Headline.co.id (Jakarta) – Lebih dari 150 tahun perkeretaapian hadir di Jakarta, Stasiun Jakarta Kota atau yang populer dengan sebutan Beos kini tetap menjadi simpul vital transportasi. Diresmikan pada 8 Oktober 1929 dengan rancangan arsitektur Art Deco karya A.W. Ghijsels, stasiun ini setiap hari melayani ratusan ribu pengguna KRL Commuter Line. PT KAI menegaskan, peran Stasiun Jakarta Kota tidak hanya sebagai pusat mobilitas, tetapi juga pintu gerbang wisata, perdagangan, dan aktivitas ekonomi di kawasan Kota Tua.
Vice President Public Relations KAI, Anne Purba, menyampaikan bahwa Stasiun Jakarta Kota saat ini melayani rata-rata 671 ribu penumpang per bulan dengan 374 perjalanan KRL harian. Lokasinya yang strategis menjadikan stasiun ini tetap relevan hampir seabad setelah berdiri, sekaligus memperkuat fungsi transportasi publik di Jabodetabek.
Untuk mendukung kenyamanan pengguna, KAI melengkapi stasiun dengan fasilitas modern seperti eskalator, lift, jalur landai, ruang menyusui, toilet ramah disabilitas, ruang tunggu ber-AC, dan layar informasi digital. Dari sisi keamanan, CCTV dan petugas berjaga selama 24 jam. Integrasi transportasi juga tersedia, mulai dari TransJakarta, mikrotrans, bajaj, hingga layanan transportasi daring.
Sejalan dengan program pemerintah, KAI turut mendorong revitalisasi kawasan Kota Tua termasuk Stasiun Jakarta Kota. Upaya ini tidak hanya menjaga nilai sejarah, tetapi juga menghadirkan wajah baru transportasi perkotaan yang ramah pejalan kaki, hijau, dan modern.
KAI juga menghadirkan inovasi digital melalui aplikasi Access by KAI. Layanan ini memudahkan masyarakat membeli tiket, mengecek jadwal real-time, memilih kursi, hingga mengakses promo terbaru secara langsung lewat ponsel.
“Stasiun Jakarta Kota mengingatkan kita bahwa sejarah dan masa depan bisa bertemu dalam satu perjalanan,” ujar Anne menutup keterangannya.





















