Headline.co.id, Jakarta ~ Ramadan identik dengan puasa, salat tarawih, dan tadarus Al-Qur’an. Namun, wanita yang mengalami haid tetap memiliki peluang meraih pahala besar melalui berbagai amalan alternatif yang dianjurkan dalam Islam. Kondisi haid merupakan ketetapan Allah bagi perempuan sehingga tidak menjadi penghalang meraih keberkahan Ramadan. Rasulullah SAW pernah menenangkan Aisyah RA dengan sabdanya, “Sesungguhnya ini adalah perkara yang telah Allah tetapkan bagi anak-anak wanita dari keturunan Adam.” (HR. Bukhari dan Muslim). Oleh karena itu, wanita yang meninggalkan puasa dan salat saat haid justru sedang menaati syariat.
Memahami Haid sebagai Ketetapan Allah
Dalam perspektif keislaman, haid bukan aib maupun tanda kekurangan iman, melainkan bagian dari ketetapan Allah bagi perempuan. Perasaan sedih karena tidak dapat menjalankan puasa dan salat memang wajar, tetapi kondisi tersebut tidak mengurangi peluang memperoleh pahala.
Ketaatan terhadap larangan ibadah tertentu saat haid justru merupakan bentuk ibadah. Niat baik yang terhalang oleh uzur syar’i tetap bernilai pahala, sehingga perempuan tidak perlu merasa kehilangan momen Ramadan.
Memberi Makan Orang Berbuka Puasa
Memberi makan orang yang berpuasa menjadi salah satu amalan utama yang dapat dilakukan wanita haid. Rasulullah SAW bersabda, “Siapa memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tersebut.” (HR. Tirmidzi).
Praktik amalan ini dapat dilakukan dengan berbagai cara, seperti menyiapkan hidangan berbuka untuk keluarga, membagikan takjil di jalan atau masjid, mentraktir teman berbuka, hingga berdonasi paket iftar. Amalan sederhana tersebut tetap bernilai pahala besar di bulan Ramadan.
Memperbanyak Dzikir dan Istighfar
Wanita haid tidak dilarang berdzikir. Dzikir merupakan amalan ringan di lisan tetapi berat di timbangan pahala. Waktu sahur dan menjelang berbuka menjadi momen yang dianjurkan untuk memperbanyak istighfar, tasbih, tahlil, serta kalimat tauhid.
Keutamaan dzikir disebut sebagai amalan yang paling suci dan paling baik di sisi Allah, sehingga tetap relevan dilakukan meski tidak dapat menjalankan ibadah salat.
Memanjatkan Doa di Waktu Mustajab
Doa tidak mensyaratkan kesucian dari hadas, sehingga wanita haid bebas berdoa kapan saja. Ramadan memiliki banyak waktu mustajab, seperti sepertiga malam terakhir dan menjelang berbuka puasa.
Wanita haid dapat memanfaatkan waktu tersebut untuk mendoakan orang tua, pasangan, anak, serta umat Muslim secara umum. Doa yang dipanjatkan dengan tulus diyakini akan diamini oleh malaikat.
Bersedekah dengan Berbagai Cara
Sedekah di bulan Ramadan memiliki keutamaan berlipat ganda. Rasulullah SAW dikenal sebagai pribadi yang dermawan, dan kedermawanannya semakin meningkat di bulan Ramadan.
Perempuan juga dianjurkan memperbanyak sedekah sebagai bentuk perlindungan dari api neraka. Sedekah tidak terbatas pada uang, tetapi juga dapat berupa makanan, pakaian layak pakai, bantuan tenaga, hingga kebaikan kecil kepada sesama.
Menuntut Ilmu dan Mengikuti Kajian
Menuntut ilmu merupakan ibadah yang sangat dianjurkan dalam Islam. Wanita haid tetap dapat menghadiri majelis ilmu secara langsung maupun daring.
Rasulullah SAW bersabda bahwa siapa pun yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga. Namun, mayoritas ulama melarang wanita haid berdiam diri di ruang utama masjid, sehingga solusi yang dianjurkan adalah mengikuti kajian dari serambi masjid atau melalui platform online.
Berinteraksi dengan Al-Qur’an secara Aman
Interaksi dengan Al-Qur’an saat haid termasuk ranah khilafiyah di kalangan ulama. Namun, aktivitas yang disepakati kebolehannya adalah mendengarkan murottal serta membaca terjemahan dan tafsir Al-Qur’an.
Cara ini dinilai tetap menjaga kedekatan spiritual dengan Al-Qur’an tanpa melanggar batasan syariat. Dengan memahami makna ayat, wanita haid tetap dapat merasakan manfaat spiritual selama Ramadan.
Melayani Keluarga sebagai Ibadah Sosial
Peran sosial dalam keluarga juga bernilai ibadah jika diniatkan sebagai amal saleh. Menyiapkan sahur, membangunkan anggota keluarga, serta memastikan kebutuhan ibadah mereka terpenuhi merupakan bentuk khidmah yang berpahala.
Dalam Islam, pelayanan kepada keluarga dipandang sebagai amal kebaikan yang tidak kalah besar nilainya dibanding ibadah individual.
Meraih Lailatul Qadr Meski Sedang Haid
Wanita haid tetap berpeluang meraih keutamaan Lailatul Qadr. Malam istimewa ini tidak hanya diisi dengan salat malam, tetapi juga doa, dzikir, dan muhasabah.
Pada sepuluh hari terakhir Ramadan, khususnya malam ganjil, wanita haid dianjurkan memperbanyak doa, termasuk doa yang diajarkan Rasulullah SAW, “Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa‘fu ‘anni.” Refleksi diri, istighfar, dan tobat nasuha juga menjadi amalan yang sangat bernilai.
Kesempatan Meraih Pahala Tetap Terbuka
Haid bukan penghalang bagi perempuan untuk meraih keberkahan Ramadan. Melalui dzikir, doa, sedekah, menuntut ilmu, pelayanan keluarga, serta amalan sosial lainnya, wanita tetap dapat mengoptimalkan ibadah.
Dengan pemahaman yang tepat, Ramadan tetap menjadi momentum spiritual bagi perempuan meski dalam kondisi haid. Niat yang ikhlas serta konsistensi dalam beramal menjadi kunci utama meraih pahala dan keberkahan di bulan suci.






















