Headline.co.id, Jakarta ~ Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) memperkenalkan pendekatan baru dalam Konsolidasi Nasional Pendidikan Dasar dan Menengah Tahun 2026 melalui pameran pendidikan yang menampilkan simulasi kebijakan strategis. Acara ini bertujuan agar para pemangku kepentingan dapat memahami dan merasakan langsung implementasi kebijakan pendidikan nasional.
Pameran ini berlangsung pada 9–11 Februari 2026 di Pusat Pelatihan Sumber Daya Manusia (PPSDM) Kemendikdasmen Jakarta dengan tema “Memperkuat Partisipasi Semesta Wujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua”. Acara ini menampilkan 24 stan pameran dan gerai layanan terpadu serta diikuti sekitar 900 peserta dari seluruh Indonesia.
Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Fajar Riza Ul Haq, menegaskan bahwa pameran ini bukan hanya untuk memamerkan capaian, tetapi juga sebagai sarana pembelajaran kebijakan yang konkret dan partisipatif. “Sudah banyak capaian dalam satu tahun terakhir. Yang baik perlu ditunjukkan, tetapi yang lebih penting adalah dapat dicoba langsung oleh para pemangku kepentingan pendidikan,” ujar Fajar, Senin (9/2/2026).
Salah satu inovasi utama dalam pameran ini adalah simulasi interaktif kebijakan pendidikan. Peserta dapat mencoba langsung berbagai program yang akan diterapkan secara nasional. Simulasi pertama adalah Tes Kemampuan Akademik (TKA) di stan Badan Standar dan Asesmen Pendidikan (BSKAP). Melalui platform “Ayo Coba TKA”, peserta dapat merasakan langsung bentuk soal yang akan digunakan pada pelaksanaan TKA pada April 2026.
Perwakilan BSKAP, Fajri Ansari Kistiawan, menjelaskan bahwa TKA bukan penentu kelulusan, melainkan alat ukur kemampuan murid untuk evaluasi diri dan peningkatan kualitas pembelajaran. Pendekatan ini mendapat respons positif dari peserta, seperti Umi Kulsum dari Balai Bahasa Provinsi Riau yang menilai simulasi tersebut membantu memahami tujuan asesmen secara utuh.
Simulasi kedua menampilkan digitalisasi pembelajaran di kelas yang dihadirkan Direktorat SMP melalui rekonstruksi ruang kelas interaktif. Dalam sesi berdurasi 45 menit, pengunjung dapat melihat praktik pembelajaran dengan memanfaatkan Papan Interaktif Digital (PID) atau Interactive Flat Panel (IFP), platform Rumah Belajar, laboratorium maya, serta evaluasi berbasis gim edukatif.
Guru SMP Negeri 5 Cilegon, Nia Hanifah, menegaskan bahwa teknologi berperan sebagai penguat proses pembelajaran, bukan pengganti peran guru. Dengan kreativitas guru dan dukungan platform pemerintah, pembelajaran dapat menjadi lebih menarik dan bermakna. Simulasi tersebut juga memperkenalkan pembelajaran koding dan kecerdasan artifisial melalui Blockly Games.
Selain simulasi kebijakan, pameran ini menghadirkan tiga gerai layanan terpadu, yaitu Unit Layanan Terpadu (ULT), Layanan Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK), serta layanan informasi Sekolah Unggul Garuda. ULT memberikan ruang konsultasi dan pengaduan langsung, sementara layanan GTK menjadi salah satu gerai terpadat karena melayani konsultasi terkait Pendidikan Profesi Guru (PPG).
Informasi mengenai Sekolah Unggul Garuda juga menarik perhatian pengunjung, terutama komunitas pendidikan dari daerah. Pengunjung dari Taman Baca Masyarakat Alam Riang, Jombang, Zaki Hanin Nafillah, menilai informasi tersebut penting untuk membuka peluang pendidikan berkualitas bagi anak-anak di desa.
Konsolidasi Nasional Pendidikan Dasar dan Menengah 2026 diikuti berbagai unsur strategis, mulai dari pimpinan Komisi X DPR RI dan Komite III DPD RI, menteri dan kepala lembaga, hingga 76 kepala dinas pendidikan provinsi serta 514 kepala dinas pendidikan kabupaten/kota. Kegiatan ini juga melibatkan organisasi profesi, mitra pembangunan, atase pendidikan, dan pusat-pusat SEAMEO.
Selama tiga hari, peserta mengikuti sidang sembilan komisi yang membahas isu strategis pendidikan, seperti wajib belajar 13 tahun, digitalisasi pembelajaran, evaluasi TKA, penguatan pendidikan karakter, hingga pembelajaran mendalam, koding, dan kecerdasan artifisial. Melalui konsolidasi ini, Kemendikdasmen menegaskan komitmennya menyelaraskan arah kebijakan nasional dengan kebutuhan nyata di daerah. Kolaborasi pusat, daerah, dan mitra pembangunan diharapkan semakin kuat untuk menghadirkan sistem pendidikan yang adaptif, inklusif, dan berorientasi pada kualitas bagi seluruh anak Indonesia.




















