Highlight Berita:
Headline.co.id, Yogyakarta ~ Demo mahasiswa Jogja akan digelar di Pertigaan Gejayan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Sabtu (13/6/2026) pukul 14.00 WIB. Aksi yang diinisiasi Aliansi Rakyat Memanggil tersebut akan melibatkan mahasiswa dan berbagai kelompok masyarakat sipil untuk menyampaikan kritik terhadap sejumlah kebijakan pemerintah. Dalam demo di Jogja hari ini, massa dijadwalkan membawa berbagai tuntutan terkait kondisi ekonomi, demokrasi, pendidikan, dan kesejahteraan masyarakat. Sejumlah kelompok peserta juga telah melakukan konsolidasi sebagai persiapan menjelang aksi.
Demo mahasiswa Jogja ini kembali menjadikan Pertigaan Gejayan sebagai titik utama penyampaian aspirasi publik. Lokasi tersebut memiliki sejarah panjang sebagai ruang gerakan masyarakat sipil di Yogyakarta sejak era Reformasi 1998 dan dikenal melalui berbagai aksi bertajuk Gejayan Memanggil.
Dalam demo di Jogja hari ini, peserta aksi tidak hanya berencana menyampaikan orasi, tetapi juga menggelar aksi teatrikal dan pembacaan puisi sebagai bentuk ekspresi kritik sosial. Massa berasal dari berbagai unsur masyarakat yang tergabung dalam Aliansi Rakyat Memanggil.
Gejayan Kembali Jadi Titik Konsolidasi Gerakan Sipil
Pertigaan Gejayan telah lama menjadi salah satu simbol gerakan masyarakat sipil di Yogyakarta. Tradisi penyampaian aspirasi di kawasan tersebut terus berlangsung dari tahun ke tahun dan menjadi ruang pertemuan berbagai kelompok yang menyuarakan isu sosial, ekonomi, maupun politik.
Tahun ini, Aliansi Rakyat Memanggil kembali mengajak masyarakat untuk turun ke jalan melalui aksi yang dijadwalkan berlangsung mulai pukul 14.00 WIB hingga selesai.
Dalam seruan yang disebarkan kepada publik, aliansi tersebut mengajak masyarakat untuk bersatu menyuarakan aspirasi dan mengawal kondisi demokrasi yang dinilai menghadapi berbagai tantangan.
“Rapatkan barisan, saling jaga kawan di sebelahmu. Karena perubahan tidak lahir dari kepasrahan, melainkan dari keberanian kita memadati jalanan,” demikian isi seruan aksi yang beredar menjelang demonstrasi.
Mahasiswa UGM Lakukan Persiapan Sebelum Aksi
Ketua Serikat Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM), Mesa, mengatakan persiapan aksi telah dilakukan melalui konsolidasi yang digelar di Kantin Fakultas Filsafat UGM atau Bonbin UGM pada Jumat (12/6/2026).
Menurut Mesa, sekitar seratus mahasiswa dari berbagai fakultas mengikuti pertemuan tersebut untuk membahas teknis pelaksanaan demonstrasi.
“Sekitar seratus mahasiswa dari berbagai fakultas di UGM berkonsolidasi membahas teknis unjuk rasa,” kata Mesa.
Ia menjelaskan, peserta dari UGM direncanakan berangkat dari Bundaran UGM menuju Pertigaan Gejayan dengan berjalan kaki menempuh jarak sekitar tiga kilometer.
Massa Akan Bawa Sejumlah Tuntutan
Aliansi Rakyat Memanggil telah merumuskan sejumlah tuntutan yang akan disampaikan dalam aksi tersebut. Salah satunya adalah meminta pemerintah menghentikan program makan bergizi gratis yang dinilai rawan korupsi serta mengkritisi program koperasi desa merah putih yang dianggap menyimpang dari prinsip ekonomi rakyat.
Selain itu, massa juga berencana mendesak pencabutan Undang-Undang Tentara Nasional Indonesia (UU TNI) dan Undang-Undang Kepolisian Republik Indonesia (UU Polri).
Aliansi turut menyoroti pentingnya perlindungan terhadap kebebasan berekspresi, berkumpul, dan berserikat. Mereka juga akan menyuarakan tuntutan terkait pendidikan gratis, layanan kesehatan, pemulihan kesejahteraan ekonomi masyarakat, perlindungan hak buruh, serta penurunan harga bahan pokok dan bahan bakar minyak nonsubsidi.
“Tekanan ekonomi dan berbagai proyek bermasalah pemerintah yang lekat dengan korupsi menyatukan gerakan,” ujar Mesa, Sabtu (13/6/2026).
Kelompok Sipil Sebut Kondisi Sosial Ekonomi Jadi Pemicu Aksi
Selain mahasiswa, aksi tersebut juga akan melibatkan sejumlah jaringan masyarakat sipil, termasuk Forum Cik Di Tiro. Kelompok non-partisan tersebut sebelumnya telah melakukan konsolidasi bersama berbagai elemen masyarakat menjelang pelaksanaan demonstrasi.
Perwakilan Forum Cik Di Tiro, Rachma, menilai kondisi ekonomi dan sosial politik menjadi salah satu alasan yang mempertemukan berbagai kelompok dalam satu gerakan.
“Kenaikan harga BBM nonsubsidi dan anjloknya nilai tukar rupiah menyatukan jaringan lintas kelompok, dari mahasiswa, buruh, hingga pekerja rumah tangga,” kata Rachma.
Menurut dia, berbagai persoalan yang berkembang saat ini telah mendorong munculnya kekhawatiran di kalangan masyarakat.
“Situasi sosial politik yang memburuk makin darurat,” ujarnya.
Aksi yang akan berlangsung di Pertigaan Gejayan tersebut diperkirakan diikuti mahasiswa dan berbagai elemen masyarakat sipil yang membawa isu ekonomi, demokrasi, serta perlindungan hak-hak warga sebagai fokus utama tuntutan mereka kepada pemerintah.























