Headline.co.id, Surabaya ~ Ketua Bidang Penanggulangan Bencana PMI Jawa Timur, Edy Purwinarto, mengajak seluruh anggota jejaring Unit Donor Darah (UDD) di Sidoarjo untuk aktif dalam program pengiriman plasma ke PMI Pusat. Program ini bertujuan untuk menghasilkan plasma berkualitas sesuai standar pemerintah. Hal ini disampaikan dalam Pertemuan Jejaring Unit Pengelola Darah PMI Wilayah Sidoarjo yang diadakan di Kantor PMI Gresik, yang juga dirangkai dengan acara Halal Bihalal dan Konsolidasi Plasma untuk Fraksionasi (PuF).
Acara tersebut dihadiri oleh unsur PMI serta kepala UDD dari Gresik, Pasuruan (kabupaten/kota), Mojokerto (kabupaten/kota), dan Jombang. Edy Purwinarto menyatakan bahwa PMI Jawa Timur saat ini merupakan penyumbang plasma terbesar secara nasional. Namun, target PMI Pusat sebesar 150.000 liter plasma masih jauh dari tercapai, dengan capaian saat ini sekitar 4.000 liter. Kontribusi terbesar berasal dari tiga UDD yang telah bersertifikat Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB), yaitu UDD Surabaya, Sidoarjo, dan Kota Malang.
“Kami berharap seluruh anggota jejaring dapat berpartisipasi, minimal satu UDD yang bisa menjadi andalan di setiap jejaring. Untuk jejaring Sidoarjo, UDD Gresik dinilai paling siap,” ujar Edy dalam keterangan tertulis, Kamis (9/4/2026). Ia juga mendorong adanya studi banding ke Jakarta, mengingat fasilitas pengolahan plasma saat ini masih terpusat di sana. Edy menekankan pentingnya kejelasan tanggung jawab apabila terjadi kerusakan plasma dalam proses pengiriman agar tidak merugikan pihak manapun.
Berdasarkan data, dari total 37 UDD PMI di Jawa Timur, baru empat yang telah memiliki sertifikat CPOB dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), yaitu UDD PMI Kota Surabaya, UDD PMI Kabupaten Sidoarjo, UDD PMI Lumajang, dan UDD PMI Kota Malang. PMI Jawa Timur terus berupaya menambah jumlah UDD yang tersertifikasi CPOB. Beberapa daerah yang saat ini masih dalam proses lain Jember, Bojonegoro, Tulungagung, dan Gresik.
Ketua Bidang Donor Darah/UDD PMI Sidoarjo, Drs. Moch. Asyik Yusak, menyampaikan harapannya agar seluruh jejaring mendukung program pemerintah terkait fraksionasi plasma, sehingga target nasional dapat tercapai, khususnya di Jawa Timur. “Tahun 2025 lalu capaian baru sekitar 40.000 liter, sementara target nasional mencapai 150.000 liter,” jelasnya. Ia menambahkan, pertemuan jejaring ini rutin dilaksanakan setiap tiga bulan sebagai upaya evaluasi dan pembinaan berkelanjutan.
Sebagai pemegang sertifikat CPOB (central), UDD Sidoarjo memiliki peran penting dalam membina anggota jejaring. Hal ini mengingat persyaratan untuk memperoleh sertifikasi tersebut dari Kementerian Kesehatan melalui BPOM sangat ketat. Asyik mengungkapkan, hasil pertemuan kali ini cukup menggembirakan karena seluruh kepala UDD dari Gresik, Pasuruan, Mojokerto, dan Jombang berkomitmen mengejar sertifikasi CPOB. “Namun semua membutuhkan proses dan banyak persyaratan, terutama terkait sarana dan prasarana. Untuk sementara, pengiriman plasma akan dilakukan melalui UDD Sidoarjo sebagai pemegang sertifikat CPOB (central). Kami juga akan terus melakukan pembinaan secara intensif,” tegasnya.
Ia menambahkan, seluruh sarana dan prasarana harus memenuhi ketentuan, mulai dari peralatan hingga kelengkapan dokumen seperti kualifikasi dan validasi. Hingga saat ini, UDD Sidoarjo telah melakukan pengiriman plasma sebanyak 14 kali ke PMI Pusat. Meski secara finansial belum seimbang biaya operasional dan pemasukan, program ini tetap dinilai penting. “Dulu darah kedaluwarsa harus dimusnahkan dengan biaya tinggi. Sekarang bisa diolah menjadi plasma, sehingga lebih bermanfaat dan meningkatkan kualitas layanan,” pungkasnya.
Kegiatan ini dibuka oleh dr. Dian Novitasari yang mewakili Ketua PMI Kabupaten Gresik, M. Nadhir, yang berhalangan hadir. Sementara itu, makna Halal Bihalal disampaikan secara singkat oleh Sekretaris PMI Kabupaten Sidoarjo, Ainur Rofik. (MC Prov Jatim /hjr/eyv)




















