Headline.co.id, Batang ~ Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Batang bekerja sama dengan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) mengadakan diskusi dengan jemaat Kristen terkait pembangunan Gereja Oikumene di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Industropolis Gringsing. Diskusi ini bertujuan untuk menyamakan pandangan di jemaat sebelum gereja tersebut didirikan. Meskipun sempat terjadi perbedaan pendapat mengenai pengelolaan gereja, akhirnya disepakati bahwa pengelolaan akan dilakukan bersama oleh berbagai denominasi yang ada.
Pelaksana tugas (Plt) Kepala Kantor Kemenag Batang, Munif, menyatakan bahwa perbedaan pendapat dalam pembentukan kepengurusan adalah hal yang wajar. Yang terpenting adalah menyatukan semua denominasi gereja demi kebaikan jemaat. Di Kabupaten Batang sendiri terdapat sekitar 15 denominasi gereja, sementara di Jawa Tengah ada 40, dan secara nasional mencapai 330 denominasi. Di KEK Industropolis nantinya akan ada suasana mini moderasi dengan keberadaan masjid, gereja Katolik dan Kristen, vihara, kelenteng, dan pura untuk memenuhi kebutuhan rohani di sana.
Pembimas Kristen Kanwil Kemenag Jawa Tengah, Siswo Martono, bersama perwakilan Persekutuan Umat Kristen Kabupaten Batang (PUKKB), akan berdiskusi lebih lanjut dengan pimpinan KEK Industropolis untuk menentukan pengelola gereja di kawasan tersebut. “Pengurusnya nanti akan ditentukan oleh PUKKB, yang bisa mewakili tiap denominasi atau aliran ajaran. Semoga setelah dibangun, umat Kristen makin terpelihara imannya saat menjalankan pekerjaannya di KEK,” harap Siswo.
Pembangunan Gereja Kristen di KEK Industropolis Batang saat ini masih dalam tahap perencanaan, termasuk penentuan luas lahan dan kapasitas jemaat. “Kami masih menunggu anggaran dari pusat, baru segera dibangun. Namun, pelayanan jemaat saat ini sudah terlaksana,” jelasnya.
Ketua PUKKB, yang juga Gembala Jemaat Gereja Isa Al-Masih Subah, Pendeta Stevanus Yadi, berharap pihak terkait segera membuat Surat Keputusan dalam pengelolaan Gereja Oikumene atas nama PUKKB yang telah berbadan hukum. Hal ini penting karena saat ini Surat Keputusan tersebut hanya diserahkan kepada salah satu denominasi saja, sedangkan di Kabupaten Batang terdapat beberapa denominasi. “Di Batang ada tujuh denominasi, di antaranya Gereja Isa Al-Masih, Gereja Kristen Injili Indonesia, Gereja Kristen Indonesia, Gereja Sidang Jemaat Allah, Gereja Betle Maranatha, Gereja Pantekosta di Indonesia, dan Gereja Kristen Jawa,” terangnya.
Untuk pelaksanaan pelayanan ibadah, PUKKB akan berkoordinasi dengan seluruh denominasi yang ada untuk menentukan liturgi bersama yang dapat disepakati. Diharapkan gereja tersebut dapat memberikan pembinaan rohani bagi karyawan KEK yang diperkirakan akan mencapai 400 jemaat.
Ketua FKUB Batang, Subkhi, berharap keberadaan Gereja Oikumene nantinya dapat memenuhi kebutuhan rohani para karyawan KEK, sehingga mereka memiliki karakter yang positif. Selain itu, keberadaan enam tempat ibadah di KEK dapat menjadi ikon destinasi wisata religi. “Ini satu-satunya kawasan industri dengan berbagai tempat ibadah yang letaknya langsung berhadapan di jalur tol maupun stasiun nantinya. Jadi bisa dimanfaatkan para pemudik untuk beristirahat saat libur hari raya masing-masing umat beragama, sekaligus berwisata religi di KEK Industropolis,” ujarnya.
Saat ini, Masjid An-Nahl sudah selesai dibangun dan langsung dimanfaatkan, sementara pura masih dalam proses pembangunan. “Akan ada pula Gereja Katolik yang dilengkapi Taman Doa, Vihara, Kelenteng, dan Gereja Kristen dengan luas lahan 1.000 – 2.000 m² untuk tiap tempat ibadah,” tandasnya. (MC Batang, Jateng/Heri/Jumadi)


















