Headline.co.id, Blangkejeren ~ Proses belajar mengajar di Kabupaten Gayo Lues mulai kembali berjalan secara bertahap sejak 5 Januari 2026. Untuk sekolah-sekolah yang terdampak bencana dan mengalami kerusakan, kegiatan pembelajaran dilaksanakan di sekolah darurat dengan menggunakan tenda.
Kepala Dinas Pendidikan Gayo Lues, Salid, menyatakan bahwa sejumlah satuan pendidikan dari berbagai jenjang tidak dapat digunakan sementara akibat bencana alam. Sekolah-sekolah yang terdampak meliputi satu TK, lima SD, empat SMP, dan satu MIS.
“Proses belajar mengajar tetap dilaksanakan seperti sekolah reguler, namun pada tahap awal tentu belum bisa sepenuhnya normal. Kegiatan pembelajaran akan lebih banyak diisi dengan aktivitas bermain sambil belajar, sekaligus sebagai bagian dari trauma healing bagi anak-anak,” jelas Salid.
Ia menambahkan bahwa durasi kegiatan belajar mengajar di sekolah darurat kemungkinan akan dipersingkat menyesuaikan dengan kondisi kedaruratan di lapangan.
Salid merinci bahwa titik-titik sekolah darurat tersebar di beberapa kecamatan. Di Kecamatan Tripe Jaya, pembelajaran dilaksanakan di SD Negeri 3 dan SMPIT Askaril Ikhlas. Sementara di Kecamatan Pantan Cuaca, sekolah darurat berada di SD Negeri 4 dan SD Negeri 5 yang berlokasi di Kampung Remukut dan Tetingi.
“Selanjutnya di wilayah Pepelah, sekolah darurat berada di SD Negeri 5 Pining. Sedangkan di Kecamatan Agusen, sekolah tidak terdampak secara fisik, namun masyarakatnya terdampak bencana, seperti di Kampung Palok,” lanjutnya.
Selain fasilitas pendidikan, Dinas Pendidikan Gayo Lues juga mendata dampak bencana terhadap tenaga pendidik. Tercatat 85 rumah guru hanyut akibat bencana dan telah difasilitasi bantuan oleh keluarga besar Dinas Pendidikan.
“Kami juga berkoordinasi dengan Bapak Bupati melalui Kalak BPBD untuk memfasilitasi seragam sekolah, seragam guru, serta alat tulis bagi peserta didik. Insyaallah, bantuan ini akan mulai dibagikan pada hari pertama sekolah,” tambah Salid.
Terkait lokasi tenda belajar, ia menjelaskan bahwa sebagian besar didirikan berdekatan dengan posko pengungsian, namun tetap diatur agar tidak bercampur langsung dengan aktivitas pengungsi.
“Ada satu sekolah yang tendanya cukup berdekatan dan berbaur dengan posko, seperti SD Negeri 10 di Palok. Dalam kondisi ini, orang tua memanfaatkan ruang belajar di posko, sementara anak-anak menggunakan tenda yang disiapkan,” pungkasnya.



















