Headline.co.id, Jakarta ~ Tenaga Ahli Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Satya Hangga Yudha Widya Putra, menegaskan bahwa percepatan pengembangan Blok Masela di Maluku merupakan langkah penting untuk memperkuat kedaulatan ekonomi Indonesia. Langkah ini diambil di tengah ketidakpastian geopolitik global yang semakin meningkat. Proyek Strategis Nasional (PSN) Lapangan Abadi ini telah memasuki tahap pembangunan fisik sejak Februari 2026, setelah penantian lebih dari 25 tahun.
Hangga menyatakan bahwa urgensi proyek ini semakin meningkat seiring dengan dinamika internasional yang memanas, termasuk konflik di Timur Tengah yang mengancam jalur perdagangan Selat Hormuz. Situasi ini menyebabkan fluktuasi harga minyak mentah hingga mencapai 110 dolar AS per barel, yang memberikan tekanan berat pada neraca perdagangan Indonesia akibat ketergantungan impor.
Menurut Hangga, Blok Masela akan menjadi benteng energi domestik yang mampu memenuhi kebutuhan energi secara masif dan stabil. Kemajuan signifikan telah dicapai dengan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) Inpex dan PT Pertamina (Persero) pada 30 Maret 2026. Proyek ini diproyeksikan memiliki kapasitas produksi 9,5 juta ton per tahun (MTPA) LNG, 150 juta standar kubik per hari (MMSCFD) gas pipa, serta 35.000 barel minyak kondensat.
Untuk menjaga keseimbangan nilai ekonomi proyek dan ketahanan nasional, pemerintah menetapkan skema alokasi produksi yang terukur. Hangga menambahkan bahwa selain memperkuat ketahanan energi nasional, pengembangan Blok Masela juga akan memberikan dampak positif bagi masyarakat Maluku. Hal ini termasuk pemberian hak kelola participating interest (PI) sebesar 10 persen bagi Badan Usaha Milik Daerah (BUMD), penciptaan lapangan kerja secara masif, serta program transfer teknologi.
Hangga berharap, dengan pengawalan ketat lintas kementerian dan koordinasi dengan pemerintah daerah, Blok Masela dapat menjadi motor penggerak peradaban ekonomi baru di wilayah timur Indonesia.






















