Headline.co.id, Jakarta ~ Dalam situasi bencana alam, perhatian publik sering kali terfokus pada kerusakan infrastruktur dan jumlah korban. Namun, kelompok rentan seperti perempuan dan anak sering kali terabaikan. Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Arifah Fauzi, bersama CEO Save the Children Indonesia, Dessy Kurwiany Ukar, membahas tantangan perlindungan anak di lokasi bencana dalam podcast “Sapa Sahabat Perempuan dan Anak” di Jakarta, Sabtu (7/2/2026).
Dessy Kurwiany Ukar mengungkapkan bahwa anak-anak di wilayah terdampak banjir di Sumatra dan Aceh menunjukkan resiliensi yang luar biasa. Meskipun kehilangan rumah dan sekolah, banyak dari mereka tetap berusaha bermain dan beraktivitas di pengungsian. Namun, di balik keceriaan tersebut, terdapat kegelisahan yang mendalam. “Anak-anak membutuhkan ruang untuk menyalurkan emosi mereka, seperti melalui kegiatan menyanyi, menggambar, dan bermain. Itu bagian dari proses pemulihan,” jelas Arifah.
Menteri PPPA menegaskan bahwa dampak psikologis akibat bencana sering kali menetap dalam memori anak, bahkan setelah situasi dinyatakan pulih. Selain trauma, terdapat risiko lain yang kerap luput dari perhatian, terutama di pengungsian. Beberapa di antaranya adalah keterbatasan kebutuhan spesifik perempuan, seperti hygiene kit dan pakaian layak pakai, minimnya fasilitas sanitasi terpisah laki-laki dan perempuan yang berpotensi meningkatkan risiko pelecehan, serta kurangnya ruang aman bagi anak untuk belajar dan bermain.
Sebagai langkah penguatan respons, pemerintah melalui kolaborasi lintas kementerian dan lembaga telah menerapkan sistem data terpilah di Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Data tersebut mencakup informasi spesifik mengenai jumlah anak, lansia, ibu hamil, dan ibu menyusui, sehingga bantuan dapat disalurkan secara lebih tepat sasaran. Di lapangan, pemerintah juga menghadirkan sejumlah solusi konkret, lain: Ruang Bermain Ramah Anak sebagai sarana pemulihan psikososial, dan Pos Sapa (Sahabat Perempuan dan Anak) yang berfungsi sebagai pusat edukasi, layanan pengaduan, sekaligus ruang aman bagi perempuan dan anak di pengungsian.
Arifah menegaskan bahwa hal-hal tersebut akan dikuatkan dengan koordinasi lintas sektor dan Pemerintah Daerah, agar menyiapkan model respons cepat penanganan pascabencana yang ramah bagi perempuan dan anak. Selain itu, menghadapi meningkatnya risiko bencana akibat krisis iklim global, KemenPPPA bersama Save the Children Indonesia menekankan pentingnya edukasi prabencana bagi anak dan orang muda. Kesiapsiagaan dinilai krusial agar anak memahami langkah yang harus dilakukan saat bencana terjadi. “Kita harus menjaga lingkungan dan tumbuhan kita agar bencana tidak terus berulang,” pesan Menteri PPPA, menegaskan pentingnya langkah pencegahan jangka panjang.
Masyarakat juga diimbau untuk tetap peka terhadap keselamatan perempuan dan anak di sekitar lokasi bencana. Jika melihat atau mengalami kekerasan, segera laporkan melalui Hotline SAPA 129 atau WhatsApp 08112-9-129-129. Melalui kolaborasi pemerintah, organisasi masyarakat, dan keluarga, perlindungan perempuan dan anak di situasi bencana diharapkan tidak lagi menjadi perhatian sekunder, melainkan prioritas utama dalam setiap respons kebencanaan.





















