Headline.co.id, Jakarta ~ Siswa SD Negeri 11 Pegasing, Aceh Tengah, kini harus belajar di tenda darurat setelah bangunan sekolah mereka rusak parah akibat tertimbun tanah dan tertimpa pohon. Dari sebelas ruang kelas yang ada, sembilan tertutup material longsor hingga beberapa meter, sementara dua lainnya roboh. Kondisi ini tidak hanya merusak gedung, tetapi juga mengganggu rasa aman bagi para guru dan siswa.
Di tengah keterbatasan ini, harapan mulai tumbuh dengan kehadiran 50 mahasiswa dari STIH Muhammadiyah Takengon, Aceh Tengah. Mereka terlibat dalam Program Mahasiswa Berdampak, yang diinisiasi oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisantek). Para mahasiswa ini tidak hanya membantu proses belajar, tetapi juga menghadirkan pendekatan yang lebih humanis. Mereka mengajak siswa bermain, menggambar, bernyanyi, mengikuti permainan tradisional, hingga memperkenalkan kesenian khas Aceh untuk memulihkan semangat dan rasa percaya diri anak-anak.
Suhartini, dosen pembimbing lapangan program tersebut, menegaskan bahwa kehadiran mahasiswa bukan sekadar menggantikan peran guru, tetapi menjadi bagian dari proses pemulihan psikologis siswa pascabencana. “Program ini bertujuan memastikan anak-anak tetap mendapatkan layanan pendidikan sekaligus membantu pemulihan psikologis mereka. Kehadiran mahasiswa membantu mengembalikan semangat belajar siswa meskipun sarana masih terbatas,” ujarnya dalam keterangan tertulis yang diterima , Selasa (17/2/2026).
Kepala sekolah Yusrizal mengakui bahwa kegiatan belajar mengajar belum berjalan optimal karena jumlah tenda yang tersedia masih terbatas. Saat ini, proses pembelajaran harus dibagi menjadi sesi pagi dan sore agar seluruh siswa tetap bisa mengikuti pelajaran. “Akibat bencana ini, kegiatan belajar mengajar sementara dilakukan di tenda darurat,” tuturnya.
Meskipun sederhana, tenda-tenda tersebut menjadi ruang harapan. Anak-anak perlahan kembali berani belajar dan berinteraksi setelah melewati pengalaman traumatis. Aktivitas seni dan permainan tradisional terbukti mampu mengalihkan rasa takut mereka sekaligus membangun kembali semangat untuk bangkit.
Andrean Ramadhan, koordinator lapangan mahasiswa, mengatakan bahwa pengalaman terjun langsung ke lokasi bencana memberikan pembelajaran berharga bagi mahasiswa, terutama dalam membangun empati dan kepedulian sosial. “Respons dan antusiasme anak-anak sangat baik, terutama saat mengikuti kegiatan seni dan permainan tradisional. Hal ini menunjukkan semangat mereka untuk kembali belajar dan bangkit dari kondisi yang mereka alami,” katanya.
Program Mahasiswa Berdampak tidak hanya menjaga keberlangsungan pendidikan di wilayah terdampak, tetapi juga menjadi ruang pembelajaran nyata bagi mahasiswa untuk berkontribusi langsung kepada masyarakat. Kemdiktisaintek menegaskan, program ini merupakan bagian dari komitmen memperkuat peran pendidikan tinggi dalam membantu pemulihan masyarakat sekaligus memastikan layanan pendidikan tetap berjalan, khususnya bagi peserta didik di daerah bencana.






















