Headline.co.id, Surabaya ~ Desa Welulang di Kabupaten Pasuruan, bersama dengan desa-desa lain seperti Banjarimbo, Panditan, dan Watulumbung, telah lama dikenal sebagai pusat budidaya lebah madu. Desa-desa ini telah mempertahankan tradisi ini selama bertahun-tahun. Salah satu peternak madu di Desa Welulang, Tiagus (45), telah menggeluti usaha ternak lebah selama 20 tahun, khususnya madu randu. Menurut Tiagus, madu dari nektar bunga randu sangat diminati karena memiliki aroma, rasa, warna, dan khasiat yang unggul.
“Rasanya lebih segar dan terasa hangat di tenggorokan, sehingga efeknya lebih cepat saat diminum,” kata Agus, Senin (23/2/2026). Untuk menghasilkan madu randu berkualitas, Tiagus membudidayakan ratusan ribu lebah jenis Apis mellifera. Lebah ini dikenal mampu memproduksi madu dalam jumlah besar saat musim panen raya. Dari sekitar 100 kotak koloni lebah, ia dapat menghasilkan 4–5 kwintal madu segar dalam sekali panen. “Dalam satu rak berisi sekitar 100 kotak koloni lebah, bisa menghasilkan hingga 5 kwintal per panen,” tambahnya.
Agus menjelaskan bahwa rasa dan tingkat kekentalan madu murni dapat bervariasi tergantung pada vegetasi atau sumber nektar di sekitarnya serta kondisi cuaca saat musim berbunga. Selain bunga randu, sumber nektar juga berasal dari bunga vernonia, mangga, karet, kopi, hingga kesambi. Untuk harga jual, Agus memasarkan madu dalam bentuk partai maupun eceran. Harga partai dibanderol Rp65 ribu per kilogram, sedangkan harga eceran mencapai Rp80 ribu per kilogram. “Menjadi peternak tentu ada suka dan dukanya. Kalau belum panen, berarti belum rezeki. Tapi kalau sedang musimnya, 15 hari bisa panen sampai 5 kwintal,” ujarnya.
Camat Lumbang, Didik Surianto, menjelaskan bahwa dari empat desa penghasil madu, Desa Welulang memiliki budidaya lebah terbanyak. Aktivitas ini dinilai sangat prospektif dalam meningkatkan perekonomian warga. Terlebih pada masa pandemi Covid-19 tahun 2020–2021, permintaan madu dari Kecamatan Lumbang meningkat tajam hingga membuat para peternak kewalahan memenuhi permintaan pasar. “Peminat madu sangat banyak, terutama saat pandemi. Stok sering kali kurang karena peternak harus menyesuaikan dengan musim bunga. Bahkan pembeli dari luar daerah, seperti Probolinggo, datang langsung ke sini,” tambahnya. (MC Prov Jatim/Eyv)



















