Headline.co.id, Jakarta ~ Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, memastikan bahwa seluruh sekolah yang terdampak bencana di wilayah Sumatra telah kembali melaksanakan kegiatan pembelajaran secara penuh. Hal ini menjadi fondasi penting dalam percepatan rehabilitasi dan rekonstruksi sektor pendidikan di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat. Dalam rapat koordinasi di Kementerian Dalam Negeri, Jakarta, Menteri Mu’ti memaparkan bahwa total 4.863 sekolah terdampak telah terdata, terdiri atas 3.409 sekolah rusak ringan, 925 rusak sedang, 437 rusak berat, serta 92 sekolah yang harus direlokasi. Rinciannya, 3.073 sekolah berada di Aceh, 1.168 di Sumatra Utara, dan 622 di Sumatra Barat.
Penilaian kerusakan difokuskan pada ruang-ruang esensial penunjang proses belajar, seperti ruang kelas, perpustakaan, ruang administrasi, dan ruang kepala sekolah. Pendataan terus diperkuat melalui rekonsiliasi bersama dinas pendidikan di tingkat kabupaten/kota hingga provinsi agar penanganan lebih akurat dan terarah. Sebagai langkah cepat pemulihan, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah memastikan hak belajar anak tetap terpenuhi meski sebagian sarana prasarana mengalami kerusakan berat. Hingga 11 Februari 2026, seluruh sekolah telah kembali melaksanakan pembelajaran, baik di lokasi asal, ruang darurat, maupun menumpang sementara.
Di Aceh, 3.001 sekolah sudah kembali ke sekolah asal, sementara 52 sekolah masih belajar di tenda atau kelas darurat dan 20 sekolah menumpang. Di Sumatra Utara, 1.142 sekolah telah kembali ke lokasi asal dengan 26 sekolah masih menggunakan fasilitas darurat. Adapun di Sumatra Barat, 599 sekolah telah pulih di lokasi semula, 21 sekolah masih di tenda darurat, dan dua sekolah menumpang sementara. “Total pelaksanaan pembelajaran sudah mencapai 100 persen. Pada 26 Januari lalu, masih ada 129 sekolah belajar di tenda darurat, sekarang tersisa 99 karena proses pembersihan terus berjalan. Begitu pula sekolah yang menumpang, dari 27 kini tinggal 22 sekolah,” ujar Mendikdasmen, dalam Rapat Koordinasi Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana di Wilayah Sumatera yang digelar di Kementerian Dalam Negeri, Jakarta, Kamis (12/2/2026).
Percepatan pemulihan ini mendapat perhatian dari Sekretaris Kabinet Teddy Indrawijaya yang menilai kolaborasi lintas sektor menghasilkan capaian konkret dalam waktu relatif singkat. Menurutnya, sinergi kementerian, aparat Tentara Nasional Indonesia, Kepolisian Negara Republik Indonesia, relawan, dan masyarakat mampu mendorong percepatan pemulihan pendidikan pascabencana. “Data, fakta, dan realita ini menunjukkan hasil super cepat dan kerja konkret. Pelaksanaan pembelajaran sudah mencapai 100 persen,” ujarnya.
Sementara itu, Menteri Dalam Negeri sekaligus Ketua Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Wilayah Sumatra, Tito Karnavian, menilai identifikasi tingkat kerusakan yang dilakukan Kemendikdasmen sudah tepat dan terukur. Ia menegaskan, pemerintah pusat melalui satgas telah mengerahkan dukungan pembersihan lokasi bersama TNI/Polri sebelum tahap pembangunan kembali dilakukan. “Mendikdasmen sudah memiliki peta kerusakan yang jelas serta timeline pasti terhadap langkah yang akan dikerjakan,” kata Tito.
Capaian pemulihan pembelajaran secara menyeluruh ini menunjukkan kehadiran negara dalam menjaga keberlanjutan pendidikan anak-anak di wilayah terdampak bencana, sekaligus menjadi pijakan awal percepatan rehabilitasi sarana pendidikan secara permanen di Sumatra.



















