Headline.co.id, Puncak ~ Populasi elang jawa (Nisaetus bartelsi) saat ini berada dalam status hampir punah dengan jumlah yang diperkirakan hanya tersisa 511 pasang atau sekitar 1.000 ekor yang tersebar di 74 hutan di Pulau Jawa. Kondisi ini mendorong perlunya upaya konservasi satwa langka untuk menjaga keberlanjutan ekosistem. Ancaman utama bagi elang jawa adalah degradasi hutan dan perdagangan satwa liar. Sebagai spesies puncak, elang jawa memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem.
Donan Satria Yudha, S.Si., M.Sc., dosen dari Fakultas Biologi UGM yang fokus pada satwa liar, menilai bahwa status hampir punah elang jawa disebabkan oleh berbagai faktor, terutama hilangnya habitat. Habitat elang jawa memiliki persyaratan khusus, sehingga tidak semua area pegunungan atau perbukitan di Jawa dapat menjadi tempat tinggal mereka. Habitat ideal bagi elang jawa adalah hutan hujan tropis dengan heterogenitas tinggi dan keberadaan pohon menjulang tinggi. “Area hutan harus memiliki potensi mangsa yang cukup seperti tikus, tupai, bajing, ayam hutan, dan sebagainya, serta berada di pegunungan atau perbukitan dengan kemiringan lahan yang curam,” jelas Donan pada Senin (19/1).
Donan juga menyoroti bahwa banyak habitat elang jawa yang telah diserobot oleh manusia untuk berbagai kepentingan. Ia mengimbau agar manusia berbagi lahan dengan hewan dan tumbuhan. “Semua makhluk hidup termasuk Elang Jawa adalah ciptaan Tuhan dan mereka berhak untuk tinggal di Bumi-Nya. Kita wajib berbagi lahan dengan hewan dan tumbuhan,” tegasnya.
Kepunahan elang jawa dapat mengubah struktur komunitas dan kesehatan ekosistem. Elang jawa memangsa bajing dan jelarang hitam, yang memakan buah-buahan dan biji-bijian di hutan. “Jika Elang Jawa punah, maka populasi bajing dan jelarang akan meningkat karena tidak ada pemangsa. Ketika populasi bajing dan jelarang terlalu banyak, tumbuhan berbuah dan berbiji di hutan akan cepat habis sebelum regenerasi tumbuhan muncul,” ujarnya.
Kondisi ini akan mengganggu regenerasi tumbuhan hutan dan menyebabkan tekanan pada populasi tumbuhan. Selain itu, overpopulasi bajing dan jelarang dapat menyebabkan kompetisi dengan hewan pemakan buah dan biji lainnya seperti burung. “Daya dukung tumbuhan hutan terbatas, jadi populasi hewan yang didukung oleh tumbuhan harus terkontrol. Itulah contoh nyata keanekaragaman dan keseimbangan ekosistem yang terganggu,” tambahnya.
Donan menjelaskan bahwa elang jawa sebagai predator utama mempengaruhi keberadaan dan jumlah hewan lain, terutama mangsanya seperti mamalia kecil. “Ketika ada elang jawa, ekosistem terjaga dan sehat, karena hewan lain seperti tikus, tupai, monyet, musang, kadal, ular terkontrol populasinya. Sehingga ketika kita menyelamatkan elang jawa, maka hewan maupun tumbuhan lain di dalam area konservasi juga otomatis terlindungi,” jelasnya.
Untuk mengatasi penurunan populasi elang jawa, Donan menyarankan perlunya area konservasi habitat elang jawa, termasuk area bersarang, wilayah jelajah, dan area berburu yang harus dilindungi oleh pemerintah. Upaya konservasi lain adalah memperluas area konservasi yang ada atau membuat kawasan perlindungan baru di sekitar kawasan perlindungan. Bentuk konservasi habitat bisa berupa Taman Nasional atau Cagar Alam.
Selain itu, pemangku kepentingan perlu berkolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk pemerintah, akademisi, peneliti, NGO, swasta, dan masyarakat. Donan menegaskan bahwa peran masyarakat sangat penting dalam konservasi elang jawa, karena mereka berada di garis depan konservasi. “Penerapan larangan berburu dengan hukuman yang berat dan jelas perlu sosialisasi disamping melakukan rehabilitasi dan pelepasliaran elang jawa,” pungkasnya.




















