Headline.co.id, Jakarta ~ Puasa Ramadan memiliki peran penting dalam pembentukan karakter seorang Muslim. Dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 183, Allah SWT menegaskan tujuan puasa adalah untuk menjadikan manusia bertakwa. Ubaidillah Amin, Staf Khusus Menteri Keuangan sekaligus Tokoh Nahdlatul Ulama (NU) Jawa Timur, menyatakan bahwa puasa bukan hanya kewajiban ritual, tetapi juga proses pendidikan spiritual yang membentuk sikap dan integritas dalam kehidupan.
“Puasa mengajarkan kita untuk menjadi pribadi yang bertakwa,” ujar Ubaidillah yang akrab disapa Gus Ubai di Jakarta, Senin (23/2/2026). Ia menambahkan bahwa puasa juga mengajarkan kesadaran akan batas. Sepanjang hari, seseorang menahan rasa haus dan lapar, dan menjelang waktu berbuka, muncul keinginan untuk menikmati makanan dan minuman, terutama yang dingin dan manis, seolah semuanya ingin dikonsumsi sekaligus sebagai “balasan” setelah seharian menahan diri.
Gus Ubai menegaskan bahwa di balik pengalaman sederhana ini terdapat pelajaran penting: keinginan manusia sering kali lebih besar daripada kemampuannya. Kesadaran akan batas ini menjadi bagian dari ketakwaan. Menurutnya, nilai ini relevan dalam kehidupan profesional, terutama dalam hal jabatan dan posisi. Keinginan untuk naik jabatan adalah hal yang wajar, namun jabatan bukan sekadar simbol status atau kenyamanan.
Ia menjelaskan bahwa puasa mengajarkan bahwa kesiapan lebih penting daripada ambisi. Seseorang tidak hanya dituntut untuk memiliki keinginan, tetapi juga membangun kemampuan dan karakter yang layak menyertai keinginan tersebut. Integritas, kesabaran, keteguhan, serta kemampuan mengendalikan diri adalah fondasi yang harus dipersiapkan sebelum memikul tanggung jawab yang lebih besar.
Selain itu, puasa juga melatih keikhlasan. Ibadah ini dilakukan tanpa pengawasan manusia secara langsung. Seseorang dapat saja melanggar puasanya tanpa diketahui orang lain, tetapi ia menahan diri karena keyakinan bahwa Allah Maha Mengetahui. Di situlah integritas dibentuk: melakukan yang benar meskipun tidak ada yang melihat.
Nilai ini sangat penting dalam dunia kerja. Integritas bukan ditentukan oleh seberapa besar pengakuan yang diterima, melainkan oleh konsistensi dalam menjalankan amanah dengan jujur dan penuh tanggung jawab. Ketulusan dan kesungguhan akan terlihat melalui hasil dan sikap, bukan melalui pencitraan, pungkas Gus Ubai.




















