Headline.co.id, Indonesia Memiliki Potensi Besar Dalam Pengembangan Sumber Daya Logam Tanah Jarang Yang Dapat Digunakan Untuk Berbagai Keperluan ~ seperti komponen mesin jet pesawat tempur, pesawat terbang komersial, hingga sistem senjata rudal. Selain itu, logam ini juga berfungsi dalam pembuatan elektronik, pendeteksi bawah laut, pertahanan antirudal, alat pelacak, pembangkit energi satelit, dan komunikasi. Untuk memanfaatkan potensi ini, pemerintah telah membentuk Badan Industri Mineral guna melakukan penelitian dan pengembangan. Diperkirakan ada delapan lokasi potensial logam tanah jarang di Sumatra, Kalimantan, dan Sulawesi, yang memperkuat posisi Indonesia dalam pasar mineral global yang semakin penting di tengah dinamika geopolitik dunia.
Dr. Eng. Ir. Lucas Donny Setijadji, S.T., M.Sc., dosen Departemen Teknik Geologi, Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada, menjelaskan bahwa riset mengenai logam tanah jarang di Indonesia telah berlangsung cukup lama. Penelitian pertama yang ia lakukan dimulai pada tahun 2008 dalam proyek kerja sama Indonesia-Jepang yang didanai oleh JICA. “Sebenarnya di kalangan peneliti, mineral ini bukan isu baru, tetapi perjalanan riset yang panjang,” ungkap Lucas pada Senin (18/2).
Menurut Lucas, perubahan momentum global terjadi ketika Tiongkok membatasi ekspor logam tanah jarang, yang memicu kekhawatiran negara industri seperti Jepang yang sangat bergantung pada pasokan tersebut untuk sektor teknologi dan manufaktur. “Sejak itulah eksplorasi logam tanah jarang digalakkan di seluruh dunia. Jepang menjadi salah satu promotor utama riset, termasuk di kawasan ASEAN dan Afrika, melalui pendanaan penelitian dan beasiswa,” jelasnya.
Lucas menegaskan bahwa meskipun Indonesia memiliki potensi besar, perlu dibedakan potensi dan realitas. Ia menjelaskan bahwa sementara komoditas seperti emas dan tembaga telah diproduksi secara masif, logam tanah jarang di Indonesia masih dalam tahap eksplorasi dan pengujian keekonomian. Hingga kini, Indonesia belum memiliki izin usaha pertambangan khusus untuk logam tanah jarang.
Pemerintah memilih pendekatan kehati-hatian karena komoditas ini dianggap sebagai kekayaan strategis negara yang harus dikelola sesuai amanat Pasal 33 UUD 1945. Negara-negara sekitar seperti Vietnam, Laos, dan Myanmar sudah memproduksi logam tanah jarang. “Indonesia memang relatif tertinggal, tetapi itu juga karena kehati-hatian kebijakan pemerintah,” ujarnya.
Pembentukan Badan Industri Mineral (BIM) untuk mengkoordinasikan riset dan kebijakan mineral strategis, menurut Lucas, menunjukkan bahwa pemerintah menempatkan riset perguruan tinggi sebagai elemen penting dalam pengelolaan mineral kritis. Salah satu temuan yang mendapat perhatian serius adalah potensi logam tanah jarang di sekitar Mamuju, Sulawesi Barat, yang disebut sebagai lokasi paling prospektif dan direncanakan menjadi lokasi proyek percontohan hilirisasi logam tanah jarang nasional.
Lucas menyebutkan bahwa UGM memiliki rekam jejak kuat dalam riset di kawasan tersebut. Salah satu peneliti yang mengungkap potensi Mamuju adalah alumni Departemen Teknik Geologi UGM yang menyelesaikan studi magister dan doktoralnya dengan topik wilayah tersebut. “Awalnya daerah ini diteliti karena anomali radioaktif oleh BATAN. Dalam perjalanannya, diketahui bahwa kandungan logam tanah jarangnya tinggi di Indonesia,” jelasnya.
Namun, Lucas mengingatkan bahwa tantangan terbesar bukan hanya pada penemuan sumber daya, melainkan pada penguasaan teknologi ekstraksi. “Logam tanah jarang kerap berasosiasi dengan unsur radioaktif dan memiliki karakter mineral yang berbeda di setiap lokasi sehingga membutuhkan metode pengolahan yang sangat spesifik,” ujarnya.
Meski belum diteliti lebih lanjut tingkat keekonomian, selain ditemukan di wilayah Bangka Belitung, kini wilayah di Kalimantan dan Sulawesi menunjukkan prospek baru dengan karakter geologi yang beragam. Menurutnya, eksplorasi sumber daya mineral adalah proses panjang dan kolaboratif. “UGM patut bangga karena ikut berkontribusi sejak tahap awal. Ke depan, mudah-mudahan Indonesia benar-benar mampu mengolah logam tanah jarang,” pungkasnya.




















