Headline.co.id, Depok ~ Kabupaten Sleman kembali menegaskan posisinya sebagai pusat pengembangan pendidikan karakter bagi generasi muda melalui peluncuran buku terbaru berjudul “Menyemai Karakter”. Buku ini ditulis oleh Dedek Helida Pitra dan mengupas peran penting Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) dalam membentuk integritas dan tanggung jawab moral mahasiswa di tengah perubahan zaman yang semakin pragmatis.
Buku ini berawal dari riset akademik yang dilakukan Dedek saat menempuh studi Pascasarjana di Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Karya ini berkembang menjadi refleksi ideologis tentang pentingnya penanaman nilai dalam organisasi kemahasiswaan. Sleman, yang dikenal sebagai kawasan pendidikan dengan banyak perguruan tinggi ternama, dianggap memiliki ekosistem yang strategis untuk merawat tradisi kaderisasi berbasis karakter.
Dedek Helida Pitra menekankan bahwa organisasi kemahasiswaan seperti IMM tidak boleh hanya menjadi tempat aktivitas seremonial. Ia melihat organisasi ini sebagai sekolah kehidupan yang dapat membentuk manusia secara utuh, baik secara intelektual maupun spiritual. Hal ini menjadi antitesis terhadap budaya pasar yang sering kali mengikis orientasi moral generasi muda saat ini.
“Organisasi kemahasiswaan harus menjadi tempat pembentukan karakter yang kuat, bukan sekadar formalitas,” ujar Dedek Helida Pitra dalam keterangannya pada Minggu (1/3/2026).
Dalam bukunya, Dedek menjelaskan bahwa sistem perkaderan adalah proses bertahap yang terstruktur, mulai dari jenjang dasar hingga paripurna. Setiap tahap bukan hanya formalitas administratif, tetapi juga ruang untuk menginternalisasi nilai-nilai kejujuran, etika, dan kepemimpinan yang rendah hati. IMM lebih memilih jalur pembinaan berbasis nilai dan keteladanan daripada sekadar mengejar popularitas atau jumlah anggota.
Dedek juga menyoroti tantangan yang dihadapi organisasi kader saat ini, seperti disrupsi teknologi, polarisasi wacana digital, dan fragmentasi sosial. Menurutnya, ketahanan nilai internal adalah kunci agar mahasiswa tetap memiliki orientasi pengabdian yang jelas. Seorang intelektual sejati tidak hanya perlu memiliki kecerdasan akademik, tetapi juga kepekaan sosial yang tajam.
“Mahasiswa harus memiliki kepekaan sosial yang tinggi untuk menjadi intelektual sejati,” tegas Dedek dalam bukunya.
Gagasan dalam buku ini sangat relevan bagi Kabupaten Sleman yang dikenal sebagai pusat pendidikan. Pembentukan karakter dianggap sebagai investasi jangka panjang untuk pembangunan daerah dan bangsa. Kehadiran buku ini diharapkan dapat memperkuat ekosistem mahasiswa di Sleman agar tidak hanya menghasilkan lulusan yang kompeten secara teknis, tetapi juga individu yang memiliki integritas tinggi dan komitmen pada pengabdian masyarakat. (Athiful/KIM Depok)




















