Headline.co.id, Jakarta ~ Tuberkulosis (TB) tidak hanya menyerang paru-paru, tetapi juga dapat mempengaruhi organ lain seperti tulang, kelenjar, usus, kulit, ginjal, dan tiroid. Melalui podcast Kementerian Kesehatan (Kemenkes), seorang pakar paru dari Kementerian Kesehatan menekankan pentingnya masyarakat mengenali gejala TB ekstra paru agar penanganan dapat dilakukan lebih cepat.
Dokter spesialis paru, Prof. Erlina Burhan, menjelaskan bahwa sekitar 85 persen kasus TB terjadi di paru-paru, sementara 15–20 persen lainnya merupakan TB ekstra paru. “TB tidak hanya ada di paru. Bisa ditemukan di tulang, otot, usus, ginjal, jantung, kulit, dan kelenjar. Inilah yang disebut TB ekstra paru,” jelas Prof. Erlina dalam KemenCast, di Jakarta, Selasa (7/4/2026).
Menurutnya, kuman TB yang sangat kecil dapat terhirup melalui udara dan masuk ke paru-paru. Dalam kondisi tertentu, kuman tersebut juga dapat menyebar melalui aliran darah maupun saluran limfe ke organ tubuh lain. “Karena ukurannya sangat kecil, kuman bisa menembus aliran darah dan akhirnya menyerang organ di luar paru,” ujarnya.
Gejala TB ekstra paru bervariasi tergantung pada organ yang terdampak. Pada TB tulang, pasien biasanya mengalami nyeri pada punggung atau tulang belakang. Sementara pada TB kelenjar, gejala umum berupa benjolan di leher, ketiak, atau selangkangan. Untuk kasus TB tiroid, benjolan biasanya muncul di bagian depan leher dan dapat menimbulkan rasa mengganjal, sulit menelan, hingga suara serak.
Meski berbeda lokasi, ada sejumlah gejala umum yang hampir selalu muncul, seperti demam hilang timbul, nafsu makan menurun, berat badan turun drastis, tubuh mudah lelah, dan berkeringat di malam hari. “Yang sering membuat masyarakat terlambat berobat adalah gejala-gejala ini dianggap normal, misalnya hanya merasa lelah atau berat badan turun karena aktivitas,” tambahnya.
Dalam podcast tersebut, penyintas TB tiroid dan TB paru resisten obat, Desi, membagikan pengalamannya saat pertama kali terdiagnosis. Ia mengaku mulai curiga setelah berat badannya turun drastis pascamelahirkan. “Berat badan saya dari 65 kilogram turun sampai 32 kilogram hanya dalam waktu sekitar sebulan. Selain itu, muncul benjolan di leher yang semakin membesar,” ungkapnya. Setelah melalui serangkaian pemeriksaan, ia dinyatakan mengalami TB resisten obat sehingga harus menjalani pengobatan selama 24 bulan.
Selama masa pengobatan, Desi harus mengonsumsi hingga 18 tablet per hari dan menjalani suntikan rutin. “Awalnya saya syok, apalagi baru melahirkan dan harus dipisahkan sementara dari bayi selama enam bulan,” katanya. Desi menekankan bahwa dukungan keluarga menjadi faktor utama yang membuatnya bertahan menjalani pengobatan hingga sembuh.
Prof. Erlina menegaskan bahwa yang menular adalah TB paru, karena kuman keluar melalui percikan saat penderita batuk. Sementara itu, sebagian besar TB ekstra paru tidak menular, kecuali pada kasus tertentu seperti TB kulit yang sangat jarang. “Kalau TB otak, TB tulang, TB usus, atau TB kelenjar, umumnya tidak menular. Yang menular adalah TB paru,” jelasnya.
Kementerian Kesehatan juga menyampaikan kabar baik bahwa pengobatan TB resisten obat kini jauh lebih sederhana dibanding beberapa tahun lalu. Jika sebelumnya pasien bisa mengonsumsi hingga 18 tablet per hari dengan terapi suntik, kini tersedia regimen baru yang hanya memerlukan 5–7 tablet per hari selama enam bulan. “Kalau berhenti sebelum waktunya, kuman yang belum mati bisa menjadi lebih kuat dan resisten,” tegasnya.
Menutup perbincangan, Prof. Erlina mengajak masyarakat untuk tidak memberikan stigma kepada pasien TB. Menurutnya, dukungan keluarga dan lingkungan sangat menentukan keberhasilan pengobatan. “Pasien TB jangan dikucilkan, tetapi harus didukung supaya minum obat sampai selesai,” katanya.





















