Headline.co.id, Gresik ~ Tradisi Sanggring atau kolak ayam yang telah berlangsung selama lebih dari lima abad kembali diadakan dengan meriah di Desa Gumeno, Kecamatan Manyar, Kabupaten Gresik. Pada bulan Ramadan 2026 ini, warga memanfaatkan momen tersebut untuk memperkuat identitas budaya dan mempererat kebersamaan dengan membagikan 3.000 porsi kolak ayam kepada masyarakat saat berbuka puasa.
Acara yang berlangsung di halaman Masjid Jami’ Sunan Dalem ini tidak hanya menjadi ajang kuliner, tetapi juga simbol pelestarian warisan budaya yang telah diakui sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTb) Indonesia. Wakil Bupati Gresik, Asluchul Alif, memberikan apresiasi kepada masyarakat Desa Gumeno atas konsistensi mereka dalam menjaga tradisi Sanggring yang telah berlangsung selama 501 tahun. Ia menegaskan bahwa tradisi ini merupakan bentuk penghormatan terhadap peninggalan Sunan Dalem, putra Sunan Giri, sekaligus penanda kuat identitas lokal.
“Di tengah arus modernisasi, tradisi ini harus menjadi pengingat agar generasi muda tidak hanya menikmati hasilnya, tetapi juga memahami nilai sejarah dan maknanya,” ujar Wabup Alif. Menurutnya, pelestarian tradisi penting untuk menjaga kesinambungan nilai budaya sekaligus memperkuat jati diri masyarakat di tengah perubahan zaman.
Ketua panitia Sanggring, Didik Wahyudi, menjelaskan bahwa pelaksanaan tahun ini melibatkan skala besar dengan penggunaan bahan baku yang signifikan, lain 240 ekor ayam kampung, 525 butir kelapa, 650 kilogram gula merah, serta berbagai rempah seperti jinten dan bawang daun. Keunikan tradisi ini tidak hanya terletak pada menu kolak ayam yang jarang ditemukan di daerah lain, tetapi juga pada proses pembuatannya yang seluruhnya dilakukan oleh laki-laki sebagai bagian dari tradisi turun-temurun.
“Perpaduan ayam kampung, santan, gula merah, dan rempah menghasilkan cita rasa khas gurih-manis yang menjadi identitas kuliner Sanggring,” jelasnya. Tradisi Sanggring tidak hanya menjadi ruang pelestarian budaya, tetapi juga memiliki potensi ekonomi dan pariwisata yang dapat terus dikembangkan. Dukungan Pemerintah Kabupaten Gresik diharapkan mampu memperluas promosi sekaligus menjaga keberlanjutan tradisi ini di tingkat nasional.
Antusiasme masyarakat terlihat dari ribuan warga yang hadir sejak sore hari untuk mengikuti rangkaian kegiatan dan menikmati hidangan bersama. Momentum ini sekaligus mempertegas bahwa tradisi lokal dapat menjadi perekat sosial yang kuat, terutama di bulan Ramadan yang sarat nilai kebersamaan. Ke depan, Pemerintah Kabupaten Gresik mendorong agar tradisi Sanggring tidak hanya bertahan, tetapi juga berkembang sebagai bagian dari kekuatan budaya daerah yang berdaya saing dan memberi manfaat luas bagi masyarakat.





















