Headline.co.id, Jakarta ~ Pemerintah berupaya memperkuat pemulihan pascabencana di Sumatra dengan menerapkan teknologi tepat guna yang dikembangkan melalui riset perguruan tinggi. Program Mahasiswa Berdampak, yang diinisiasi oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek), memfokuskan intervensi di wilayah Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat. Program ini melibatkan kampus-kampus lokal agar solusi yang diterapkan sesuai dengan kebutuhan masyarakat setempat.
Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan Kemdiktisaintek, Fauzan Adziman, menekankan bahwa peran mahasiswa tidak hanya terbatas pada aksi kemanusiaan jangka pendek, tetapi juga sebagai bagian dari pembelajaran berbasis riset dan inovasi. Setiap kelompok mahasiswa akan didampingi oleh dosen pembimbing sesuai dengan bidang keahlian mereka untuk memastikan solusi yang diterapkan berbasis kajian ilmiah dan berkelanjutan.
“Kita menyesuaikan kebutuhan daerah terdampak dengan jumlah mahasiswa yang diturunkan. Penyebaran mahasiswa terbanyak berada di Aceh, khususnya Kabupaten Aceh Tamiang. Di Sumatra Utara difokuskan di Kabupaten Tapanuli Selatan, dan di Sumatra Barat di Kabupaten Agam,” ujar Dirjen Fauzan usai pelepasan simbolis 10.000 mahasiswa di Auditorium Universitas Negeri Medan, Sumatra Utara, Rabu (28/1/2026).
Program ini mengedepankan pemanfaatan teknologi tepat guna yang dikembangkan dari hasil riset kampus. Teknologi tersebut dirancang agar sederhana, adaptif, dan mudah diterapkan oleh masyarakat, sehingga dapat menjadi solusi jangka panjang. Bidang intervensi meliputi pemulihan ekonomi masyarakat, peningkatan akses layanan publik dan fasilitas umum, pemenuhan kebutuhan kesehatan, serta penguatan pengetahuan dan keterampilan warga pascabencana.
Di sektor pangan, mahasiswa mendorong ketahanan pangan berkelanjutan melalui diversifikasi pangan lokal, pertanian pascabencana, hingga pengembangan sistem hidroponik untuk lahan terbatas. Sementara itu, di sektor energi dan layanan dasar, mahasiswa mengimplementasikan teknologi penyediaan air bersih, pencahayaan berbasis tenaga surya, serta pemulihan akses listrik bagi fasilitas vital masyarakat. Pada sektor kesehatan, fokus diarahkan pada layanan kesehatan dasar, pendampingan psikososial, dan trauma healing bagi kelompok rentan terdampak bencana.
Program ini mengadopsi pendekatan social impact challenge, yaitu metode pemberdayaan masyarakat berbasis tantangan nyata di lapangan yang diselesaikan melalui kolaborasi lintas disiplin mahasiswa dan dosen. Pendekatan ini memastikan solusi yang diterapkan benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat, bukan sekadar memenuhi target administratif.
Secara regulatif, program Mahasiswa Berdampak sejalan dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi, yang menegaskan peran perguruan tinggi dalam menghasilkan lulusan berkarakter, peduli sosial, dan mampu memberi kontribusi nyata bagi masyarakat. Program ini juga menegaskan posisi kampus sebagai aktor strategis dalam penanganan isu kebencanaan nasional melalui riset dan aksi langsung.
Dirjen Fauzan juga menyampaikan bahwa program ini sejalan dengan arahan Presiden RI Prabowo Subianto yang mendorong generasi muda menjadi motor perubahan bagi kebangkitan bangsa. “Bapak Presiden berharap generasi muda hadir membawa perubahan. Kita tidak akan berhenti dan meninggalkan daerah bencana. Kita bangun kembali agar tidak ada yang tertinggal,” kata Fauzan.
Selain berdampak langsung bagi masyarakat, Mahasiswa Berdampak menjadi ruang pembelajaran kontekstual bagi mahasiswa untuk mengasah kepekaan sosial, kepemimpinan, serta kemampuan bekerja dalam situasi krisis. Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto menegaskan bahwa kehadiran mahasiswa harus meninggalkan jejak berkelanjutan. “Ketika mahasiswa kembali ke kampus, pemulihan harus terus berjalan. Yang kami bangun adalah kapasitas masyarakat agar mereka lebih kuat melanjutkan kehidupan ekonominya. Pelepasan 10.000 Mahasiswa Berdampak ini bukan seremoni, melainkan pernyataan sikap bahwa negara hadir melalui perguruan tinggi,” pungkas Menteri Brian.
Kehadiran ribuan mahasiswa di wilayah terdampak bencana di Sumatra menjadi simbol gotong royong nasional berbasis ilmu pengetahuan dan solidaritas sosial. Lebih dari sekadar program pengabdian, Mahasiswa Berdampak diposisikan sebagai investasi sosial jangka panjang untuk membangun masyarakat yang tangguh dan berdaya saing melalui kolaborasi ilmu, inovasi, dan kemanusiaan.


















