Headline.co.id, Jakarta ~ Keutamaan puasa Nisfu Syaban menjadi perhatian umat Islam menjelang pertengahan bulan Sya’ban, yang jatuh pada tanggal 15 kalender Hijriah. Ibadah sunnah ini dipandang sebagai momentum penting untuk evaluasi diri, memperbaiki hubungan antarsesama, serta mempersiapkan fisik dan spiritual sebelum memasuki bulan Ramadan. Puasa ini dilakukan pada fase ketika amal tahunan diangkat ke hadapan Allah SWT, sebagaimana dijelaskan dalam sejumlah hadis sahih. Pelaksanaan ibadah ini tidak hanya bernilai ritual, tetapi juga sarat makna pembinaan akhlak dan ketakwaan.
Kedudukan Bulan Sya’ban dalam Tradisi Ibadah
Bulan Sya’ban menempati posisi istimewa di antara bulan Rajab dan Ramadan. Dalam sebuah hadis sahih yang diriwayatkan Imam An-Nasa’i, Rasulullah SAW menyebut Sya’ban sebagai bulan yang sering dilalaikan manusia, padahal pada bulan inilah amal-amal diangkat kepada Allah SWT.
“Bulan Sya’ban adalah bulan yang biasa dilalaikan manusia karena letaknya antara Rajab dan Ramadan, padahal di bulan itulah amal diangkat kepada Allah,” demikian hadis riwayat An-Nasa’i.
Para ulama memaknai hadis tersebut sebagai dasar anjuran memperbanyak ibadah, termasuk puasa sunnah, agar seorang hamba berada dalam kondisi terbaik saat catatan amalnya dilaporkan.
Puasa Saat Pengangkatan Amal Tahunan
Salah satu keutamaan puasa Nisfu Syaban yang paling utama adalah dilakukan bertepatan dengan waktu pengangkatan amal tahunan. Dalam Kitab Lathaiful Ma’arif dijelaskan bahwa berada dalam keadaan berpuasa saat amal diangkat merupakan bentuk kemuliaan seorang hamba di hadapan Allah SWT.
Hal ini sejalan dengan kebiasaan Rasulullah SAW yang memperbanyak puasa sunnah sepanjang bulan Sya’ban. Aisyah RA menuturkan, “Aku tidak pernah melihat Rasulullah SAW berpuasa lebih banyak daripada di bulan Sya’ban,” sebagaimana diriwayatkan Imam Bukhari dan Muslim.
Kesempatan Mendapat Ampunan dan Membersihkan Hati
Keutamaan lain dari Nisfu Syaban adalah terbukanya pintu ampunan Allah SWT. Dalam hadis riwayat Imam Ahmad yang disahihkan oleh Ibnu Hibban, disebutkan bahwa Allah memberikan ampunan kepada seluruh makhluk-Nya pada malam Nisfu Syaban, kecuali orang musyrik dan mereka yang bermusuhan.
“Allah memantau makhluk-Nya pada malam Nisfu Sya’ban, lalu Dia mengampuni seluruh makhluk-Nya kecuali orang musyrik dan orang yang bermusuhan,” demikian bunyi hadis tersebut.
Ulama menekankan bahwa ampunan ini menuntut kesiapan batin, termasuk kesediaan untuk saling memaafkan dan membersihkan hati dari iri serta dendam.
Mengikuti Sunnah Rasulullah SAW
Puasa di bulan Sya’ban juga merupakan bentuk kecintaan kepada sunnah Nabi Muhammad SAW. Hadis sahih muttafaqun ‘alaih menegaskan bahwa Rasulullah SAW menjadikan Sya’ban sebagai bulan dengan intensitas puasa sunnah tertinggi setelah Ramadan.
Namun, para ulama menegaskan tidak terdapat hadis sahih yang secara khusus mewajibkan atau mensyariatkan puasa pada siang hari tanggal 15 Sya’ban saja. Puasa Nisfu Syaban dipahami sebagai bagian dari puasa sunnah Sya’ban secara umum atau bertepatan dengan puasa Ayyamul Bidh.
Hadis tentang Puasa Nisfu Syaban
Sejumlah hadis tentang Nisfu Syaban memiliki derajat yang berbeda. Hadis riwayat Ibnu Majah yang secara eksplisit memerintahkan puasa di siang hari Nisfu Syaban dinilai sangat lemah oleh mayoritas ulama hadis.
Imam Nawawi dan Ibnu Rajab Al-Hanbali menegaskan bahwa tidak ada hadis sahih yang secara khusus memerintahkan puasa pada tanggal tersebut. Oleh karena itu, pelaksanaan puasa Nisfu Syaban masuk dalam cakupan puasa sunnah Sya’ban atau Ayyamul Bidh, bukan ibadah yang berdiri sendiri dengan hukum khusus.
Nilai Pahala dan Persiapan Menuju Ramadan
Dalam Buku Fiqh Sunnah karya Sayyid Sabiq, puasa di bulan Sya’ban dipandang sebagai bentuk penghormatan terhadap waktu yang dimuliakan Allah SWT. Ibadah ini diyakini membawa ketenangan batin sekaligus melatih kesiapan mental dan fisik menjelang Ramadan.
Puasa yang dilakukan di saat banyak orang lalai juga memiliki nilai pahala yang tinggi. Allah SWT memberikan ganjaran besar kepada hamba-Nya yang tetap beribadah ketika lingkungan sekitar kurang memberikan perhatian pada amalan tersebut.
Keutamaan Menggabungkan dengan Puasa Ayyamul Bidh
Menggabungkan puasa Nisfu Syaban dengan puasa Ayyamul Bidh pada tanggal 13, 14, dan 15 Hijriah dinilai lebih afdal. Dalam Kitab Ihya Ulumuddin karya Imam Al-Ghazali, dijelaskan bahwa pertengahan bulan melambangkan puncak kesadaran spiritual.
Puasa tiga hari ini setara dengan puasa sepanjang tahun dan memberikan manfaat spiritual sekaligus menjaga stabilitas emosional dan kesehatan fisik.
Penegasan Ulama dan Sikap Moderat Beribadah
Mayoritas ulama sepakat bahwa puasa di bulan Sya’ban hukumnya sunnah muakkadah bagi yang mampu. Umat Islam dianjurkan memahami dalil secara proporsional, tidak berlebihan, dan tetap berpegang pada hadis sahih dalam mengamalkan ibadah.
Dengan pemahaman yang tepat, keutamaan puasa Nisfu Syaban dapat dimaknai sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah SWT, memperbaiki hubungan sosial, serta menyiapkan diri menyambut Ramadan dengan hati yang bersih dan amal yang lebih baik.






















