Headline.co.id, Bangunan ~ Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Satgas PRR) Pascabencana Wilayah Sumatera mengerahkan praja dari Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) untuk membersihkan lumpur di Istana Benua Raja, Aceh Tamiang, Aceh. Banjir yang terjadi pada November 2025 menyebabkan lumpur mengeras di situs bersejarah tersebut. Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya pemulihan pascabencana di wilayah tersebut.
Menurut keterangan dari Satgas PRR pada Senin (6/4/2026), seorang praja IPDN bernama I Gusti Ngurah Erlang AW menyatakan kebanggaannya atas kepercayaan yang diberikan untuk membersihkan lumpur di lokasi bersejarah ini. “Kami merasa diberi tugas melaksanakan misi kemanusiaan. Kami sangat merasa senang dan bangga, apalagi kebanyakan dari kami ini merupakan kesempatan pertama untuk melaksanakan tugas di (daerah bencana) Aceh,” ungkap Erlang.
Istana Benua Raja merupakan peninggalan Kerajaan Benua Tunu, salah satu kerajaan Islam tertua di Aceh, yang terletak di Desa Benua Raja, Kecamatan Rantau, Kabupaten Aceh Tamiang. Para praja menggunakan sekop dan kereta dorong untuk mengeruk lumpur di setiap sudut lorong bangunan bersejarah tersebut. Meskipun bekerja di bawah terik matahari, para praja dari Angkatan 36 ini tetap antusias menjalankan tugas yang merupakan bagian dari Praktik Kerja Lapangan (PKL) gelombang ketiga di Aceh Tamiang.
Sebanyak 731 praja IPDN dikirim oleh Kementerian Dalam Negeri untuk membersihkan 42 titik lokasi yang masih dipenuhi lumpur tebal, sebagian besar berada di pemukiman warga. Erlang adalah salah satu praja dari kontingen Bali yang terlibat dalam misi ini. Menteri Dalam Negeri sekaligus Ketua Satgas PRR Pascabencana Sumatera, Tito Karnavian, meminta para praja untuk bekerja keras membersihkan lumpur yang memenuhi lingkungan pemukiman warga di Aceh Tamiang.
Pernyataan tersebut disampaikan Tito saat memimpin apel pembukaan PKL gelombang ketiga Praja Pratama IPDN di Istana Benua Raja, Kabupaten Aceh Tamiang, pada Sabtu (4/4/2026). Tito menegaskan bahwa 731 praja IPDN pada gelombang ketiga ini difokuskan untuk membersihkan lumpur di rumah warga, drainase, serta jalan desa sebagai bagian dari upaya percepatan pemulihan lingkungan pascabencana.



















