Headline.co.id, Kota Gorontalo ~ Sepanjang tahun 2025, Provinsi Gorontalo mencatatkan pertumbuhan ekonomi yang positif dengan angka mencapai 5,71 persen. Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Gorontalo, Watekhi, menyatakan bahwa sektor Industri Pengolahan mengalami pertumbuhan tertinggi sebesar 16,36 persen. Pertumbuhan ini diikuti oleh sektor Transportasi dan Pergudangan yang tumbuh 10,46 persen, serta sektor Real Estate yang mencatatkan pertumbuhan sebesar 8,31 persen.
Meskipun pertumbuhan ekonomi Gorontalo tinggi, struktur perekonomian daerah ini masih didominasi oleh tiga sektor utama. Berdasarkan harga berlaku, sektor Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan menjadi kontributor terbesar terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) dengan porsi 36,82 persen. Sektor Perdagangan Besar dan Eceran, Reparasi Mobil dan Sepeda Motor menyumbang 14,68 persen, sementara sektor Konstruksi memberikan kontribusi sebesar 11,21 persen.
Dari sisi penciptaan sumber pertumbuhan, sektor pertanian memberikan kontribusi tertinggi sebesar 1,47 persen. Sektor perdagangan menyusul dengan kontribusi 1,12 persen, sedangkan Industri Pengolahan, meskipun mengalami pertumbuhan pesat, hanya menyumbang 0,69 persen terhadap pertumbuhan ekonomi daerah.
Pada triwulan IV-2025, perekonomian Gorontalo menunjukkan akselerasi dengan pertumbuhan tahunan (year-on-year) mencapai 6,12 persen. Pertumbuhan tertinggi secara kuartalan dicapai oleh Industri Pengolahan yang meningkat 24,80 persen, diikuti oleh Jasa Keuangan sebesar 21,48 persen, serta Pertambangan dan Penggalian yang tumbuh 16,01 persen.
Secara kuartalan (quarter-to-quarter), ekonomi Gorontalo pada triwulan IV-2025 tumbuh 1,53 persen dibandingkan triwulan III-2025. Pertumbuhan ini terutama didorong oleh peningkatan Pengeluaran Konsumsi Pemerintah sebesar 33,54 persen. Selain itu, Pembentukan Modal Tetap Bruto dan Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga juga menunjukkan pertumbuhan positif masing-masing sebesar 2,34 persen dan 2,24 persen. Namun, ekspor barang dan jasa mengalami kontraksi sebesar 9,15 persen, sementara impor yang merupakan faktor pengurang justru meningkat 9,66 persen.






















