Headline.co.id, Jakarta ~ Nilai tukar rupiah mengalami pelemahan dalam beberapa bulan terakhir, yang tidak hanya disebabkan oleh fluktuasi mata uang, tetapi juga mencerminkan penyesuaian ekonomi nasional di tengah ketidakpastian global, dinamika perdagangan internasional, dan meningkatnya kebutuhan pembiayaan domestik. Fakhrul Fulvian, Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia, menilai bahwa langkah Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 basis poin menunjukkan komitmen kuat untuk menjaga stabilitas makroekonomi. Namun, ia menegaskan bahwa kebijakan moneter saja tidak cukup untuk memperkuat rupiah.
“Bank Indonesia sudah bergerak lebih dahulu. Tantangan berikutnya adalah memastikan seluruh instrumen kebijakan ekonomi bergerak dalam arah yang sama. Penguatan rupiah membutuhkan dukungan fiskal yang kredibel, pasar keuangan yang sehat, strategi neraca pembayaran yang jelas, dan kepercayaan investor yang kuat,” ujar Fakhrul dalam keterangannya, Jumat (5/6/2026).
Fakhrul menyarankan lima langkah strategis yang perlu dilakukan secara simultan untuk menjaga stabilitas rupiah secara berkelanjutan. Langkah pertama adalah normalisasi fiskal secara bertahap. Ia menekankan bahwa penyesuaian fiskal bukan berarti menghentikan pembangunan atau melakukan penghematan ekstrem, tetapi memastikan prioritas belanja negara tetap sehat dan berkelanjutan. Program strategis pemerintah, seperti Program Makan Bergizi Gratis (MBG), tetap penting secara sosial, namun efektivitas dan efisiensinya perlu dievaluasi untuk dampak ekonomi yang optimal.
Langkah kedua adalah memperbaiki struktur pasar obligasi melalui normalisasi kurva imbal hasil. Fakhrul menyatakan bahwa kondisi pasar saat ini belum sepenuhnya mencerminkan tingkat risiko dan prospek ekonomi jangka panjang sebagaimana lazim di negara berkembang. Kurva imbal hasil yang lebih sehat diyakini dapat meningkatkan daya tarik aset Indonesia di mata investor global dan memperkuat aliran modal masuk.
Strategi ketiga adalah mengurangi ketergantungan pada instrumen stabilisasi jangka pendek dan memperdalam pasar keuangan domestik. Instrumen seperti Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) efektif dalam meredam gejolak pasar, namun pasar keuangan yang lebih likuid dan mampu menarik investasi secara alami diperlukan dalam jangka panjang. “Kita membutuhkan pasar keuangan yang semakin dalam dan kompetitif sehingga mampu menjadi magnet bagi modal global,” ujarnya.
Selanjutnya, Fakhrul menilai pemerintah perlu memberikan kepastian arah strategi neraca pembayaran nasional. Kejelasan kebijakan terkait hilirisasi, pengelolaan devisa, dan penguatan sektor ekspor menjadi faktor penting bagi investor dalam menentukan keputusan investasi. Implementasi PT Danantara Sumber Daya Indonesia (DSI) dapat menjadi instrumen penting jika mampu meningkatkan transparansi perdagangan komoditas, memperkuat devisa hasil ekspor, dan memberikan kepastian bagi pelaku usaha. “Pasar membutuhkan gambaran yang jelas mengenai bagaimana Indonesia menjaga penerimaan devisa dan memperkuat posisi eksternal dalam lima hingga sepuluh tahun mendatang,” jelasnya.
Strategi terakhir yang dinilai paling fundamental adalah membangun kembali kepercayaan pasar melalui komunikasi kebijakan yang konsisten dan terkoordinasi. Fakhrul menekankan bahwa persepsi investor terhadap arah kebijakan sering kali memiliki pengaruh yang sama besar dengan indikator ekonomi itu sendiri. “Pasar dapat menerima kebijakan yang sulit, bahkan yang tidak populer sekalipun. Tetapi pasar sangat sensitif terhadap ketidakpastian,” ujarnya.
Koordinasi yang kuat pemerintah, Bank Indonesia, otoritas keuangan, dan berbagai lembaga ekonomi menjadi faktor penting untuk memperkuat keyakinan pelaku pasar terhadap arah ekonomi nasional. Fakhrul menegaskan bahwa Indonesia memiliki fondasi ekonomi yang cukup kuat. Tantangan saat ini bukan hanya menjaga stabilitas, tetapi memastikan seluruh kebijakan ekonomi saling mendukung sehingga proses pemulihan dan penguatan rupiah dapat berlangsung lebih cepat. “Rupiah yang kuat pada akhirnya lahir dari kepercayaan. Ketika kebijakan fiskal, moneter, investasi, dan strategi ekspor bergerak dalam satu arah, tekanan terhadap nilai tukar akan berkurang secara alami,” pungkasnya.






















