Headline.co.id, Makassar ~ Upacara pengukuhan Guru Besar Prof. Zainal Arifin Mochtar di Balai Senat UGM pada Kamis (15/1) berlangsung dengan suasana haru. Acara tersebut dihadiri oleh banyak undangan dan menjadi momen emosional ketika Zainal, yang akrab disapa Uceng, menyampaikan pidato penutupnya. Dalam pidatonya, ia mengenang pesan dari almarhum ayahnya yang tidak dapat menyaksikan pencapaiannya sebagai profesor di Universitas Gadjah Mada.
Uceng mengingat perjalanan panjangnya dalam memenuhi janji kepada orang tuanya. Tahun 2017 menjadi masa paling berat baginya ketika sang ayah meninggal dunia. Ia berjanji untuk merawat ribuan buku peninggalan ayahnya dan menyelesaikan perjalanan akademiknya hingga menjadi guru besar, yang kini telah terwujud.
Setelah turun dari mimbar, Uceng menangis dalam pelukan ibunya, Hj. Zaitun Abbas, menambah suasana haru dalam acara tersebut. Ia merefleksikan perjalanan hidupnya yang penuh tantangan sebagai bagian dari proses panjang yang harus dilalui. Uceng menyatakan bahwa pencapaiannya bukanlah sesuatu yang datang tiba-tiba, dan ia berterima kasih kepada banyak pihak yang telah berkontribusi dalam perjalanannya.
Uceng, yang lahir di Makassar, mengakui bahwa kontribusinya di dunia hukum tidaklah mudah. Ia telah melalui berbagai peran, mulai dari anak, pelajar, hingga menjadi pemikir di ranah universitas dan kebangsaan. Masa kecilnya di Makassar, di rumah dekat Stadion Mattoangin, penuh dengan kisah dan pengalaman yang membentuk dirinya.
Pengalaman berorganisasi juga turut membentuk Uceng, mulai dari Ketua OSIS Smansa Makassar hingga Ketua Senat Fakultas Hukum UGM. Ia aktif di berbagai komunitas dan lembaga, termasuk Pusat Kajian Anti Korupsi (Pukat Korupsi) dan Cakshana Institute. Uceng juga terlibat dalam berbagai forum diskusi dan seminar yang memperkaya pengetahuannya.
Pendidikan tingginya dimulai di UGM pada 2003, kemudian meraih gelar Master of Laws (LL.M.) dari Northwestern University, Chicago, pada 2006, dan menyelesaikan studi doktoral di UGM pada 2012. Ia pernah menjabat sebagai Ketua Departemen Hukum Tata Negara Fakultas Hukum UGM (2021–2025) dan aktif dalam berbagai posisi strategis nasional.
Dalam lima tahun terakhir, Uceng terlibat dalam belasan penelitian, menulis jurnal, dan publikasi, serta menyusun beberapa buku. Namanya dikenal publik melalui film dokumenter Dirty Vote: Sebuah Desain Kecurangan Pemilu 2024. Uceng menekankan bahwa menjadi profesor adalah tanggung jawab intelektual yang lebih berat daripada sekadar gelar administratif.
Ganjar Pranowo, salah satu teman diskusi Uceng, mengapresiasi pengukuhan tersebut dan berharap Uceng terus menyuarakan kebenaran berdasarkan data dan fakta. Jusuf Kalla juga berharap pemikiran Uceng dapat bermanfaat bagi kemajuan demokrasi bangsa. Eddy O.S Hiariej, yang dianggap Uceng sebagai saudara dan teman debat, turut memberikan selamat atas pencapaiannya.
Uceng berharap para profesor dapat menjadi intelektual organik yang memberdayakan masyarakat, terutama di tengah situasi pembodohan yang sistematis. “Tanggung jawab kita kelak akan ditagih,” ujarnya menutup pidato.





















