konsekuensi yang menurut Rusia harus ditanggung Inggris.
Kemarahan Rusia terutama berkaitan dengan laporan bahwa drone yang diberikan Inggris telah digunakan Ukraina dalam sejumlah serangan terhadap target di wilayah Rusia. Sasaran yang disebut dalam laporan antara lain fasilitas kilang minyak dan gudang milik perusahaan ritel daring Wildberries.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
“London telah memilih eskalasi krisis Ukraina secara sengaja,” kata Kedutaan Besar Rusia dalam sebuah pernyataan.
Peringatan tersebut kemudian diperkuat dengan pernyataan mengenai kemungkinan konsekuensi terhadap London.
“Semakin dalam keterlibatannya dalam konflik dan semakin besar dukungannya terhadap mesin teror Kyiv, semakin tinggi harga yang harus dibayar,” demikian pernyataan Kedutaan Besar Rusia.
Meski demikian, Moskow belum menjelaskan secara terperinci apa yang dimaksud dengan “harga” atau konsekuensi yang harus ditanggung Inggris.
Mengapa Drone Inggris Membuat Rusia Bereaksi?
Pemicu utama ketegangan terbaru adalah laporan mengenai penggunaan drone buatan Inggris dalam kampanye serangan jarak jauh Ukraina.
The Sunday Times sebelumnya melaporkan Kyiv menerima dua jenis drone dari Inggris. Salah satunya memiliki jangkauan sekitar 240 kilometer, sedangkan tipe lainnya disebut mampu terbang hingga sekitar 960 kilometer.
Jangkauan tersebut menjadi perhatian karena memungkinkan Ukraina menyerang sasaran yang berada jauh dari garis depan pertempuran.
Drone-drone itu dilaporkan telah digunakan dalam serangkaian serangan Ukraina selama musim panas terhadap sasaran di Rusia.
Laporan mengenai penggunaan drone buatan Inggris tersebut kemudian diperkuat oleh sumber militer yang dikutip BBC.
Namun, bahan yang tersedia tidak menjelaskan jumlah drone yang telah dikirim Inggris, jumlah yang digunakan dalam operasi, ataupun seluruh lokasi serangan yang melibatkan perangkat tersebut.
Jangkauan 960 Kilometer Jadi Sorotan
Kemampuan salah satu drone untuk menjangkau sekitar 960 kilometer menjadi salah satu faktor yang membuat laporan tersebut mendapat perhatian.
Berbeda dengan persenjataan yang hanya digunakan di sekitar garis depan, drone jarak jauh memungkinkan serangan dilakukan terhadap fasilitas yang terletak jauh di dalam wilayah Rusia.
Dalam laporan yang tersedia, fasilitas kilang minyak dan gudang milik perusahaan ritel daring Wildberries termasuk di antara target yang disebut terkena serangan.
Bagi Moskow, persoalan itu tidak hanya menyangkut serangan Ukraina, tetapi juga asal peralatan yang digunakan.
Rusia menilai penyediaan perangkat serangan jarak jauh oleh Inggris menunjukkan bahwa dukungan negara Barat kepada Kyiv telah berkembang menjadi keterlibatan yang semakin besar dalam konflik.
Rusia Belum Jelaskan Bentuk Konsekuensi
Meskipun menggunakan bahasa yang keras, Rusia belum mengungkap tindakan konkret yang akan diambil terhadap Inggris.
Pernyataan Kedutaan Besar Rusia hanya menegaskan bahwa semakin besar keterlibatan London, semakin tinggi pula harga yang harus dibayar.
Tidak ada penjelasan dalam bahan yang tersedia apakah konsekuensi tersebut akan berupa langkah diplomatik, kebijakan politik, tindakan ekonomi, atau bentuk respons lainnya.
Karena itu, ancaman Moskow sejauh ini tetap berupa peringatan terbuka kepada pemerintah Inggris.
Inggris Tetap Berdiri di Sisi Ukraina
Peringatan Rusia belum mengubah posisi pemerintah Inggris dalam mendukung Kyiv.
Kementerian Pertahanan Inggris menyatakan negaranya akan terus memberikan dukungan kepada Ukraina dan menyediakan peralatan yang dibutuhkan untuk menghadapi invasi Rusia.
Sikap tersebut menunjukkan perbedaan mendasar antara kedua negara.
London memandang bantuan kepada Ukraina sebagai bagian dari dukungan terhadap Kyiv dalam menghadapi invasi, sedangkan Moskow menilai pasokan persenjataan Barat semakin memperbesar eskalasi perang.
Perbedaan pandangan tersebut kini semakin tajam ketika bantuan yang diberikan dikaitkan dengan kemampuan serangan berjangkauan ratusan kilometer.
Serangan Ukraina ke Rusia Meningkat
Perselisihan antara Rusia dan Inggris terjadi ketika intensitas serangan antara Moskow dan Kyiv kembali meningkat.
Enam orang dilaporkan tewas dan empat lainnya terluka akibat serangan rudal Ukraina di wilayah Belgorod, Rusia, pada malam hari.
Serangan tersebut terjadi setelah apa yang disebut pejabat Rusia sebagai serangan drone Ukraina terbesar tahun ini.
Moskow menyatakan Ukraina meluncurkan lebih dari 800 drone ke wilayah Rusia pada Sabtu malam. Sekitar 600 drone di antaranya disebut menyasar Moskow.
Sedikitnya tujuh orang dilaporkan tewas dalam serangan tersebut.
Sementara itu, Ukraina juga melaporkan serangan Rusia menimbulkan korban di wilayahnya.
Dua orang tewas akibat serangan drone Rusia di wilayah Sumy, dekat perbatasan kedua negara.
Pada malam yang sama, serangan Rusia di sejumlah wilayah Ukraina dilaporkan menewaskan sedikitnya tujuh orang dan melukai lebih dari 39 orang, berdasarkan keterangan pejabat Ukraina.
Hubungan Rusia dan Barat Semakin Tegang
Persoalan drone Inggris menambah daftar ketegangan antara Rusia dan negara-negara Barat sejak invasi skala penuh terhadap Ukraina dimulai pada Februari 2022.
Moskow saat ini disebut menguasai sekitar seperlima wilayah Ukraina.
Dalam konflik tersebut, dukungan militer negara Barat menjadi salah satu isu yang terus dipersoalkan Rusia, terutama ketika bantuan tersebut meningkatkan kemampuan Ukraina melakukan serangan jarak jauh.
Ketegangan terbaru dengan Inggris memperlihatkan bahwa perdebatan tidak lagi hanya mengenai pengiriman perlengkapan militer, tetapi juga bagaimana persenjataan tersebut digunakan di medan perang.
Rusia Perkuat Hubungan dengan Korea Utara
Ketika hubungannya dengan Inggris kembali memanas, Rusia juga terus mempererat kerja sama dengan Korea Utara.
Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un menyampaikan kebanggaannya terhadap hubungan kedua negara dalam sebuah surat kepada Presiden Rusia Vladimir Putin.
“Saya selalu bangga dapat mengharapkan masa depan hubungan bilateral yang lebih unggul dengan memimpin, bersama Anda, hubungan DPRK-Rusia yang telah meneruskan sejarah perjuangan bersama,” kata Kim dalam suratnya, menurut siaran berbahasa Inggris Korean Central News Agency (KCNA), dikutip AFP, Minggu (16/8).
Kim juga menyatakan memiliki “keyakinan teguh” bahwa Rusia akan berkembang dan mempertahankan “keutuhan wilayah” di bawah kepemimpinan Putin.
Putin sebelumnya mengirim surat kepada Kim yang disampaikan pada Jumat (14/8) untuk memperingati pembebasan Korea dari penjajahan Jepang pada akhir Perang Dunia II.
Dalam surat tersebut, Putin menyatakan hubungan kedua negara telah mencapai “tingkat kemitraan strategis komprehensif yang belum pernah ada sebelumnya”.
“Negara-negara kita aktif bekerja sama di semua sektor sembari melakukan upaya bersama untuk memastikan keamanan dan stabilitas kawasan,” ujar Putin.
Hubungan dengan Korea Utara menjadi semakin penting bagi Moskow di tengah perang Ukraina dan ketegangan dengan negara-negara Barat.
Pada saat yang sama, persoalan drone Inggris menunjukkan potensi munculnya titik konflik baru antara Rusia dan London. Selama Inggris terus memberikan dukungan militer kepada Ukraina dan Kyiv mempertahankan kemampuan menyerang jauh ke wilayah Rusia, isu keterlibatan negara Barat diperkirakan tetap menjadi salah satu pusat ketegangan dalam perang tersebut.




















