Headline.co.id, Jakarta ~ Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menyatakan belasungkawa atas meninggalnya seorang murid sekolah dasar di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT). Kejadian ini menjadi perhatian serius pemerintah dan menggarisbawahi pentingnya perlindungan menyeluruh terhadap kesejahteraan anak, terutama dari aspek psikososial.
Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Atip Latipulhayat, menekankan bahwa kasus ini bukanlah insiden tunggal, melainkan mencerminkan kompleksitas masalah kesejahteraan anak yang dipengaruhi oleh berbagai faktor terkait, mulai dari lingkungan keluarga, satuan pendidikan, hingga dukungan sosial di masyarakat. “Negara hadir untuk memastikan setiap anak mendapatkan hak perlindungan secara utuh. Dukungan pendidikan tidak boleh berhenti pada bantuan finansial, tetapi juga harus mencakup pendampingan psikososial, perhatian moral, dan lingkungan tumbuh kembang yang aman dan suportif,” ujar Atip dalam pernyataan resminya, Kamis (5/2/2026).
Kemendikdasmen mencatat bahwa murid yang meninggal adalah penerima manfaat Program Indonesia Pintar (PIP) yang telah disalurkan sesuai mekanisme. Namun, kementerian menekankan bahwa kebijakan afirmasi pendidikan bagi keluarga rentan harus dilengkapi dengan penguatan peran sekolah, keluarga, dan masyarakat dalam mendeteksi serta merespons kerentanan emosional anak sejak dini.
Sebagai langkah tindak lanjut, Kemendikdasmen melalui Balai Penjaminan Mutu Pendidikan (BPMP) NTT telah berkoordinasi dengan pemerintah daerah dan pihak terkait untuk memberikan pendampingan kepada keluarga korban. Pendampingan ini mencakup dukungan psikososial serta keberlanjutan akses pendidikan bagi anggota keluarga lainnya yang masih bersekolah.
Koordinasi lintas sektor juga terus dilakukan untuk memastikan keluarga mendapatkan layanan sosial dan pendidikan yang diperlukan. Langkah ini sejalan dengan komitmen pemerintah dalam menghadirkan sistem pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada capaian akademik, tetapi juga pada keselamatan dan kesejahteraan peserta didik.
Kemendikdasmen mengajak semua pihak, termasuk masyarakat dan media, untuk menyikapi informasi secara bijak dan menghindari spekulasi yang dapat menambah beban psikologis keluarga dan komunitas sekolah. Dukungan kolektif dari orang tua, satuan pendidikan, masyarakat, pemerintah daerah, dan pemerintah pusat dinilai penting dalam menciptakan lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan manusiawi. “Setiap anak harus merasa didengar, dihargai, dan didampingi. Ini menjadi tanggung jawab bersama agar peristiwa serupa tidak terulang di masa mendatang,” tutup Atip.




















