Headline.co.id, Jakarta ~ Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memproyeksikan bahwa harga tembaga di pasar global akan terus mengalami peningkatan hingga tahun 2032. Hal ini disebabkan oleh ketidakseimbangan pasokan yang tersedia dan tingginya permintaan terhadap komoditas tersebut.
Menurut Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara Kementerian ESDM, Tri Winarno, proyeksi ini membuka peluang strategis bagi Indonesia untuk memperkuat struktur ekonominya. “Kebijakan industrialisasi dan hilirisasi dapat membantu Indonesia menghindari jebakan pendapatan menengah,” ujar Tri Winarno dalam keterangan resmi pada Selasa (7/4/2026).
Data dari London Metal Exchange menunjukkan bahwa harga tembaga mengalami fluktuasi signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Pada tahun 2022, harga tembaga berkisar 7.000 hingga 8.000 dolar AS per ton. Namun, harga tersebut melonjak tajam pada awal tahun 2026, mencapai 13.000 dolar AS per ton pada periode Januari hingga Februari.
Tri Winarno menegaskan bahwa industri pertambangan masih memiliki prospek cerah di masa depan karena bahan baku tersebut tetap menjadi kebutuhan vital di tingkat global. Ia menambahkan bahwa negara-negara maju yang tergabung dalam G7 telah menunjukkan bahwa pemanfaatan bonus demografi yang disertai dengan industrialisasi masif adalah kunci pertumbuhan ekonomi. “Pengembangan kapasitas SDM di Indonesia saat ini telah mulai berjalan untuk mendukung ekosistem industri nasional,” kata Tri.
Pemerintah juga menekankan bahwa keberhasilan industrialisasi tidak hanya bergantung pada ketersediaan bahan baku, tetapi juga pada pengembangan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM). Pengembangan kapasitas SDM di Indonesia saat ini telah mulai berjalan untuk mendukung ekosistem industri nasional.





















