Headline.co.id, Jakarta ~ Ketegangan Rusia dan Inggris kembali meningkat setelah muncul laporan bahwa Ukraina menggunakan drone buatan Inggris dengan jangkauan hingga sekitar 960 kilometer untuk menyerang sasaran jauh di wilayah Rusia. Moskow melalui Kedutaan Besar Rusia di London memperingatkan adanya “konsekuensi” atas semakin besarnya dukungan Inggris terhadap Kyiv. Perselisihan terbaru itu muncul ketika serangan jarak jauh Rusia dan Ukraina terus berlangsung dan menimbulkan korban di kedua pihak.
Rusia menilai penggunaan drone buatan Inggris dalam operasi Ukraina menunjukkan semakin dalamnya keterlibatan London dalam konflik. Salah satu dari dua jenis drone yang dilaporkan diberikan Inggris kepada Ukraina memiliki jangkauan sekitar 240 kilometer, sedangkan tipe lainnya disebut mampu mencapai sekitar 960 kilometer.
Pemerintah Rusia belum menjelaskan secara rinci bentuk konsekuensi yang dimaksud dalam peringatannya kepada Inggris. Namun, Moskow secara terbuka menuding London memilih mendorong eskalasi konflik melalui dukungan yang diberikan kepada Ukraina.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
“London telah memilih eskalasi krisis Ukraina secara sengaja,” kata Kedutaan Besar Rusia dalam sebuah pernyataan.
Moskow juga mengingatkan bahwa semakin besar keterlibatan Inggris dalam perang, semakin besar pula harga yang menurut Rusia harus ditanggung London.
“Semakin dalam keterlibatannya dalam konflik dan semakin besar dukungannya terhadap mesin teror Kyiv, semakin tinggi harga yang harus dibayar,” demikian pernyataan Kedutaan Besar Rusia.
Drone Berjangkauan 960 Km Jadi Pusat Perhatian
Sorotan terhadap hubungan Rusia dan Inggris meningkat setelah The Sunday Times melaporkan Ukraina telah menerima dua jenis drone buatan Inggris.
Salah satu drone disebut memiliki kemampuan terbang sekitar 240 kilometer. Sementara jenis lainnya dilaporkan mempunyai jangkauan jauh lebih besar, yakni sekitar 960 kilometer.
Kemampuan tersebut memungkinkan drone menjangkau sasaran yang berada jauh dari garis pertempuran. Dalam laporan yang tersedia, drone-drone tersebut disebut telah digunakan Ukraina dalam serangkaian serangan selama musim panas terhadap sejumlah sasaran di wilayah Rusia.
Beberapa target yang disebut antara lain fasilitas kilang minyak serta gudang milik perusahaan ritel daring Wildberries.
Laporan mengenai penggunaan drone buatan Inggris tersebut kemudian diperkuat oleh sumber militer yang dikutip BBC.
Namun, bahan yang tersedia tidak menyebutkan jumlah drone yang diterima Ukraina maupun berapa banyak serangan yang secara spesifik menggunakan drone tersebut.
Rusia Soroti Keterlibatan Inggris dalam Konflik
Bagi Moskow, persoalan utama bukan hanya kemampuan teknis drone, tetapi juga dukungan negara Barat terhadap kemampuan serangan jarak jauh Ukraina.
Rusia berulang kali memandang bantuan persenjataan kepada Kyiv sebagai bentuk keterlibatan yang semakin dalam dalam konflik. Pernyataan terbaru Kedutaan Besar Rusia di London memperlihatkan bahwa Moskow secara khusus menyoroti peran Inggris setelah muncul laporan penggunaan drone tersebut.
Meski melontarkan peringatan keras, Rusia belum menyebut apakah konsekuensi terhadap Inggris akan berbentuk langkah diplomatik, politik, ataupun tindakan lainnya.
Ketiadaan penjelasan rinci tersebut membuat pernyataan Moskow sejauh ini tetap berupa peringatan terbuka terhadap kebijakan London.
Inggris Tetap Dukung Ukraina
Di tengah ancaman dari Rusia, pemerintah Inggris tidak menunjukkan perubahan sikap mengenai dukungannya kepada Ukraina.
Kementerian Pertahanan Inggris menegaskan negaranya akan terus mendukung Kyiv dan menyediakan peralatan yang dibutuhkan Ukraina untuk menghadapi invasi Rusia.
Sikap tersebut menunjukkan perbedaan tajam antara London dan Moskow. Inggris mempertahankan dukungannya kepada Ukraina, sedangkan Rusia menilai bantuan persenjataan Barat turut mendorong eskalasi konflik.
Perbedaan itu semakin sensitif ketika peralatan yang diberikan memiliki kemampuan menyerang sasaran dengan jarak ratusan kilometer.
Serangan Rusia-Ukraina Sama-sama Menelan Korban
Ketegangan diplomatik Rusia-Inggris berlangsung ketika serangan antara Rusia dan Ukraina kembali meningkat.
Enam orang dilaporkan tewas dan empat lainnya terluka akibat serangan rudal Ukraina di wilayah Belgorod, Rusia, pada malam hari.
Sementara itu, otoritas Ukraina melaporkan dua orang meninggal akibat serangan drone Rusia di wilayah Sumy yang berada dekat perbatasan.
Serangan tersebut terjadi setelah pejabat Rusia menyebut Ukraina melakukan serangan drone terbesar tahun ini.
Rusia menyatakan Ukraina meluncurkan lebih dari 800 drone ke wilayahnya pada Sabtu malam. Dari jumlah tersebut, sekitar 600 drone disebut diarahkan ke Moskow.
Sedikitnya tujuh orang dilaporkan tewas dalam rangkaian serangan tersebut.
Pada malam yang sama, serangan Rusia ke berbagai wilayah Ukraina juga menewaskan sedikitnya tujuh orang dan melukai lebih dari 39 orang, menurut pejabat Ukraina.
Informasi mengenai jumlah serangan dan korban tersebut berasal dari otoritas masing-masing pihak sebagaimana tercantum dalam bahan yang tersedia.
Rusia Perkuat Hubungan dengan Korea Utara
Di tengah ketegangan dengan Inggris dan perang di Ukraina, Rusia juga terus memperkuat hubungannya dengan Korea Utara.
Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un menyatakan kebanggaannya terhadap hubungan Pyongyang dengan Moskow melalui surat kepada Presiden Rusia Vladimir Putin.
“Saya selalu bangga dapat mengharapkan masa depan hubungan bilateral yang lebih unggul dengan memimpin, bersama Anda, hubungan DPRK-Rusia yang telah meneruskan sejarah perjuangan bersama,” kata Kim dalam suratnya, menurut siaran berbahasa Inggris kantor berita resmi Korean Central News Agency (KCNA), dikutip AFP, Minggu (16/8).
DPRK merupakan akronim dari nama resmi Korea Utara, Republik Rakyat Demokratik Korea.
Kim juga menyatakan memiliki “keyakinan teguh” bahwa Rusia akan terus berkembang serta mempertahankan “keutuhan wilayah” di bawah kepemimpinan Putin.
Korea Utara disebut menjadi salah satu sekutu penting Kremlin sejak Rusia melancarkan invasi skala penuh ke Ukraina pada Februari 2022.
Pyongyang disebut mengirim pasukan untuk membantu upaya perang Moskow sebagai imbalan atas manfaat ekonomi dan teknologi militer.
Ukraina juga menuduh Rusia menggunakan rudal balistik Korea Utara dalam serangan yang menewaskan sedikitnya sembilan orang dan melukai puluhan lainnya.
Kyiv turut menyatakan hingga 50 ribu tentara Korea Utara akan dikerahkan ke Rusia. Namun, Ukraina tidak memberikan bukti yang mendukung klaim tersebut maupun kerangka waktu pengerahannya.
Putin Sebut Kemitraan dengan Pyongyang Semakin Kuat
Putin sebelumnya mengirim surat kepada Kim Jong Un yang disampaikan pada Jumat (14/8) untuk memperingati pembebasan Korea dari penjajahan Jepang pada akhir Perang Dunia II.
Dalam surat tersebut, Putin menyebut hubungan Rusia dan Korea Utara telah mencapai “tingkat kemitraan strategis komprehensif yang belum pernah ada sebelumnya”.
“Negara-negara kita aktif bekerja sama di semua sektor sembari melakukan upaya bersama untuk memastikan keamanan dan stabilitas kawasan,” ujar Putin.
Perkembangan tersebut menunjukkan Rusia tetap memperkuat hubungan dengan mitra strategisnya ketika pada saat yang sama menghadapi tekanan dan ketegangan dengan negara-negara Barat.
Invasi skala penuh Rusia ke Ukraina telah berlangsung sejak Februari 2022. Moskow saat ini disebut menguasai sekitar seperlima wilayah Ukraina.
Laporan mengenai drone Inggris berjangkauan sekitar 960 kilometer kini menjadi salah satu titik baru perselisihan antara Rusia dan Inggris. Moskow telah menyampaikan peringatan keras, sementara London tetap menyatakan akan melanjutkan dukungannya terhadap Ukraina.
Sejauh ini, Rusia belum menjelaskan bentuk konkret “konsekuensi” yang akan diberikan kepada Inggris apabila dukungan tersebut terus berlanjut.




















