Headline.co.id, Batu ~ Gunung Semeru kembali menunjukkan aktivitas vulkaniknya dengan erupsi yang terjadi sejak 20 Juni lalu. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) telah menetapkan status gunung tertinggi di Pulau Jawa ini pada Level III (Siaga). Meski demikian, aktivitas penambangan di jalur aliran lahar masih berlangsung, menimbulkan kekhawatiran akan keselamatan.
Dr. Indranova Suhendro, S.T., M.Sc., dosen Geografi UGM, mengingatkan bahwa ancaman dari Gunung Semeru tidak hanya berasal dari erupsi, tetapi juga dari potensi banjir lahar. “Material hasil erupsi harian seperti pasir, kerikil, dan batu dapat dengan mudah terbawa air hujan menuju sungai,” ujarnya pada Senin (29/6). Ia menambahkan bahwa lahar bisa datang tiba-tiba, terutama jika hujan deras terjadi di puncak gunung.
Bahaya di Jalur Sungai Besuksemut
Nova menekankan pentingnya mewaspadai aliran sungai Besuksemut, yang menjadi jalur utama awan panas dan lahar. PVMBG terus mengimbau masyarakat untuk menghindari aktivitas di radius tertentu dan sepanjang alur sungai tersebut. Namun, aktivitas penambangan pasir di kawasan ini masih menjadi dilema, karena meski berisiko, penambangan merupakan sumber mata pencaharian bagi banyak orang.
Karakteristik Magma Gunung Semeru
Nova menjelaskan bahwa magma Gunung Semeru memiliki fraksi kristal hingga 50 persen, membuatnya cukup kental. Kondisi ini menyebabkan magma keluar sebagai kubah lava yang rentan longsor, berpotensi menghasilkan aliran piroklastik atau wedhus gembel. “Ketika magma dari bawah terus mendesak kubah lava yang sudah ada di puncak dan tidak stabil, kubah tersebut dapat runtuh menghasilkan guguran awan panas,” jelasnya.
Erupsi Vulkanian dan Dampaknya
Selain aliran piroklastik, Semeru juga dikenal dengan erupsi bertipe Vulkanian, yang terjadi akibat akumulasi gas terperangkap oleh kubah lava. Erupsi ini sering terjadi dengan interval singkat, meski dampaknya umumnya terbatas di sekitar kawah. Nova menekankan pentingnya memahami karakteristik gunung api dan mematuhi imbauan dari pihak berwenang untuk mengurangi risiko bencana.
Nova mengingatkan bahwa hidup berdampingan dengan gunung api memerlukan pemahaman dan kesiapan menghadapi konsekuensi. “Ketika gunung sedang aktif, patuhilah himbauan dari pemangku kebijakan dan para ahli agar tetap aman,” pesannya. Masyarakat di sekitar Gunung Semeru diharapkan terus waspada dan mengikuti perkembangan informasi dari pihak berwenang.






















