Headline.co.id, Gresik ~ Tradisi Pasar Bandeng di Kabupaten Gresik kembali digelar pada tahun 2026, menampilkan daya tariknya sebagai penggerak ekonomi dan penjaga identitas budaya lokal. Dalam acara kontes dan lelang bandeng kawak, seekor bandeng dengan berat 19 kilogram berhasil mencuri perhatian publik dan mencatat rekor baru dengan harga lelang mencapai Rp50 juta.
Bandeng berukuran besar ini dimiliki oleh Syaifullah Mahdi, seorang petambak dari Desa Pangkahwetan, Kecamatan Ujungpangkah. Ikan tersebut dinobatkan sebagai juara pertama berkat panjangnya yang mencapai 114 sentimeter dan masa budidaya selama 17–18 tahun. Pada sesi lelang, bandeng ini dibeli oleh Petrokimia Gresik, menunjukkan tingginya nilai ekonomi dari tradisi lokal ini.
Bupati Gresik, Fandi Akhmad Yani, menegaskan bahwa Pasar Bandeng bukan sekadar perayaan menjelang Lebaran, tetapi juga bagian dari warisan budaya yang memberikan dampak nyata bagi masyarakat. “Ini bukan hanya tradisi, tetapi juga memiliki multiplier effect bagi ekonomi, sosial, dan budaya. Identitas Gresik akan selalu lekat dengan bandeng,” ujar Bupati yang akrab disapa Gus Yani.
Ia menambahkan bahwa penguatan sektor perikanan menjadi salah satu fokus pembangunan daerah. Pemerintah Kabupaten Gresik mendukung petambak melalui kebijakan konkret, seperti distribusi pupuk bersubsidi sebanyak 9.825 ton untuk budidaya tambak, dengan harga yang lebih rendah dari pasar. Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan produktivitas dan mendorong lahirnya bandeng berkualitas unggul yang bernilai ekonomi tinggi.
Sekretaris Daerah Kabupaten Gresik, Achmad Washil Miftahul Rachman, menyatakan bahwa Pasar Bandeng telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia (WBTBI) sejak 2025. Penetapan ini memperkuat posisi tradisi tersebut sebagai bagian dari kekayaan budaya nasional yang memiliki nilai sejarah, sosial, dan ekonomi. “Pasar Bandeng bukan sekadar agenda tahunan, tetapi ruang menjaga kesinambungan tradisi sekaligus menggerakkan ekonomi masyarakat,” jelasnya.
Pada kontes tahun ini, juara kedua diraih oleh Askin dari Desa Pangkahwetan dengan bandeng seberat 14 kilogram, sementara juara ketiga diraih oleh Zainul Abidin dari Desa Watuagung dengan bandeng seberat 8 kilogram. Kemeriahan acara tidak hanya terlihat dari kontes dan lelang, tetapi juga dari partisipasi masyarakat yang memadati kawasan Bandar Grissee. Rangkaian kegiatan seperti santunan anak yatim, pertunjukan seni, hingga sesi memasak langsung oleh Chef Rudy Choiruddin turut menghidupkan suasana.
Sebanyak 2.000 porsi olahan bandeng juga dibagikan secara gratis kepada masyarakat, memperkuat nilai kebersamaan dalam tradisi tersebut. Bagi para petambak, keberhasilan bandeng kawak tahun ini menjadi motivasi untuk terus mengembangkan budidaya. Syaifullah Mahdi mengungkapkan bahwa menghasilkan bandeng berukuran besar membutuhkan kesabaran dan konsistensi dalam perawatan. “Prosesnya panjang, bisa sampai belasan tahun. Tapi hasilnya sepadan,” ujarnya.
Melalui Pasar Bandeng, Gresik menunjukkan bahwa tradisi bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan aset strategis yang mampu menggerakkan ekonomi rakyat. Kolaborasi pemerintah daerah, pelaku usaha, dan masyarakat menjadi kunci agar tradisi ini terus hidup dan memberi manfaat berkelanjutan.





















