Headline.co.id, Depok ~ Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) berupaya memperkuat implementasi Tes Kemampuan Akademik (TKA) di tingkat Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) dengan pendekatan humanis yang memprioritaskan kesiapan mental siswa. Upaya ini dilakukan melalui kolaborasi guru dan orang tua, sehingga proses asesmen tidak hanya fokus pada hasil, tetapi juga pada kualitas proses belajar.
Pendekatan ini menekankan pentingnya peran sekolah dan keluarga dalam membangun kesiapan psikologis siswa menghadapi asesmen. Guru berperan tidak hanya sebagai pengajar materi, tetapi juga sebagai pembimbing karakter dan motivasi belajar. Sementara itu, orang tua berperan sebagai lingkungan pertama yang menanamkan nilai kepercayaan diri, ketekunan, dan kejujuran.
Sinergi ini menjadi fokus dalam kegiatan sosialisasi TKA bertema “Sekolah sebagai Ruang Aman: Strategi Mengelola Kesiapan Mental Siswa Menghadapi TKA” yang diselenggarakan oleh Dharma Wanita Persatuan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah bersama Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan (BSKAP) di Pusat Pelatihan Sumber Daya Manusia Kemendikdasmen, Depok, Jawa Barat, Rabu (4/3/2026).
Penasihat DWP Kemendikdasmen, Masmidah Abdul Mu’ti, menegaskan bahwa TKA dirancang sebagai bagian dari sistem asesmen nasional yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran secara berkelanjutan. “Tes Kemampuan Akademik dirancang sebagai bagian dari sistem asesmen yang mendorong peningkatan kualitas pembelajaran. Namun asesmen bukanlah tujuan akhir, melainkan sarana untuk memahami proses belajar siswa dan memperbaiki layanan pendidikan agar semakin relevan dan bermakna,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa peserta didik tidak boleh diposisikan sekadar sebagai objek pengukuran, melainkan sebagai individu yang sedang berkembang dan membangun potensi diri. Oleh karena itu, asesmen harus ditempatkan dalam kerangka yang sehat dan humanis. “Kita tidak boleh membiarkan asesmen menjadi sumber tekanan yang berlebihan. Sebaliknya, asesmen harus menjadi pengalaman belajar yang memperkuat mental, karakter, dan daya juang peserta didik,” tegasnya.
Pada kesempatan yang sama, Kepala BSKAP, Toni Toharudin, menjelaskan bahwa TKA bukan sekadar ujian tambahan, melainkan instrumen strategis untuk memotret kemampuan akademik siswa secara objektif, terutama dalam aspek literasi, numerasi, dan penalaran.
Menurutnya, TKA juga menjadi bagian dari upaya membangun budaya belajar yang sehat di lingkungan sekolah. “Ketika kita berbicara tentang Tes Kemampuan Akademik, kita sebenarnya sedang berbicara tentang budaya belajar yang sehat. TKA membantu kita melihat secara lebih jujur bagaimana proses belajar terjadi di ruang kelas dan apa yang perlu kita perbaiki bersama,” jelas Toni.
Ia menambahkan bahwa pelaksanaan TKA mengusung semangat “TKA Jujur dan Gembira” sebagai nilai fundamental pendidikan. Kejujuran menjadi fondasi utama dalam sistem asesmen yang bermartabat, sementara suasana belajar yang positif diperlukan agar siswa dapat mengikuti asesmen dengan rasa percaya diri. “Jika hasil asesmen dimanipulasi atau tekanan membuat kejujuran dikorbankan, maka kita kehilangan makna pendidikan itu sendiri. Di sisi lain, pendidikan tidak boleh menjadi sumber ketakutan bagi anak,” ujarnya.
Pendekatan tersebut dinilai penting untuk menumbuhkan budaya integritas sejak dini sekaligus memperkuat kepercayaan diri peserta didik dalam menghadapi berbagai bentuk asesmen pendidikan.
Toni juga mengungkapkan bahwa partisipasi satuan pendidikan dalam pelaksanaan TKA jenjang SD dan SMP telah mencapai sekitar 97 persen, yang menunjukkan tingginya komitmen sekolah dalam membangun budaya mutu dan akuntabilitas pembelajaran.
Sementara itu, Ketua DWP Kemendikdasmen, Marlina Hafidz Muksin, menyampaikan bahwa kegiatan sosialisasi tersebut merupakan bagian dari program kerja bidang pendidikan DWP untuk memperkuat literasi kebijakan asesmen di lingkungan keluarga dan masyarakat.
Kegiatan ini diikuti perwakilan dari 20 sekolah di sekitar lokasi Pusat Pelatihan Sumber Daya Manusia Kemendikdasmen yang terdiri atas kepala sekolah, guru, guru bimbingan dan konseling, komite sekolah, serta perwakilan dinas pendidikan. Melalui kegiatan tersebut, diharapkan implementasi TKA dapat berjalan lebih inklusif, sehat, dan berorientasi pada perkembangan peserta didik secara menyeluruh.





















