Headline.co.id, Jakarta ~ Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengumumkan bahwa sebagian besar fasilitas kesehatan yang terdampak bencana di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat telah kembali beroperasi. Dari 1.265 puskesmas yang ada di tiga provinsi tersebut, 867 sempat berhenti beroperasi akibat bencana, namun kini hampir semuanya telah berfungsi kembali.
Dalam konferensi pers mengenai Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Wilayah Sumatra pada Rabu (11/2/2026), Menkes menyatakan bahwa hanya dua fasilitas kesehatan yang belum beroperasi karena mengalami kerusakan total dan memerlukan pembangunan ulang. Sebanyak 152 fasilitas kesehatan lainnya sebelumnya tidak dapat digunakan karena terendam lumpur dan mengalami kerusakan sedang hingga berat. Pemerintah melakukan revitalisasi cepat melalui pembersihan, perbaikan bangunan, dan pengadaan alat kesehatan darurat.
Dua fasilitas kesehatan yang mengalami kerusakan total berada di Aceh Timur dan satu wilayah lainnya di tepi sungai. Kementerian Kesehatan bekerja sama dengan Kementerian PUPR untuk membangun ulang fasilitas tersebut dalam waktu kurang dari satu bulan agar layanan kesehatan dasar dapat segera tersedia kembali bagi masyarakat.
Selain rehabilitasi fisik, Kemenkes juga mempercepat pengadaan alat kesehatan yang rusak. Sebagian alat medis dipenuhi melalui anggaran negara, sementara sebagian lainnya berasal dari donasi BUMN, organisasi profesi, kampus, dan masyarakat. Pendekatan ini dilakukan untuk mempercepat operasional layanan tanpa harus menunggu seluruh proses pencairan anggaran selesai.
Di bidang sumber daya manusia, Kemenkes telah mengirim lebih dari 6.300 tenaga kesehatan ke berbagai kabupaten/kota terdampak. Mereka terdiri dari dokter, perawat, tenaga kesehatan lingkungan, hingga psikolog klinis untuk mendukung layanan trauma healing, khususnya bagi anak-anak dan kelompok rentan di pengungsian. “Kesehatan jiwa menjadi perhatian penting karena banyak anak kehilangan anggota keluarga dan mengalami tekanan psikologis,” ujar Budi.
Untuk mencegah potensi wabah di lokasi pengungsian, pemerintah juga melakukan imunisasi cepat, terutama untuk penyakit campak yang menjadi salah satu kasus tertinggi pascabencana. Program imunisasi darurat telah dilaksanakan di sejumlah titik pengungsian dan daerah terdampak.
Kemenkes mencatat sebanyak 212 unit ambulans mengalami kerusakan akibat bencana. Dari jumlah tersebut, 59 unit tidak dapat diperbaiki. Pemerintah menerima donasi 33 unit ambulans, sementara sisanya masih dalam proses pemenuhan melalui pengadaan dan dukungan tambahan.
Selain fasilitas layanan, rumah tenaga kesehatan yang rusak juga menjadi perhatian. Pemerintah tengah menyalurkan bantuan stimulan perbaikan rumah bagi tenaga kesehatan agar mereka dapat kembali bekerja secara optimal. Skema bantuan disiapkan dalam beberapa kategori nilai bantuan sesuai tingkat kerusakan.
Menkes menegaskan bahwa target pemerintah adalah memastikan seluruh puskesmas dan rumah sakit terdampak kembali beroperasi 100 persen, termasuk pemenuhan alat kesehatan dan tenaga medis. “Komitmen kami adalah memastikan layanan kesehatan tetap berjalan, tidak hanya pulih, tetapi lebih siap menghadapi risiko bencana di masa mendatang,” kata Budi.





















