Headline.co.id, Banda Aceh ~ Kapolda Aceh, Marzuki Ali Basyah, menekankan pentingnya kearifan lokal dalam menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas). Pernyataan ini disampaikannya saat memberikan kuliah umum bertema “Local Wisdom dalam Merawat Kamtibmas dan Penegakan Hukum” di Universitas Prima Indonesia (Unpri) di Medan, Kamis (12/3/2026).
Kuliah umum tersebut diadakan di aula lantai 10 gedung Unpri dan dihadiri oleh sekitar seribu mahasiswa. Ini merupakan kali pertama Marzuki memberikan kuliah umum di Medan setelah sebelumnya menjadi pembicara di beberapa perguruan tinggi di Aceh dan Jakarta.
Marzuki menjelaskan bahwa kegiatan kuliah umum sempat terhenti dari Desember 2025 hingga Februari 2026. Selama periode tersebut, ia fokus membantu penanganan korban banjir besar di Aceh serta terlibat dalam upaya pemulihan, termasuk perbaikan infrastruktur dan permukiman warga yang terdampak.
Di hadapan para mahasiswa, Marzuki juga mempromosikan kondisi Aceh yang semakin membaik pascabanjir. Ia menegaskan bahwa Aceh adalah salah satu daerah paling aman di Pulau Sumatra. “Aceh paling aman di Sumatra. Aceh tidak menakutkan,” ujarnya.
Untuk mencairkan suasana, Marzuki mengajak beberapa mahasiswa naik ke panggung dan menanyakan pengetahuan mereka tentang Aceh. Ia bahkan menawarkan hadiah bagi mahasiswa yang bersedia menjawab.
Sebagian besar mahasiswa menyebut Aceh sebagai daerah yang menerapkan Syariat Islam. Menanggapi hal tersebut, Marzuki menjelaskan bahwa Aceh memiliki kekhususan dalam penerapan Syariat Islam, termasuk ketentuan hukum yang dikenal sebagai Qanun Jinayah.
Menurutnya, masyarakat Aceh sangat menghormati dan menaati ketentuan Syariat Islam. Ketika terjadi pelanggaran terhadap aturan tersebut, hukuman seperti cambuk tetap dijalani oleh pelaku sebagai bagian dari sistem hukum yang berlaku. “Hal tersebut merupakan bagian dari local wisdom atau kearifan lokal yang ada di Aceh,” jelasnya.
Dalam kuliah umum tersebut, Marzuki juga memaparkan potensi sumber daya alam Aceh yang dinilai sangat besar, mulai dari gas, minyak, emas hingga batu bara. Selain itu, sektor pertanian, perkebunan, dan perikanan juga memiliki potensi melimpah yang didukung oleh keindahan alam daerah tersebut.
Namun demikian, ia menilai masih terdapat paradoks di Aceh. Di satu sisi, daerah tersebut dikenal aman dan kaya sumber daya, tetapi di sisi lain masih menghadapi persoalan kemiskinan dan pengangguran. “Sebagai daerah paling aman dan kaya, kenapa masih miskin dan banyak pengangguran? Di situlah diperlukan rumusan yang tepat agar masyarakat Aceh bisa lebih sejahtera,” ujarnya.
Dari perspektif kepolisian, salah satu langkah yang ditempuh Kepolisian Daerah Aceh adalah mensinergikan hukum nasional dengan kearifan lokal masyarakat Aceh. Karena itu, Polda Aceh mengusung visi “Polda Aceh Meutuah menuju Aceh Meusyuhu.”
Menurutnya, visi tersebut menekankan kehadiran polisi yang humanis, menghormati nilai-nilai adat dan kearifan lokal, serta memberdayakan perangkat adat dalam menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat, dengan tetap mengacu pada hukum nasional. “Ketika Aceh aman dan nyaman, investor akan datang. Ekonomi akan tumbuh, dan kesejahteraan masyarakat juga akan meningkat,” katanya.
Ketua Badan Pengawas Harian Unpri, Tommy Leonard, memberikan apresiasi atas materi yang disampaikan Kapolda Aceh. Ia menilai pemaparan tersebut sangat komprehensif dan bernuansa akademis. “Materinya sangat bagus. Kapolda Aceh layaknya seorang akademisi yang memiliki pengalaman praktisi yang panjang. Ini sangat berguna bagi pembelajaran kita semua,” ujarnya.
Apresiasi serupa juga disampaikan Wakil Rektor IV Unpri, Ali Napiah Nasution, serta Dekan Fakultas Hukum Unpri, Ermi Girsang. Mereka menilai kuliah umum tersebut memberikan perspektif baru dalam memahami penegakan hukum di Indonesia. “Kuliah umum ini sangat bernilai dan memberikan sudut pandang tersendiri dalam penegakan hukum. Kami sangat berterima kasih atas kesediaan Kapolda Aceh memenuhi undangan kami,” kata Ali Napiah.




















