Headline.co.id, Jakarta ~ Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi bahwa puncak musim kemarau di Indonesia akan terjadi pada Agustus 2026. Fenomena El Nino yang saat ini menguat menjadi faktor utama yang mempengaruhi kondisi tersebut. El Nino diperkirakan menyebabkan musim kemarau lebih panjang dari biasanya, memengaruhi hampir separuh wilayah Indonesia.
Direktur Perubahan Iklim BMKG, Fachri Radjab, menjelaskan bahwa intensitas El Nino dapat dikategorikan dari lemah hingga sangat kuat. “Saat ini, El Nino telah memasuki kategori kuat,” ujarnya dalam Webinar Kesiapsiagaan Bidang Kesehatan menghadapi El Nino di Jakarta, Rabu (1/7/2026). El Nino, bersama dengan fenomena Indian Ocean Dipole (IOD), merupakan faktor global yang memengaruhi cuaca di Indonesia.
Menurut Fachri, dampak El Nino tidak seragam di seluruh dunia. Beberapa wilayah seperti Amerika Selatan dan Asia Timur mungkin mengalami peningkatan curah hujan, sementara Asia-Oseania, termasuk Indonesia, diprediksi mengalami kondisi lebih kering. “Indonesia akan mengalami musim kemarau yang lebih panjang,” tambahnya.
BMKG terus memantau perkembangan El Nino melalui suhu muka laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur. Indeks ENSO pada dasarian II Juni 2026 menunjukkan angka positif 1,6, menandakan El Nino berada pada kategori kuat. “Kami terus memantau kondisi ini,” jelas Fachri.
Dampak El Nino di Indonesia
BMKG mencatat bahwa curah hujan mulai menurun di sebagian besar wilayah Sumatra dan Jawa sejak Mei 2026. Sementara itu, Kalimantan, Sulawesi, dan Papua masih mengalami curah hujan kategori menengah hingga tinggi. Beberapa daerah seperti Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Nusa Tenggara Timur (NTT) telah mengalami lebih dari 30 hari tanpa hujan, dengan rekor terpanjang 52 hari di Pos Hujan Keraksaan, Probolinggo, Jawa Timur.
Kesiapsiagaan Menghadapi Kemarau
BMKG memperkirakan bahwa 48,84 persen wilayah Indonesia akan mencapai puncak musim kemarau pada Agustus 2026. Musim kemarau ini diprediksi lebih panjang dari biasanya, dengan 48,7 persen wilayah mengalami durasi kemarau lebih lama. BMKG mengimbau pemerintah daerah, dunia usaha, dan masyarakat untuk meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi dampak El Nino, termasuk potensi kekeringan, kebakaran hutan, penurunan ketersediaan air, gangguan pertanian, dan risiko kesehatan.
Dengan kondisi ini, BMKG menekankan pentingnya langkah antisipatif untuk mengurangi dampak negatif dari fenomena El Nino yang menguat.





















